A Long Journey [Oneshoot]


Seo Joohyun/Lu Han. | Romance. | Oneshoot. | PG-15.

Original by AdillaSB:

This cast request by Laila.

 Thanks for always support me. Glad if you like this story…

“Joohyun tidak menyadari, pertemuannya dengan sosok ini ibarat jawaban dari Tuhan. Namun,  ia tidak akan tahu itu jika tidak melakukan perjalanannya.”

Seo Joohyun memegang cangkir kertas berisi cokelat panas dengan kedua tangan dibalut sarung tangan rajut berwarna jingga. Kepulan asap yang keluar dari cokelat itu pun beradu dengan udara yang ikut keluar ketika ia menghembuskan nafas. Joohyun sedikit menyesali keputusannya kembali ke kota Paris pada bulan Februari, pada siang hari suhu udara bahkan dapat mencapai 18oC.

Ponts des Arts, tempat ini masih sama ketika ia menginjakan kaki untuk pertama kalinya sekitar dua tahun yang lalu. Joohyun tentu ingat betapa mengaggumkan tempat itu dimatanya. Jembatan Ponts des Arts mungkin terlihat sama dengan Namsan Tower, di Korea. Julukan yang melekat pada kota Paris sebagai kota romantis menjadi nilai tambah tersendiri ketika datang ke tempat ini.

Ribuan gembok berisi harapan dari setiap pasangan kekasih menggantung disetiap sisi besi penyangga jembatan. Harapan untuk menjadikan cinta mereka abadi selamanya. Entah darimana asalnya mitos konyol seperti itu, tapi tidak sedikit orang yang mempercayainya—termasuk Joohyun. Memorinya mulai memutar ulang kejadian itu. Valentine teromantis dalam hidup Joohyun; Tempat romantis, pemandangan yang tak kalah romantis, serta suasana romantis bersama orang yang ia kasihi. Berjalan-jalan mungkin sekedar hal yang biasa, tapi akan berbeda jika kau melakukannya dengan seorang yang kau kasihi. Dan begitulah yang Joohyun rasakan setahun lalu.

Joohyun mulai merasakan air mata yang sudah menggenang dipelupuk matanya. Ia tidak bisa terus mengingat hal menyakitkan itu. Ia bergegas mengalihkan pandangannya pada sisi kanan jembatan, mencari dua gembok berukuran 60 mm dengan tulisan tangan yang ditulis dengan tinta berwarna hitam. Gembok itulah yang menjadi satu-satunya alasan ia kembali ke Paris. Kota dengan sejuta kenangan—yang bersiap ia hapus dari pikirannya.

Joohyun sudah berjalan beberapa meter dan ia yakin gembok itu tidak berjarak jauh dari tempat ia berdiri. Namun, mencari satu gembok diantara kumpulan gembok lainnya ibarat mencari jarum diantara tumpukan jerami.

“Ada apa dengan ingatanku? Ah, dimana benda itu?” gumam Joohyun pada dirinya sendiri sembari memperhatikan satu demi satu gembok lain yang tergantung disana. Ia menyesali sifat pelupa yang ia miliki itu kerapkali merugikan dirinya sendiri.

Satu jam sudah berlalu dan ia belum berhasil menemukan apa-apa. Joohyun meringis, mulai merasakan pegal pada kedua kakinya.

“Ketemu!” Joohyun menyuarakan pikirannya dengan girang—begitupun suara lantang lain yang terdengar.

Tangan lain menggengam gembok cokelat itu. Sosok itu berdiri dihadapannya. Wajah oriental yang kental menunjukan bahwa ia pasti merupakan turis asing disini—sama seperti Joohyun. Tapi kenapa ia mencari gembok milik Joohyun?

Lu Han sudah hampir menyusuri setengah dari 155m panjang jembatan Ponts des Arts yang melintasi sungai Seine. Udara dingin mulai menyelinap dibalik coat cokelat yang menempel ditubuhnya. Bagaimana bisa ia berfikir untuk mengutarakan perasaan pada gadis dengan cara ‘semenyusahkan’ ini. Lu Han kembali mengutuk ide gilanya. Ia berada jauh dari sosok romantis yang diidolakan semua wanita, dan seharusnya ia menyadari itu.

“Aku sendiri lupa dimana menyimpan gembok itu, bagaimana ia bisa menjawabku dengan cara seperti ini? Bodoh!” gumam Lu Han. Matanya tidak lepas dari segerombolan gembok—yang mulai terlihat memuakan.

Mata Lu Han terpaku pada satu-satunya gembok dengan tulisan Hangul diatasnya, “Ketemu!” serunya lantang, menyuarakan batinnya. Bersamaan dengan itu, sosok lain muncul dihadapannya. Seorang wanita, dan ia menggenggam gembok milik Lu Han sembari menyuarakan hal yang sama.

Untuk beberapa detik mereka bertukar pandang. Ada hal serupa yang mulai Lu Han sadari; kalau gadis itu bisa membaca apa yang ia tulis—dengan huruf Hangul, mungkin saja ia adalah orang Korea.

“Maaf, tapi benda ini milikku,” kata Lu Han dengan bahasa Inggris.

Gadis dihadapannya terlihat kikuk, lalu memegangi tengkuknya yang dibalut syal berwarna jingga yang senada dengan sarung tangan yang ia kenakan. “Milikmu?” si gadis mulai bersuara dengan nada ragu.

Lu Han mengangguk, kemudian membalik benda berwarna cokelat itu.

‘With love, Lu Han.’

Begitu yang tertulis disana. Gadis itu menunduk, sisa rambut ikal yang tidak tertutup topi rajut tergerai sebatas dada. Bibir gadis itu bergetar. Matanya menatapi deretan kayu pijakan. Mungkin gadis itu kecewa. Sama halnya dengan Lu Han ketika mendapati tidak ada gembok lain yang menyantel pada gembok miliknya—yang ia pasang dua hari yang lalu. Ya, dua hari yang lalu adalah hari terpenting dalam hidup Lu Han. Pada hari itu ia memutuskan untuk mengungkapkan perasaannya kepada gadis yang sejak lama ia suka. Orang pertama yang ia kenal ketika menginjakan kaki di Paris. Gadis sederhana yang selalu bercerita kembali tentang novel romantis yang ia baca. Gadis sederhana yang selalu membuatnya melakukan hal manis yang sebenarnya tidak ia suka. Dan, gadis itulah yang juga membuatnya menelusuri ribuan gembok hanya untuk menemukan jawaban yang ia cari. Memikirkan bagaimana ia bisa menyukai gadis itu membuat hatinya merasakan bahagia dan terluka secara bersamaan.

Mata Lu Han kembali terpusat pada sosok dihadapannya, “Kau baik-baik saja?” tanya Lu Han, kali ini ia bicara dengan bahasa Korea.

Gadis itu mengangguk, “Maaf karena mengira benda itu milikku. Kau tahu, tidak banyak yang ‘menulisnya’ dengan Hangul.” Jawabnya, juga dengan bahasa yang sama dengan yang bertanya.

“Tidak masalah.”

Untuk beberapa detik Lu Han membiarkan jeda menyelinap diantara percakapan mereka. Ia bukanlah seorang yang mudah bergaul dengan orang asing. Namun, Lu Han cukup senang bertemu dengan rekan satu kebangsaan ditanah asing yang sudah ia tinggali dua tahun lalu.

“Seo Joohyun,” sahut gadis itu mengulurkan tangan.

“Lu Han, senang berkenalan denganmu.”

“Senang berkenalan denganmu juga,” gadis benama Joohyun itu kemudian membungkuk sebagai tanda hormat. “Sebaiknya aku pulang, besok akan menjadi hari yang panjang karena ‘tugasku’ belum selesai.” Joohyun memberikan sebuah senyum, sebelum akhirnya melangkah pergi setelah melambaikan tangan pada Lu Han.

Lu Han memperhatikan punggung yang berjalan semakin jauh itu. Coat hitam yang dibalut sabuk kulit tipis berwarna kecokelatan memperlihatkan pinggang ramping Joohyun, sementara boots dengan hak lima sentimeter membuatnya terlihat lebih tinggi. Ia akui, Joohyun adalah gadis yang menarik—karena fisiknya, tapi entah apa yang membuat Lu Han merasa perlu meluruskan sesuatu. Ada yang kurang dari sosok gadis itu…

“Joohyun,” panggil Lu Han agak berteriak.

Mendengar namanya dipanggil, Joohyun menghentikan langkah lalu menoleh kearah sumber suara. Lu Han masih berada disana—lima meter dari tempatnya berdiri.

“Joohyun, apa kau suka cokelat? Aku tahu kedai cokelat yang murah dan enak disekitar sini?”

Joohyun tidak tahu apa yang harus dikatakannya. Ia hanya melongo menatap Lu Han berusaha melihat apakah pria itu sedang bercanda atau serius. Pria itu hanya menatapinya tanpa berkata apa-apa lagi, sepertinya ia sedang menunggu jawaban yang akan keluar dari mulut Joohyun selanjutnya.

Joohyun mengangguk, sebelum akhirnya berjalan mendekat kearah Lu Han. Joohyun bergidik, “Apa yang aku lakukan dengan pria asing ini?” tanyanya pada diri sendiri.

“Dua cokelat panas,” kata Lu Han kepada pelayan tanpa menengok buku menu terlebih dahulu. “Jangan lupa tambahkan satu sendok gula,” tambahnya sebelum pelayan itu pergi meninggalkan meja mereka.

Joohyun melirik jalanan kota Paris dibalik jendela transparan disisi meja kedai tersebut. Kedai kecil dengan beberapa meja melingkar dan kursi yang terbuat dari kayu. Aroma cokelat dan kopi beradu memenuhi ruangan kedai. Hampir sebagian pengunjung adalah muda-mudi, dan banyak dari mereka yang tidak berwajah keeropaan. Mungkin kedai tersebut memang diperuntukan kepada mahasiswa-mahasiswa luar yang mengambil studi di Paris.

“Cokelat di Paris agak pahit. Apa kau juga mau menambah gula?” tanya Lu Han menawarkan.

Joohyun menggeleng, “Tidak, terimakasih. Aku tidak terlalu suka manis.”

Anyways, apa yang membawamu ke Paris? Hanya untuk mencari gembok itukah?”

“Bisa jadi begitu. Dua tahun lalu aku datang kesini bersama kekasihku. Ia meinggal setahun yang lalu, dan aku kembali kesini untuk menyelesaikan cerita kami. Ku pikir satu hal yang membuat hatiku terikat dengannya adalah janji kami pada gembok itu. Gembok yang kami pasang di jembatan Points des Arts. Kau tahu, mitos cinta-abadi?”

“Tentu, semua orang mengetahuinya. Itu alasan mengapa banyak orang berkunjung ke jembatan itu.”

“Percaya atau tidak, terkadang orang menyebutku gila. Bahkan aku memiliki daftar konsultasi dengan psikiater satu kali dalam dua minggu. Semuanya semata-mata hanya untuk membangun kembali hidup normal dan belajar menerima kepergiannya. Mungkin terdengar sedikit menyakitkan, tapi aku ingin melupakannya. Aku ingin hidupku kembali normal tanpa kenangan yang terus menghantui tidurku.”

Lu Han tidak bereaksi, sementara Joohyun masih bercerita. Ia sedang memperhatikan wajah kalut gadis dihadapannya dengan seksama. Nafasnya memburu, bibirnya bergetar, dan keringat meluncur bebas menelusuri pelipisnya. Udara dingin bulan Februari bagai terabaikan. Benar, wanita ini memang sedang depresi. Sama seperti yang ia ceritakan tentang dirinya sendiri.

“Maaf karena telah banyak berbicara,”

Pandangan Lu Han buyar ketika mata hitam Joohyun mulai beralih menatapnya, “Tidak, tidak. Aku suka mendengarnya, jika itu membuatmu merasa lebih baik. Aku tahu bagaimana rasanya kehilangan dan itu memang akan sulit bagimu. Tapi yakinlah pada dirimu sendiri kau bisa melewatinya—“

Pembicaraan mereka terhenti seketika, saat pelayan yang sama yang mencatat menu pesanan mereka datang dengan dua cangkir cokelat panas.

“Silahkan,” sahut Lu Han sebelum menyesap cangkir miliknya. “Apa cokelatnya enak? Ada banyak penjual cokelat disini, tapi lidahku hanya nyaman dengan kedai ini.” tambahnya lagi.

Joohyun tersenyum. Ia mungkin tidak sependapat tapi tidak juga menentang pendapat Lu Han. Baginya, semua cokelat memang rasanya seperti ini.

“Kau tinggal dimana?” tanya Lu Han, kembali mengangkat topik ringan. Kekakuan terlihat agak sedikit mencair setelah Joohyun bercerita barusan.

“Di Best Western Le Saint-Maurice Hotel.”

“Itu tidak jauh dari kediamanku. Sebuah apartemen kecil dengan dua puluh mahasiswa Korea yang juga bersekolah disini. Kau boleh berkunjung jika mau, kami suka membuat Kimchi setiap sabtu.” ajak Lu Han antusias, sembari sesekali menyesap cokelat miliknya.

Joohyun mengegeleng dua kali,“Menyenangkan sekali, tapi aku harus pulang dua hari lagi. Aku harap bisa merasakan itu di lain waktu,” tolak Joohyun halus. “Kalau aku boleh tau, alasan kau mencari—“

“Gembok?” potong Lu Han lalu terkekeh, “Mungkin akan terdengar memalukan, tapi aku sudah bersiap diri jika sewaktu aku menceritakan hal ini kau akan menertawaiku.”

“Baik aku bisa menahan tawa beberapa menit,” ejek Joohyun.

“Dua hari lalu aku membeli dua buah gembok. Salah satunya ku pasang di Ponts des Arts sementara gembok lain ku berikan pada seorang gadis yang aku sukai. Hari itu aku menyatakan perasaanku kepadanya. Ku bilang, jika ia menerima perasaanku silahkan menggantungkan gembok yang aku berikan pada gembok lain yang aku pasang di jembatan.”

“Oh betapa romantisnya—“ledek Joohyun, meletakan kedua tangan disisi dagunya. “Aku tidak mengira kau adalah orang yang romantis.”

“Tidak. Tidak. Aku hanya berusaha mengimbanginya saja. Ia adalah wanita penggila novel-novel romantis.”

“Lalu bagaimana kelanjutannya?aku tidak melihat sesuatu menyantel pada… Oh tidak. Dia menolakmu?”

Lu Han memamerkan deretan giginya, sementara kedua tangannya mengadah keatas. “Begitulah.”

I’m sorry to hear that,” sahut Joohyun menunjukan wajah menyesal.

“Tidak masalah, sungguh. Ini bukan akhir dari dunia. Mari minum kembali, jangan biarkan kesedihan merusak segalanya.”

Lu Han kembali menyesap cokelatnya hingga habis. Tanpa ia sadari, Joohyun hanya memainkan sendok dalam cangkir cokelatnya. Kalimat  Lu Han barusan ibarat mengiris hatinya. Sudah berapa banyak orang yang pernah mengatakan hal itu dihadapannya, namun sungguh ini yang sangat menyakitkannya. Mungkin saja karena ia mendengarnya dari seseorang yang baru saja ia kenal—yang tidak mengatahui dengan benar bagaimana yang ia rasakan. Joohyun melirik jam tangan yang melingkar dipergelangan tanganya. Jarum jam menunjukan pukul enam dan ia tidak menyadari dua jam yang berlalu begitu saja.

Joohyun menatap pria dihadapannya, pertanyaan yang sama muncul lagi dibenaknya. “Apa yang aku lakukan dengan pria asing ini?”

Joohyun menginjakan kakinya keluar Museum Lourve. Tubuhnya bergidik, betapa mengaggumkan 380.000 objek seni yang berada didalam bangunan segitiga itu. Museum Louvre adalah salah satu museum yang cukup terkenal dikota Paris. Disana kita dapat menemukan lukisan Monalisa dari seniman terkenal Leonardo Da Vinci juga patung Venus de Milo dari zaman Yunani kuno, maupun hasil karya seniman Eropa lainnya.Joohyun mengakui, ia bukanlah seorang pencinta lukisan atau seni, tapi tempat itu berhasil membuatnya takjub. Baginya, seniman adalah pekerjaan yang berat dan tidak semua orang bisa melakukan hal itu.

Joohyun berniat kembali ke jembatan Ponts des Arts untuk menyelesaikan alasan kembalinya ia ke Paris. Butuh waktu yang tidak sabentar untuk menyusuri ribuan gembok yang tergantung disana, dan Joohyun mampu menerima resiko terburuk itu.

“Jasa melukis, nona?” tanya seorang pria paruh baya yang menghampiri Joohyun tiba-tiba, dengan tas kain berisi perlengkapan melukis dan dua buah kanvas berukuran sedang dalam genggamannya.

“Tidak, terimakasih.” tolak Joohyun halus, sembari mengatupkan kedua tangannya sebagai permintaan maaf. Dipelataran Museum Lourve dapat dijumpai beberapa pelukis jalanan yang menawarkan jasa melukis. Namun, Joohyun tidak terlalu tertarik dengan hal-hal berbau seni macam itu. Ia mengunjungi Museum Lourve hanya untuk menyegarkan pikirannya dan sekedar berjalan-jalan.

“Jasa melukis, nona?” tanya seorang pelukis jalanan lain—dengan peralatan melukis serupa yang dibawa pria paruh baya sebelumnya.Joohyun hendak menolak, tapi suara orang ini berhasil menghentikan langkahnya. Ia belum lama mendengar suara seperti ini karena terkadang orang Asia mengucap bahasa Inggris yang berbeda.

“Lu Han?!” teriak Joohyun, tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Lu Han berdiri disisinya, dengan coat hitam dan topi rajut yang menutupi tiga perempat rambut pirangnya. “Sedang apa? Kau—“ Joohyun memotong kalimatnya untuk sekali lagi memperhatikan Lu Han dengan barang-barang yang ia bawa, “Pelukis jalanan?” sambung Joohyun kemudian.

“Apa begitu mengejutkan?” jawab Lu Han dengan sebuah pertanyaan lain. Lu Han mengangkat canvas—berukuran sedang yang ia bawa ditangan kanan—itu setinggi dada. “Jasa melukis, nona?”  tanyanya lagi.

Joohyun tertawa. Tawa pertama yang Lu Han lihat dari wajah polos gadis itu. Ia menyadari, hal yang kurang dari sosok Joohyun itu adalah tawanya. Dan, tawa itu berhasil membekukan dirinya untuk sekian detik. “Menanggumkan,” batin Lu Han memuji, namun otaknya tahu untuk tidak memerintahkan bibirnya berucap. “Akan aku beri gratis,” kata Lu Han membiarkan bibirnya beralibi.

“Benarkah? Baiklah…”

Lu Han menuntun Joohyun pada sebuah bangku kayu dibawah tiang lampu. Deretan bangku kayu itu berjajar disepanjang jalan. Sepertinya pemerintah setempat sengaja menyediakan benda itu sebagai peristirahatan para turis yang berkunjung.

“Jadi, kau ingin aku menggambar apa?” tanya Lu Han, sembari kedua tangannya sibuk memilah-milah perlengkapan melukis dalam tas kainnya.

“Apa saja yang bisa kau gambar,”

“Aku bisa gambar apapun, Joohyun.” tantang Lu Han, senyumnya mengembang.

“Baiklah, kau bisa menggambar pemandangan Museum Lourve?”

Lu Han mengalihkan pandangan dari berbagai perlengkapannya untuk menatap gadis disebelahnya. Sebelah alis Lu Han terangkat, “Pemandangan Museum Lourve? Yang benar saja. Aku hampir setiap hari menggambar pemandangan itu,” kata Lu Han sebelum akhirnya terkekeh.

“Kalau begitu sesuatu yang belum pernah kau gambar?”

Lu Han terdiam. Ada banyak sekali yang belum ia gambar, bahkan sebelumnya ia tak pernah benar-benar menggambar dirinya sendiri. Lu Han menertawai diri sendiri dalam hati. “Terlalu banyak,” batin Lu Han berbicara. Lu Han kembali menatap lawan bicaranya, “yang belum pernah aku gambar?” tanya Lu Han mengulang pertanyaan Joohyun.

Joohyun mengangguk. Kedua susut bibirnya tertarik membentuk sebuah lengkung.

“Aku belum pernah melukis pemandangan kota Paris yang langsung dilihat dari atas Eiffel.”

Kini sebelah alis Joohyun yang terangkat, “Ada yang lain?” tanya Joohyun ragu. “Sejujurnya aku belum pernah kesana, dan belum berminat untuk mengunjunginya.”

“Kau bercanda? Semua orang datang ke Paris untuk melihat Eiffel,” sahut Lu Han tidak percaya. Objek wisata itu adalah satu dari tujuh keajaiban yang diakui dunia. Bagaimana bisa seseorang yang tidak asing dengan kota Paris tidak pernah mengunjungi Eiffel tower. Mimikirkan hal itu membuat Lu Han berdecak heran.

“Aku memiliki fobia terhadap ketinggian,”

Lu Han tertawa, “Satu-satunya cara untuk menghilangkan fobia seseorang terhadap sesuatu adalah dengan mencoba melakukannya. Ayolah, temani aku. Kau akan mendapat pengalaman baru dan lukisan baru dari seorang masterpeace. Kau tidak akan menyesal.”

Joohyun terlihat ragu. Wajahnya tertunduk seakan menimbang-nimbang sesuatu. Sementara Lu Han seakan mengerti, dan membiarkan Joohyun untuk memikirkannya lagi. Ia tidak ingin memaksa Joohyun setelah ini, tapi ia akan sangat senang jika Joohyun dapat menerima tawarannya. “Akan sangat menyenangkan,” Lu Han kembali membatin.

“Bagaiman, Joohyun?”

Joohyun melangkahkan kakinya dibelakang Lu Han yang berjalan menuju deretan orang yang tengah mengantri untuk dapat naik kedalam menara setinggi 300 meter itu. Awan berkumpul bersiap mengganti warna langit menjadi kelabu. Banyak orang yang mengatakan waktu terindah menatap menara Eiffel adalah ketika menjelang malam. Menara besi itu akan diterangi dengan 352 proyektor 1.000 watts dan berkedip setiap setengah jam pada malam hari dengan 20.000 bola lampu dan 800 lampu disko. Agar terlihat hidup, empat buah lampu laser xenon berkekuatan 60.000 watts dibuat berputar secara permanen dipuncak menara. Membayangkannya saja sudah begitu menakjubkan.

“Joohyun, apa kau lapar? Di tingkat pertama terdapat restoran Altitude 95. Kalau kita beruntung, kita bisa makan disana.” kata Lu Han ditengah aktivitas mengantri mereka. Antrian sepanjang dua meter itu bisa dibilang tidak terlalu padat ketimbang biasanya.

Joohyun tak menjawab. Keraguan tergambar jelas diwajahnya.

“Kau baik-baik saja?” tanya Lu Han, khawatir.

Joohyun mengangguk,“Boleh aku memegang tanganmu?” tanyanya pada Lu Han.

Lu Han mengarahkan tangannya kearah Joohyun, lalu mengadah—menunggu telapak tangan Joohyun menyambutnya. Tanpa ragu Joohyun segera menggenggam Lu Han, kencang. “Kau dingin sekali, apa kau gugup?” tanya Lu Han sebelum akhirnya tertawa. “Baiklah, baiklah. Aku tidak tega melihatmu seperti ini,” kata Lu Han lalu menuntun Joohyun keluar antrian.

Joohyun menatap Lu Han dengan sebelah alis yang terangkat, kerut dikeningnya dapat mengisyaratkan tanda tanya atas apa yang dilakukan Lu Han kali ini. Lu Han tersenyum, “Disebrang menara ini ada sebuah taman dengan air mancur—Trocadero. Eiffel akan tetap indah dilihat dari manapun.” Sambungnya.

Kini senyum mengembang juga diwajah Joohyun, tanda kelegaan. Ia tidak bisa memaksakan ketakutannya terhadap ketinggian, walaupun sudah berusaha keras. Joohyun beruntung pria asing—yang tengah menggenggamnya, dapat membaca isyarat keraguan yang tak dapat ia suarakan. “Maaf,” batin Joohyun berbicara.

Sesampainya didekat air mancur, Lu Han menuntun Joohyun pada sebuah bangku kayu yang terletak tidak jauh dari sana. Gemerlap lampu Eiffel yang baru dinyalakan menambah indah pemandangan taman itu. Lu Han mengeluarkan perlatan seperti kuas dan beberapa cat. Tidak butuh waktu lama, Lu Han sudah siap dengan perlengkapan melukisnya lalu segera menggores kuas yang sudah dicelupkan dalam tinta hitam kedalam canvas.  Lambat laun canvas tersebut tak lagi putih. Gabungan bebebrapa warna itu sudah hampir menunjukan wujudnya.

Joohyun menatap Lu Han—hal yang sering ia lakukan ketika Lu Han tidak sedang memperhatikan—membiarkan pria itu berkonsentrasi pada lukisannya. Tanpa sadar senyum kembali menghiasi wajahnya. Langit mulai berubah warna. Joohyun melempar pandangan pada jam tangan miliknya. Lagi-lagi pria yang baru saja ia kenal ini membuatnya melupakan waktu dan segalanya.

Segalanya…

Termasuk rencananya untuk kembali ke Ponts des Arts untuk mencari gembok miliknya.

Joohyun menata kembali barang-barang yang sudah ia letakan didalam koper berukuran besar. Beberapa kantong berisi barang pesanan ibunya juga sudah ia rapihkan. Waktu menunjukan pukul dua belas siang. Artinya dua jam lagi ia akan meninggalkan kota romantis bernama Paris untuk kembali ke kehidupan nyatanya di Seoul.

Joohyun melirik layar ponselnya yang tengah bergetar. Sebuah pesan dari Ibunya sudah menanti untuk dibaca. “Kau sudah menemukan gembok itu?” kata Joohyun menyuarakan apa yang tertulis dilayar ponselnya.

Semilir angin masuk melalui jendela hotel yang dibiarkan terbuka. Memikirkan bagaimana sosok pria yang baru dua hari ia kenal itu membuat bibirnya membentuk lengkung dengan sendirinya. Perjalanan singkat itu menyita waktunya—yang seharusnya ia fokuskan untuk menemukan gembok itu. Dan, secara tidak langsung mengubah hidupnya lagi. Entah apa yang membuat penyesalan sama sekali tidak Joohyun rasakan, justru sebaliknya.

Kini pandangan Joohyun mengedar pada seluruh sudut kamar hotelnya, dan bermuara pada sebuah lukisan yang tergeletak diatas sofa berwarna putih disisi ranjang. Joohyun mengambil lukisan itu, memandanginya sekilas lalu meletakannya didalam tas koper, sebelum akhirnya menutup koper tersebut.

Joohyun merasa sudah siap. Langkah kaki keluar hotel terdengar mantap ditelinganya. Ia sudah memesan taksi untuk menjemputnya dan mengantarnya menuju bandara. Beberapa menit yang lalu taksi tersbut sudah tiba. Joohyun dapat melihatnya dari jendela kamar hotel yang masih ia biarkan terbuka.

“Selamat siang, nona. Kau terlambat satu jam,” sambut seorang pria ketika Joohyun telah menginjakan kakinya keluar pintu hotel. Joohyun mengenal pemilik suara itu.

“Lu Han?” teriak Joohyun mendapati sosok yang hadir disana—disisi supir taksi yang mengenakan seragam hitam lengkap. “Sedang apa kau disini?” tanya Joohyun, terkejut.

“Kau bilang pesawatmu akan berangkat pukul satu siang, maka aku bergegas berlarian untuk datang kesini menunggumu keluar hotel.” Lu Han berdeham sebelum melanjutkan kalimatnya, “Dan kau membuatku menunggu hampir satu jam.”

Joohyun tertawa, tidak percaya dengan apa yang keluar dari mulut lawan bicaranya. “Untuk apa?”

“Aku hanya ingin mengantarkan ‘hadiah’ ini.” Lu Han memberikan bungkusan besar berbalut kertas berwarna putih. “Kau boleh membukanya ketika sudah tiba di Seoul,” tambahnya.

“Terimakasih,” sahut Joohyun. Tak lupa satu senyum ia berikan untuk Lu Han, untuk keirngat yang mengaliri pelipisnya. Beberapa detik keheningan menyergap mereka, sampai akhirnya bunyi klakson taksi sudah berkumandang. Dan, supir taksi itu tanpa sadar sudah berada didalam.

Lu Han melirik taksi disisinya, kedua bahunya terangkat. Ia mengambil koper milik Joohyun dan menyimpannya kedalam bagasi taksi tersebut tanpa perintah. “Sampai jumpa, Joohyun.” katanya dengan nada yang rendah. Lu Han menunjuk taksi tersebut sebagai perintah Joohyun untuk segera masuk.

Joohyun membaca isyarat itu dan masuk kedalam taksi kemudian segera membuka jendelanya lalu melambai pada Lu Han. Mesin taksi sudah terdengar menyala. Mobil itupun perlahan berjalan meninggalkan hotel, sekaligus meninggalkan Lu Han yang masih pada posisinya.

Joohyun merasa kepalanya agak sedikit pusing. Ia melirik jam dan jendela yang menempel dikamarnya secara bergantian. Joohyun sudah menghabiskan enam jam untuk beristirahat, sepertinya perjalanan pulang ke Seoul sehari yang lalu begitu membuatnya kelelahan. Joohyun bergegas bangkit dari ranjangnya menuju toilet untuk membersihkan wajahnya.

“Kau sudah bangun, putri tidur?” tanya seorang wanita empat puluh tahun, ketika mendapati Joohyun keluar dari toilet dengan sebuah handuk berwarna putih melingkar dilehernya. “Ibu sudah menyiapkanmu beberapa makanan, kemarilah.” sambung wanita tersebut.

Joohyun segera menghampirinya, “Kelihatannya enak. Teirimakasih, bu.” kata Joohyun, memberikan sebuah kecupan dipipi kiri wanita yang ia panggil ibu tersebut sebagai tanda terimakasihnya. Joohyun memilih duduk pada salah satu bangku yang melingkari meja maka kayu itu, sementara ibunya masih berdiri dan mengaduk beberapa makanan yang terhidang diatas meja tersebut.

“Udara diluar tiba-tiba dingin dan angin berhembus agak kencang. Oleh karena itu, ibu membuatkanmu sup ayam ini.”

Aroma lezat menyerbu penciuman Joohyun. Jelas ia tidak sabar untuk menyicipinya. Joohyun mengusap kedua lengan, sepertinya suhu memang terasa lebih dingin walaupun pemanas ruangan tetap menyala. Suhu dingin ini tiba-tiba mengingatkan Joohyun pada kota Paris beberapa hari yang lalu.

“Bu, bisa minta tolong buatkan aku cokelat panas?”

“Tentu,”

“Jangan lupa tambahkan satu sendok gula,”

Ibu Joohyun menghentikan langkahnya menuju dapur, melirik putri kesayangannya dari balik punggungnya. “Ku pikir kau tidak suka manis?”

“Sepertinya aku mulai menyukainya, bu.”

“Oh, aneh sekali.” gumam Ibu Joohyun pelan, bahkan hampir tak terdegar oleh Joohyun sendiri. “Baiklah kalau begitu.” sambungnya lagi kemudian kembali meneruskan langkahnya menuju dapur.

Joohyun memandangi jendela disisi ruang makan keluarganya itu. Jendela yang langsung menghadap ke sebuah jalanan dan beberapa rumah. Entah sejak kapan ia suka memandangi jendela. Dua hari lalu jendela memberikan pemandangan yang berbeda dimatanya. Bangunan tinggi dengan arsitektur yang indah, khas kota Paris. Tiba-tiba ingatan Joohyun berhenti pada sosok pria oriental yang baru ia kenal. Pria dengan coat dan terkadang mengenakan topi rajut yang menutupi sebagian rambut pirangnya. Pria yang membawanya melukis pemandangan Eiffel pada malam hari. Pria yang menyukai tambahan gula pada cokelat panasnya. Pria yang memberinya hadiah.

Hadiah? Joohyun baru ingat bahwa ia belum membuka hadiah yang diberikan Lu Han dihari terakhirnya dikota Paris itu. Joohyun bergegas kembali menuju kamar tidurnya, mencari bungkusan dibalut kertas putih itu diantara tumpukan barang-barang yang ia belum bereskan setibanya ia di rumah. Tidak memerlukan waktu yang lama untuk mencari, akhirnya Jooyun menemukannya. Tanpa berpikir panjang ia merobek bungkusan tersebut dan mendapati sebuah lukisan didalamnya. Lukisan wajahnya, lengkap dengan tawa yang manis yang bahkan ia tidak percaya tawa semanis itu bisa terlihat dari wajahnya.

“Terimakasih untuk perjalanan singkatnya. Paris. Februari.  Lu Han.” Joohyun membaca catatan pada pojok bawah sebelah kanan dari lukisan tersebut. Dan disana tertulis pula sebuah alamat email. Joohyun tertawa membacanya, lalu bergegas mengambil laptop miliknya yang sebelumnya tergeletak diatas meja belajar.

Ia membuka email. Menuliskan alamat yang tertera dalam lukisan tersebut pada kotak ‘To’. Kemudian mengetik beberapa kata dalam pesan yang hendak ia kirim.

“Kau pintar sekali, Lu Han.

Terimakasih atas hadiahnya. Aku tidak percaya bahwa aku terlihat secantik itu dalam lukisanmu.

Terimakasih juga perjalanan singkat-nya, dan senang berkenalan denganmu.”

Joohyun menggerakan kursor untuk menekan tombol ‘Send Email’. Lagi-lagi pria itu berhasil membuatnya melupakan waktu dan segalanya—termasuk ibunya yang sudah menunggu ia menyantap sup dan cokelat panas buatannya. Perjalanan singkat di kota Paris mungkin telah berakhir, tapi perjalanan lain seperti menunggu untuk dimulai.

Joohyun memandangi lukisan dirinya sekali lagi. Harapan untuk mendapatkan kehidupan normal dan menghapus kenangan buruknya sepertinya bersiap terkabul. Joohyun tidak menyesali keinginannya mencari gembok di Ponts des Arts yang tidak terpenuhi, karena semua itu seakan dipenuhi dengan sendirinya oleh waktu. Dan, Joohyun percaya itu.

Sekarang perjalanan panjang telah menanti. Dan, sepertinya ia sudah menemukan siapa yang akan menemani perjalanannya.

THE END

6 thoughts on “A Long Journey [Oneshoot]

  1. fictnya bagus kak🙂 lama banget deh gak baca fict yg castnya seohyun, dan aku gak nyesel baca fict ini🙂 walau sebenarnya kurang sreg sama pairnya (maaf, aku seokyu shipper), tp it’s ok laaah, fict ini bagus baik dr segi bahasa, konsep crita🙂 jadi menurutku pantes dikasih apresiasi🙂
    aku suka genrenya romance fluffy” gituuu😀 konfliknya ringan dan maniiiiiiiis, love it❤ aku juga suka gaya nulisnya, ngalir gitu aja🙂 gak tau krn pengaruh mood yg lagi baik atau apa, tp aku enjoy bacanya, sukaaa❤
    last, terus semangat buat berkarya ya, kak🙂

  2. Eonnie,huaaaaaaa,ini ff nya bagus banget.sumpah deh.
    Mian eon,aku baru baca sama coment sekarang.kemarin2 sibuk ospek nih T.T *curhat keke
    Eon,emang selalu bagus ffnya.
    Bahasanya keren,alurnya juga keren,pokoknya keren.
    Makasih banyak eon udah publish.
    Kalo boleh minta sequel eon😀 *plak
    Aku tunggu karya selanjutnya❤

  3. Anyeeeooooooong…. reader baru nih baru datang,, Keita Imnida🙂
    Kirain seohyun bakalan sama si chubbyKyu, eh tau2nya si imut luhan♥♥♥♥♥♥
    Suka sama quote nya si Luhan “jangan biarkan sedih merusak segalanya” itu benar banget tuh, nice ff deh, author nya kreatif ya (y)

  4. Bagus bgt thor ff nya ^_^ fell nya kerasa bgt ^_^ so sweet ^_^ ini baru di mulai kan ??? Ada sequel dong thor ^_^ hehe good job (y) keep writing !!! Semangat !! Hihihihi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s