Remember Me (Part. 10/Ending)


Seo Joohyun/Cho Kyuhyun/Jung Yonghwa & The others cast. | Romance & Friendship | PG-15.

Original by AdillaSB:

WARNING: YANG BACA WAJIB KOMEN YA. SEBAGAI WUJUD APRESIASI TERHADAP FF INI.

Part. 10:  “Besok aku sudah pulang dari sini, sebelum itu aku ingin menghabiskan sehari bersama kalian penyelamatku. Apa kalian bersedia?” pinta Joonhyuk.

Kyuhyun menutup pintunya.

Berbohong memang menguras banyak tenaga; untuk apa lagi selain berfikir alasan terlogis yang dapat mempertahankan argumennya. Berdebat dengan anak kecil bukan hal yang mudah, tentu mereka memiliki segudang alasan—yang bahkan tidak masuk akal— tapi begitulah anak-anak, pikiran mereka hanya dipenuhi dunianya yang serba instan dan berakhir sesuka hatinya. Karena juga begitulah yang dipertontonkan dalam dongeng anak-anak.

Kyuhyun menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Entah harus disebut sial atau beruntungkah ia sekarang. Bertemu dengan Seohyun tentu merupakan salah satu keinginan terbesarnya—yang juga seukuran dengan keinginannya untuk melupakan gadis itu.

 

Bagaimana Joonhyuk? Apa aku membuatnya percaya?

 

Send. Pesan yang tertuju pada kontak yang sudah beberapa bulan bahkan tidak ia intip sekalipun. Kyuhyun merebahkan dirinya pada salah satu sofa yang terdapat dikamar hotelnya seraya menunggu ponsel dalam tangannya itu bergetar tertanda adanya  pesan balasan.

Dan, tidak berapa lama.

 

Mungkin ia terlihat tidak yakin. Tapi kau tidak perlu khawatir, aku akan mengajaknya berjalan sebentar. Mungkin itu dapat membuatnya lebih baik.

Kyuhyun menghela nafas sebagai rasa syukur mengenai satu kebohongannya yang terselesaikan dengan lancar. Ia menyadari perbuatannya yang memang sedikit keterlaluan—menjadikan tugas sebagai alasan—  menolak permintaan bocah kecil yang mengajaknya bermain sekedar untuk membalas budi atas pertolongannya tempo hari. Bukankah itu termasuk niat baik? Ya, menolak niat baik seseorang dengan tidak baik tentu tidaklah baik pula.

Ah, rumit! Berfikir seperti itu membuat ia semakin tak enak hati. Lupakanlah, anggap semuanya selesai dan peristiwa hero kemarin hanyalah rangkaian dari kegiatan berliburnya. Selesai.

Lantas sekarang apa yang akan ia lakukan?

Kyuhyun berniat membuka laptopnya sebelum ia tersadar bahwa memang tidak ada yang akan ia kerjakan dengan barang itu. Ia tentu ingat, tugas hanya merupakan dalihnya dan mengapa ia harus benar-benar melakukannya? Bodoh! kutuknya dalam hati. Dan sekarang ia benar-benar terjebak dalam kamar; menyelesaikan sehari full sisa liburannya dengan berjalan mengitari ruangan yang ukurannya bahkan tidak melebihi ukuran lapangan tenis.

Dan tak perlu diragukan lagi, inilah yang disebut si-al.

Seohyun mengayunkan tangan kecil dalam genggamannya.

“Aku tahu kau kecewa, tapi sudahlah. Kyuhyun pasti mengerti niat baikmu dan sepertinya ia memang tidak bermaksud menolakmu. Ayo tersenyumlah anak manis.”

Joonhyuk memberikan seulas senyum. Terlihat bukan senyum ikhlas memang, tapi cukup menambah satu point dibandingkan membiarkan wajah bocah itu tertekuk seharian.

“Lalu apa yang akan kita lakukan? Kau memiliki beberapa jam sebelum bibi datang kesini dan mencurimu dariku.” Tanya Seohyun ramah—berusaha ramah lebih tepatnya.

“Hm,” Joonhyuk berdeham, matanya menerawang keatas seolah sedang mengilustrasikan rancangan kegiatan yang akan ia lakukan setelah ini. Seohyun memerhatikannya sekali lagi, menunggu jawaban darinya sekaligus berdoa agar tidak ada lumpur dan katak dalam daftarnya.

“Fish World atau taman bermain?” Joonhyuk memberi pilihan.

“Ah, keduanya juga boleh. Apapun yang ingin kau kunjungi.” Seohyun memilih menurut selama permintaan Joonhyuk masih senormal itu.Ya, melihat-lihat ikan dalam akuarium raksasa ataupun menaiki wahana-wahana anak memang bukan kegiatan yang membosankan juga lagipula ia tidak memiliki daftar kegiatan yang pasti akan dilakukannya hari ini, dibanding hanya berjemur dan menikmati lukisan alam—yang menjadi kegiatan rutinnya disini—pilihan itu memang cukup menarik.

“Keduanya. Boleh?”

“Tentu saja.” Seohyun mempererat genggamannya. “Yang mana yang lebih dahulu?” tanya Seohyun sebelum melanjutkan perjalanannya.

“Fish World yang terdekat, itu saja.” Seohyun menuntun Joonhyuk menuju Fish World yang berada diujung pantai dan berjarak hanya lima belas menit jika ditempuh dengan berjalan kaki.

Untunglah tak terjadi antrian panjang, sehingga dalam waktu lima menit setelah tiba tiket sudah berada dalam genggaman. Joonhyuk melangkah masuk lebih dahulu, disusul Seohyun yang masih tertahan oleh petugas yang memintanya untuk menunjukan tiket.

“Hebat!” Joonhyuk takjub, terbukti dari sorot matanya yang jelas menunjukan kekaguman pada pemandangan disekelilingnya yang penuh dengan…

Air! Ya, air dimana-mana. Layaknya menyelam tanpa tabung oksigen, kita seolah menatap langsung dengan kehidupan dasar laut yang menakjubkan. Bahkan ketika kita berjalan seperti terdapat lalu lintas antar air yang juga ramai dengan penghuninya. Siapa lagi kalau bukan spesies ikan, dan hewan laut lain yang mondar-mandir entah sedang apa. Seakan mereka mengetahui kehadiran manusia, mereka telah siap menunjukan atraksi terbaiknya. Berlenggak-lenggok didalam balutan warna biru yang cerah dan latar padang terumbu karang yang telah disusun oleh Arsitek alami.

Seohyun juga tidak dapat menyembunyikan kekagumannya. Walau memang bukan pertama kalinya ia menginjakan kaki ditempat seperti ini, namun tetap saja kekayaan dasar laut memang selalu membuat orang tercengang seberapa seringpun melihat tetap saja. Cantik!

Untuk beberapa saat pemandangan itu cukup menyita perhatian Seohyun dan Joonhyuk sebelum atraksi ‘berenang dengan beberapa hiu’ mengalihkan mereka.

“Wow, keren sekali!” Joonhyuk bertepuk tangan mengikuti penonton lain yang juga memberikan tepuk tangan pada sang aktor.

Jika harus mengakui dengan jujur, Seohyun memang tidak terlalu tertarik dengan hal seperti ini—bukan karena tidak suka tapi ia hanya takut jika terjadi sesuatu yang mengerikan dan ia harus melihatnya.

“Apa Hiu tidak akan menjadikan paman itu sebagai santapannya?”

“Sepertinya tidak, mereka tentu sudah dilatih se—“

“Mengapa hiu itu menurut saja?”

“Hebat, paman itu terlihat seperti menungganginya.”

“Bagaimana bisa? Apa aku dapat masuk untuk ikut serta? Sepertinya menyenangkan dibandingkan hanya menonton saja.” Joonhyuk memborong pertanyaan yang bahkan Seohyun tak diberi waktu untuk menjawabnya.

“Noona, aku benar-benar ingin melakukannya!” Joonhyuk meraih tangan Seohyun dan menariknya perlahan, dengan nada suara yang sedikit merengek.

“A-apa maksudmu, Joonhyuk?” jawab Seohyun gugup. Situasi seperti ini diluar kendalinya, bahkan diluar dugaannya. Sepertinya ia harus membenarkan teori yang menyatakan bahwa anak akan tertarik dengan apapun yang ditangkap oleh matanya, baik itu masuk akal atau tidak. Dan siapapun yang mencetuskan teori ini, ia pasti sudah mengurus banyak spesies macam Joonhyuk.

“Antar aku! Bagaimana cara aku masuk?”

“Aku tidak yakin kau bisa melakukannya.”

“Mengapa tidak?”

“Entahlah. Hanya saja kau harus tahu bahwa hiu sedikit sensitif dengan bau anak-anak. Ia akan mengenali hal itu sebagai…” Seohyun menghentikan kalimatnya, menambahkan kesan menakutkan pada jawaban karanganannya. “Santapan. Apa kau benar-benar yakin? Aku tentu bisa menurutimu, tapi aku hanya tidak ingin kehilanganmu secara tragis.” Dalih Seohyun dengan kerut kekhawatiran yang tampak jelas diwajahnya. Ia patut diacungkan jempol karena actingnya itu.
“Menakutkan sekali.” Joonhyuk mulai mengendurkan pegangannya, pertanda keantusiasan-nya yang telah memudar. Seohyun bernafas lega karenanya.

Sepertinya beberapa jam kedepan akan tercipta banyak dongeng baru dari Seohyun. Sekedar persiapan jika Joonhyuk memulai permintaan lain yang lebih aneh lagi.

Taman bermain, tempat tujuan Seohyun & joonhyuk yang terakhir.

Yah, cukup disayangkan tempat tujuan akhir mereka cukup ramai sehingga untuk masuk pun perlu mengantri terlebih dahulu. Wajar saja akhir pekan merupakan waktu yang paling menyenangkan untuk berkunjung ketempat seperti ini.

“Ramai sekali.” Gerutu Seohyun. Ia memasang kacamata yang mengantung pada kantung kemejanya—Keramaian membuat matahari berjarak beberapa meter lebih dekat.

Seohyun menghela napas panjang, Ia bukan tipe orang yang menyukai keramaian seperti ini bahkan untuk tempat umum seperti perpustakan ia pasti memilih spot paling damai yang tidak banyak dilalui banyak orang. Yah, kadang keramaian cenderung membuat kita ling-lung. Terlalu banyak orang juga dapat membuat sesak, jelas karena setiap orang mesti mendapat porsi oksigen yang cukup bagi dirinya masing-masing.

“Joonhyuk, apa yang ingin kau naiki lebih dulu?” tanya Seohyun pada Joonhyuk yang asyik membaca peta dari Taman Bermain tersebut. Ada sekitar lima belasan wahana yang tersedia ditempat ini, mulai dari yang menyenangkan sampai yang membuat mual.Kalau boleh Seohyun memilih sendiri, tempat ini bukan termasuk dari salah satu daftar tempat yang ia ingin kunjungi dalam liburannya. Seohyun bergidik memikirkannya; Ia heran mengapa ada saja orang yang ingin datang ketempat seperti ini mengingat disinilah isi tubuhmu diaduk-aduk, tubuhmu diputar layaknya daging panggang dan keluar dengan rambut yang berdiri tegak seperti seseorang yang telah disengat listrik bertegangan tinggi.

“Pertama? Chairswing?”

“Ah, kau mau naik itu?” Seohyun mengusap tengkuknya—dengan enggan akhirnya ia membuka juga map yang rencananya akan ia buang seketemunya ia dengan tempat sampah.

Chairswing. Seohyun membaca judul pada lembar kedua belas itu. Tipenya mirip dengan ayunan kayu, yang berbeda hanya kita akan diputar dan melayang seperti sedang terbang—begitulah yang ia baca. Seohyun menyayangkan pilihan pertama Joonhyuk yang sepertinya akan membuat isi perutnya keluar. “Kenapa tidak memilih wahana yang ringan saja, seperti boom-car!” Seohyun membatin.

3-D Cinema atau Ghost House Rider? Sepertinya itu lebih menyenangkan sebagai awalan.” Seohyun memberikan opsi lain—dan berharap dapat merubah keputusan bocah itu.

Joonhyuk terlihat sedang menimbang-nimbang, “kau benar. Ghost House Rider saja.” Kali ini Seohyun merasa menang telah membuat Joonhyuk berubah pikiran— paling tidak wahana pertama tidak akan membuatnya bolak-balik ke kamar mandi saking mualnya.

Mereka berjalan mengikuti petunjuk dari papan informasi. Dan tibalah mereka pada wahana tujuan pertama mereka; Ghost House Rider. Wahana tersebut serupa dengan rumah hantu ditaman bermain anak-anak biasanya—sekumpulan orang dengan make-up dan kostum hallowennya berteriak teriak menakuti pengunjung rumah tersebut dengan teriakan dan rupanya. Yang berbeda, setiap pengunjung tidaklah berjalan kaki untuk memasuki tiap sudut rumah melainkan menaiki mini-coaster yang didesain layaknya gerobak reot usang.

“Ayo noona, aku sudah tidak sabar!” Joonhyuk masuk mendahulinya, dengan berani ia memilih gerbong terdepan sekaligus kursi paling awal. Ya mau bagaimana lagi? Seohyun menurut saja. Walau pada faktanya, ia tidak dapat lagi merasakan jantungnya yang sedang beradu cepat membayangkan berapa banyak sadako yang akan keluar nanti.

Satu, dua, tiga ruangan rumah hantu tersebut sudah dilewatinya dengan nyawa yang tersisa dan ia dapat bertaruh enam ruangan terakhir akan menghabiskan seluruh nyawanya sekarang. Kalau bukan karena adanya Joonhyuk disini ia pasti sudah menjerit bahkan menangis saking takutnya. Ternyata memang ia harus meralat kalimatnya barusan; ia memang menang karena merubah pikiran anak itu mengenai wahan pertama yang akan mereka kunjungi namun Seohyun sendirilah yang membawa dirinya dalam jebakan yang justru melukainya sendiri.

Bodoh.

Seohyun merapihkan rambutnya yang basah akibat cipratan air, kemudian menyatukan semuanya untuk dikuncir kuda. River rapid baginya tidak kalah menyeramkan; Dalam perahu karet berbentuk bulat itu terdapat enam buah kursi yang saling berhadapan—kita hanya tinggal duduk yang manis dan melewati jalur sungai tersebut selayaknya bermain arum jeram. Sisi menyebalkannya adalah karena selagi perahu karet tersebut melaju,benda itu juga memutar dan membuat sang penumpang pusing karena kecepatannya yang tidak lambat.

“Noona, kau tidak apa-apa?”

Joonhyuk memperhatikan Seohyun yang sedang memegang kedua pelipisnya. Tidak ingin membuat Joonhyuk khawatir Seohyun memilih berdalih, “Tidak, jangan khawatir. Baru segitu…” Seohyun tidak ingin melanjutkan kalimatnya—takut itu akan menjadi malapetaka lagi baginya.

“Syukurlah karena setelah ini aku ingin kita menaiki Bucking bull—sejenis rodeo mini”

“Ah?” kali ini Seohyun kalah telak.

Tunggu. Sepertinya belum.

“Lihat itu! Motion Simolator, keren sekali.” Seohyun menunjuk pada permainan roket yang berada disisi kirinya. Dari luar memang terlihat menarik dan cukup mencuri perhatian karena antriannya yang panjang—dan bersyukurlah karena batas usia wahana tersebut hanya sampai 15 tahun sehingga memberi waktu untuk Seohyun beristirahat sebentar.

“Hey, benar! Mengapa mereka tidak memasukannya dalam peta.”

Kali ini Seohyun setuju dengan Joonhyuk, mengapa wahana seaman ini tidak tercantum dalam Map? Apa ini yang namanya strategi? Tapi untuk apa pula disembunyikan dan hanya memperlihatkan wahana-wahana yang menyeramkan? Ah, tapi pasar memang menyukai sesuatu yang memacu adrenalin—untuk itulah mereka kesini.

“Aku mau naik itu, tapi sebelumnya aku haus noona.”

“Mau minum?” Seohyun memberi tawaran.

Joonhyuk mengangguk. “Kamu tunggu disini sebentar, aku kesana membeli minuman.” Seohyun menunjuk sebuah kedai minuman yang berada disebrang tempat mereka berdiri.

“Baiklah,” jawab Joonhyunk menuruti.

Seohyun berjalan kearah kedai tersebut, melintasi orang-orang yang berlalu lalang diantaranya. Ah, yang benar saja! Keramaian membuat jarak yang hanya satu meter menjadi dua kali lipat lebih jauh.

“Selamat siang, apa pesanan anda?” Sapa pelayan kedai tersebut dengan senyuman hangat.

“Dua buah Banana Milkshake.”

“Ada lagi?” tanyanya sopan.

“Hm,” Seohyun menimbang-nimbang sebentar, mungkin Joonhyuk perlu sedikit cemilan untuk menganjal perutnya. “satu cup besar Caramel corn,”

“Dua Banana Milkshake dan Caramel Corn ukuran besar?” Pelayan tersebut menyebutkan pesanan Seohyun sekedar memastikan apa yang dicatatnya adalah benar, kemudian berlalu meninggalkan Seohyun dan kembali beberapa menit setelah itu dengan nampan dipenuhi apa yang telah dipesan Seohyun tadi.

“Terimakasih dan selamat bersenang-senang.” sautnya lagi ketika memberikan uang kembalian dan menyerahkan kantong berisi pesanan Seohyun.

Drttttt.

Seohyun merasakan sesuatu yang bergetar disakunya. “Halo?” sapanya setelah menekan tombol hijau pada ponselnya.

“Seohyun, ini Bibi. Apa Joonhyuk baik-baik saja? Ia tidak menyusahkan kalian, bukan?”

“Tentu saja tidak bi, Joonhyuk disini baik-baik saja. Kami baru selesai mengunjungi Fish World dan sekarang kami berada ditaman bermain utnuk bersenang-senang kembali.”

“Maaf merepotkan mu, Seohyun. Mungkin Bibi akan terlambat menjemputnya, pukul tiga kami baru akan tiba dihotel. Mohon bantuan untuk menjaga Joonhyuk lebih lama.”

“Tidak masalah, bi. Sungguh.”

“Syukurlah, terimakasih banyak Seohyun.”

Seohyun menutup sambungan setelah memberi salam. Mungkin memang tidak masalah bermain dengan bocah 9 tahun itu lebih lama. Seohyun merasa sedikit terbiasa dengan Joonhyuk, dan harus ia akui Joonhyuk bukan tipikal anak yang merepotkan. Ia hanya terlalu pintar dan memiliki keingintahuan yang tinggi, ya itu merupakan hal positif.

Seohyun berbalik ketempat ia meninggalkan Joonhyuk tadi, didepan wahana Motion Simolator yang hendak Joonhyuk masuki setelah ini. Tempat itu terletak di sebuah perempatan yang disebrangnya persis terdapat papan petunjuk besar dengan tempat sampah berwarna hijau dibawahnya.

Tunggu. Ia menghentikan langkahnya.  “Apa ada yang salah?” Seohyun menyuarakan batinnya. Ia memutar otaknya berusaha mengingat dimana tempat ia meninggalkan Joonhyuk tadi. Beberapa tempat ditaman bermain ini memiliki spot yang serupa.

Ah, tapi sepertinya ia memang tidak salah. Disinilah tempatnya.

Lalu apa yang terjadi dengan Joonhyuk? Dimana dia?

“Hilang? Bagaimana bisa?” tanya Kyuhyun bingung.

“Sejam yang lalu Seohyun-noona meninggalkan aku untuk membeli minum. Dan pada saat itu aku melihat dompet seseorang terjatuh, karena kasihan pada orang tersebut aku berniat untuk menolongnya. Namun setelah berhasil mengembalikan dompet pada pemiliknya, aku malah kehilangan Seohyun-noona dan tersesat.” Terang Joonhyuk menjelaskan.

Untung saja Joonhyuk ingat bahwa ia sempat bertukar nomor ponsel dengan Kyuhyun sebelum mereka pergi, tapi mengapa baru terpikirkan olehnya untuk menghubungi Kyuhyun-hyung sekarang  sementara ia sudah memutar taman bermain ini selama hampir satu jam? “Ah, Seohyun-noona tentu akan sangat khawatir.” Serunya dalam hati.

“Joonhyuk, kau ada dimana sekarang?”

“Taman Bermain,”

“Bisakah kau beritahu aku detailnya. Begini, kau lihat sekitarmu dan beri aku petunjuk sehingga aku bisa menemukanmu dengan mudah. Mengerti?”

Joonhyuk mengangguk—walau percuma saja Kyuhyun pasti tidak akan bisa melihatnya—pertanda ia mengerti, “Aku tepat berada dikedai minuman bernama Di-no Blast.” Joonhyuk mengeja apa yang ditangkap matanya walau pelafalannya masih sangat buruk.

“Jangan beranjak kemana pun, aku akan menyusulmu. Tunggu.”

Kyuhyun segera mematikan sambungan telepon setelah mendapat intruksi. Kemudian segera menyambar kemeja putih yang berada dilemari dan memakainya asal.

Sebelum keluar dari kamar hotelnya, ia sempat terpaku sebentar—sesuatu memang mengganjal, semntara ia pergi berlibur berniat melupakan wanita yang dicintainya mengapa sekarang mereka selalu dipertemukan? Apa benar ini hanya kebetulan? Atau bahkan pertanda bahwa ia memang tidak boleh melupakan wanita itu? Kyuhyun mengusap kasar rambutnya, banyak pertanyaan yang tak terjawab dan membuat pikirannya benar-benar ingin meledak.

“Duh, apa yang aku pikirkan? Buang-buang waktu saja, bodoh! Mereka membutuhkanmu sekarang, biarlah mereka terjawab seiring berjalannya waktu.” Sugesti yang diberikan Kyuhyun pada dirinya sendiri berhasil membuatnya mengurungkan niat untuk berhenti. Benar saja, ada yang membutuhkanmu disana. Ingatlah.

“Informasi, telah hilang seorang anak berusia sekitar sembilan tahun bernama Lee Joon Hyuk dengan ciri-ciri tinggi sekitar 120cm, memakai kemeja berwarna biru,celana tanggung selutut dan topi berwarna putih. Jika ada yang menemukan anak dengan ciri-ciri tersebut, harap melapor pada penjaga terdekat atau membawanya kepusat informasi. Terimakasih.”

Totalnya; tadi merupakan panggilan kelima yang diudarakan melalui pengeras suara. Seohyun benar-benar kehabisan akal untuk mencari Joonhyuk ditengah keramaian seperti ini. Satu-satunya harapan memang hanya informasi ini—berharap beberapa jam kemudian seseorang datang dengan Joonhyuk dalam genggamannya.

Seohyun menggigit ujung kukunya; sebagai sarana pelampiasan dari rasa khawaitnya dibandingkan ia berteriak histeris sambil menangis seperti wanita yang gila karena kehilangan anaknya. Untunglah ia masih bisa mengendalikan fikirannya dan tidak gegabah.

Sekarang jam menunjukan pukul dua; itu berarti sudah sekitar dua jam pula Joonhyuk tidak ada kabar.  Bagaimana ia akan menjawab telepon dari bibi kalau sampai sekarang pun ia bahkan tidak mengetahui keberadaan bocah itu dan keadaannya—apa ia dalam keadaan hidup atau mati? Oke, itu terlalu berlebihan Seohyun. Tenangkan dirimu. Seohyun menyuarakaan batinnya yang bergejolak.

Drttt.

Seohyun merasakan ponselnya yang bergetar. Dan pada saat yang bersamaan tubuhnya seakan mendingin. “Bibi?” Seohyun meutup layar ponselnya—tidak ingin melihat siapa diujung sana.

“Joonhyuk baik-baik saja bi, kami hanya terpisah beberapa jam. Ah, tidak! Bibi, Joonhyuk dan aku akan menaiki wahana sebelum akhirnya dia menghilang. Ah, sama saja! Joonhyuk memang sempat hilang bi, tapi aku akan mencarinya. Kau jangan khawatir…” Seohyun menghela nafas setelah rangkaian kata yang ia susun agar terdengar rapih terdengar penuh dengan kebohongan yang nyata. Ia tentu dapat merasakan ponselnya yang telah bergetar hampir lima menit itu.

“Aigoo. Bagaimana ini?” Seohyun siap menekan tombol hijau pada ponselnya sebelum satu kata yang ditangkap matanya dalam layar ponsel tersebut—Kyuhyun. “Ah, mengapa dia menelepon disaat seperti ini?” gerutu Seohyun meletakan kembali ponsel kedalam saku jeansnya.

“BISAKAH TIDAK MENGGANG—“

“Aku bersama Joonhyuk,” potong Kyuhyun.

“A-apa? Kau? Bagaimana bisa?” Seohyun tercengang, darahnya yang bersiap naik turun kembali.

“Joonhyuk menghubungiku, nanti akan aku ceritakan. Kau dimana sekarang? Aku akan menyusul.”

Seohyun menutup telepon setelah memberitahu persis tempatnya berada . Ia sudah bisa bernafas lega karena Joonhyuk ternyata berada ditangan yang aman. Namun, buruknya kenapa ia harus dipertemukan lagi dengan—kau tahu siapa yang dimaksud Seohyun mengusap wajahnya. Apa sesulit inikah melupakan sesorang bernama Kyuhyun itu? Sampai-sampai seisi dunia serasa enggan menyetujuinya.

Jam menunjukan pukul tiga kurang dua puluh menit ketika Kyuhyun tiba bersama Joonhyuk dalam genggamannya. Segera Seohyun menyambar tubuh mungil itu dan langsung memeluknya—seperti sudah berhari hari ia kehilangan wajah ceria bocah laki-laki yang telah berkeringat ini.

Seohyun masih mendekap seraya menumpahkan air matanya, “Kau kemana saja?” Seohyun mengusap rambut Joonhyuk lembut. Bagaimana pun ia memang sangat khawatir mengeni Joonhyuk.

“Noona, maafkan aku.”

“Tidak masalah, asal sekarang kau sudah kembali. Aku lega sekali.”

“Aku benar-benar menyesal. Maaf.”

Seohyun mengangguk, “ terimakasih tuhan, akhirnya kau mempertemukan kami.” Seohyun menyuarakan kelegaannya.

“Kau harus berterimkasih pada Kyuhyun-hyung juga noona, dia yang membantuku.”

Seohyun mematung ketika mendengar nama yang disebut Joonhyuk. Ia mengarahkan pandangannya pada pria itu—Kyuhyun dengan senyumnya yang sulit dideskripsikan yang sedari tadi berada disi mereka memperhatikan, “Terimakasih.” Mereka berjabatan tangan, dan suasana canggung itu terjadi lagi.

“Waeyo hyung? Mengapa kaku sekali?” tanya Joonhyuk polos.

“Ah, tidak. Sekarang apa kalian mau pulang? Kebetulan aku membawa mobil.” Kyuhyun mengusap tengkuknya. Ini hanya tawaran bukan berarti sesuatu yang lebih—tanpa sadar masing-masing dari mereka mensugesti hal yang sama dalam pikirannya.

“Tidak, ter—“

“Bagaimana kalau kita berjalan-jalan sebentar?” potong Joonhyuk sebelum Seohyun menyelesaikan kalimatnya.

“Apa?” jawab Kyuhyun danSeohyun serentak.

“Hyung, kau tidak sedang terburu-buru kan?”

Pada akhirnya mata itu memang harus saling bertemu, Kyuhyun menatap Seohyun dengan tatapan meminta jalan keluar—yah, dia memang tidak bisa menolak.

“Benar, mengapa tidak berjalan-jalan bersama kami sebentar?” pinta Seohyun dengan sedikit enggan. Ia memang tidak bisa menyalahkan Joonhyuk mengenai masalah ini, Joonhyuk tentu tidak mengerti—bahkan tidak peduli dengan urusan dan masa lalu mereka karena permintaannya hanyalah menghabiskan waktu dengan penyelamatnya; tidak lebih.

Kyuhyun sekali lagi melayangkan tatapan bertanya pada Seohyun. Lantas apa yang akan ia jawab?

Seohyun berhenti melihat wahana yang ditunjuk Joonhyuk. Mini-coaster memang bukan wahana yang menakutkan karena itu diperuntukan untuk anak-anak, rutenya pun tidak semenyeramkan dan sepanajnh jalur roller coaster pada umumnya.

“Ayolah noona, aku ingin sekali naik.” Joonhyuk hampir merengek meminta Seohyun ikut serta.

“Ah, tidak terimakasih. Aku hanya tidak ingin rambutku berantakan.” Seohyun memilih berdalih.

“Apa kau takut, noona?” goda Joonhyuk.

“Tidak.” Seohyun terkekeh, “Mana mungkin aku takut. Jangan bercanda!” Seohyun mengibaskan tangan kanannya.

“Lalu?”

Sejenak suasana hening.

“Aku mengerti kalau memang kau takut. Baiklah, aku dan hyung akan naik. Jangan menyesal noona.”

“Joonhyuk, siapa bilang aku takut?” Seohyun tertawa—kali ini jelas terlihat keraguan dibalik sorot matanya, “ Aku ikut!” tantang Seohyun.

Seohyun hendak menyusul Joonhyuk— yang berjalan lebih dahulu sebelum tangan Kyuhyun meraihnya, “Kau yakin?” tanya Kyuhyun ragu. Ia tentu mengerti benar bagaimana gadis dihadapannya ini.

“Kau juga berfikir aku takut?”

“Bukan begitu. Hanya saja ka—“

“Memangnya aku terlihat ketakutan?hhh kau bercanda? Mana mungkin.”

Kyuhyun tersenyum, “Lucu sekali. Kau tidak perlu berbohong seperti itu.” Kyuhyun mengusap kedua pipi Seohyun dengan ibu jarinya.

Untuk alasan itu Seohyun mematung sebentar; satu skinship membuat batas yang menghalangi mereka selama ini sedikit memudar. Ia tentu bisa saja berontak ketika sentuhan itu membuat pipinya berubah warna, tapi harus diakui Seohyun memang menikmatinya.

“Seohyun, mau sampai kapan kau disitu?” Kyuhyun menyadarkan Seohyun dari lamunannya .

“WAAAAAA~”

Bak paduan suara setiap orang yang berada dalam mini-coaster tersebut berteriak serentak.

Seohyun memilih menutup mata dan menutup mulutnya. Karena takut? Tentu saja. Mini coaster itu berjalan dengan kecepatan yang tidak lambat walau jalur yang dilaluinya masih dalam batas wajar. Ia tentu dapat mendengar tawa girang dari Joonhyuk yang duduk diantaranya dan Kyuhyun, namun angin yang berhembus itu hampir menusuk kulitnya dan membuat rambutnya yang diikat itu sedikit tertarik kebelakang.

“Apa ini?” Seohyun merasakan sesuatu yang menggengam tangan kanannya—yang sekaligus membuat detak jantungnya seratus kali lipat lebih cepat. Ia tentu mengetahui siapa pemilik tangan kekar ini.

Dua menit berlalu ketika katrol itu berhenti memutar.

Seohyun memilih membuka matanya; Kyuhyun dengan senyum khasnya membuat Seohyun lupa sedang apa ia sekarang. Matanya beralih pada dua tangan yang saling menggengam dibalik punggung mungil Joonhyuk yang asyik pada permainannya.

“Menyenangkan sekali,” Joonhyuk terdengar puas. “Masih banyak wahana alin yang menunggu kita!” seru Joonhyuk riang kemudian menerobos keluar lebih dahulu.

Sedangkan Seohyun?

Kyuhyun menuntun Seohyun keluar dari gerbong dengan tangan yang masih pada posisi yang sama—untunglah Joonhyuk tidak menyadari apa yang terjadi diantara keduanya.

Tiba-tiba keberaniannya benar-benar terkumpul pada saat itu; Seohyun merasa sanggup melewati wahana semenyeramkan apapun asal tangan ini tetap terkait satu sama lain.

Ups. Apa yang ia bicarakan? Seohyun mengutuk kelalaiannya. Beberapa cuplikan masalalu yang melintas seketika dipikirannya membuat pertarungan antar batin dimulai.

“Yeay!” Seohyun, Kyuhyun dan Joonhyuk melakukan highfive setelah satu tembakan terakhir berhasil mengenai sasaran.

“Terimakasih, “ seru Kyuhyun ketika mendapati boneka beruang besar dalam genggamannya—sebagai imbalan dari permainan tadi.

“Untukmu,” Kyuhyun menyodorkan benda tersebutn pada Joonhyuk.

“Hyung, aku bukan wanita kenapa kau meberikan benda semacam ini? Berikan saja pada Seohyun-noona.”

“Uh?” tawaran Joonhyuk cukup masuk akal memang. Kyuhyun dapat menyaksikan wajah terkejut wanita yang baru disebut namanya tadi. “Apa-kau-mau?” Kyuhyun mengeja tiap katanya.

“Kau yakin tidak ingin ini Joonhyuk?” Seohyun beralih pada Joonhyuk yang segera menggeleng memberikan jawabannya. Boneka beruang itupun kini sudah beralih dalam pelukan Seohyun.

“Terimakasih,” saut Seohyun.

“Sama-sama, lihat kau mirip sekali.” Goda Kyuhyun seraya mengacak rambut Seohyun—yang dikuncir kuda itu lembut.

“Ya! Jahat sekali.” Seohyun hendak melayangkan pukulannya kearah pundak Kyuhyun sebelum tangannya berhasil mendarat dalam genggaman Kyuhyun—yang berniat menangkisnya.

Untuk sementara kedua tangan itu masih berkaitan satu-sama lain.

“Hyung?” tanpa disadari Joonhyuk memperhatikan keduanya. “Kau menyukai Seohyun-noona?” tanyanya polos.

Sontan pertanyaan itu membuat mereka saling menjauhkan diri, “Kenapa bertanya seperti itu?”

“Appa-ku selalu memandang Eomma seperti saat hyung memandang noona, mereka bilang seseorang yang saling jatuh cinta memiliki tatapan yang berbeda ketika melihat pasangannya.”

“Kau ini bicara apa? Mana mungkin, jangan bergurau.” Dalih Kyuhyun, “Ayo, selanjutnya kita mau kemana?”

Kyuhyun mengangkat joonhyuk dalam pelukannya dan berjalan lebih dulu, ia hanya tidak ingin menjadikan situasi anatara mereka tidak nyaman. Karena kau tahu—bagaimana momen seperti ini sulit ia dapatkan setelah sekian lama melewati perjalaann yang panjang.

“Waeyo? Kau tidak menyukaiku? Benarkah?” Seohyun angkat bicara. Pertanyaan itu tiba-tiba keluar dari mulutnya membuat Kyuhyun dan Joonhyuk menghentikan langkah mereka. “Bagaiman kalau aku yang menyukaimu?”

“Noona?”

“Maksudmu?”

Seohyun mengerjapkan matanya; menyadari perkataan yang keluar dari mulutnya begitu saja jelas membuat suasana terasa lebih panas dari sebelumnya.

“Ah, apa yang aku bicarakan? Maaf, lupankanlah.” Seohyun mengutuk kebodohannya(lagi), benar saja ia memang tidak dapat berada di sisi Kyuhyun lebih lama lagi. Pikirannya benar-benar tidak dapat diajak berkompromi.

“Noona, kau menyukai Kyuhyun-hyung?”

“Kau pasti cemburu ya, Joonhyuk? Jangan khawatir dia milikmu sepenuhnya.” Kyuhyun mengerti situasi yang terjadi—tergambar dari sorot mata Seohyun yang seakan berbicara demikian. Ia memang perlu mengalihkan perhatian Joonhyuk sebelum ia memborong pertanyaan aneh lainnya.

Cantik. Pantai lebih indah dilihat dari atas sini. Bianglala raksasa itu memutar sangat lambat seakan mengerti keinginan pengunjung yang asyik menikmati pemandangan matahari yang bersiap kembali kedalam peristirahatannya.

“Bagaimana Joonhyuk cantik, bukan?” tanya Kyuhyun.

“Dia lelah,”Seohyun menujuk kearah Joonhyuk melalui isyarat matanya. Joonhyuk tertidur menyampir pada lengan Seohyun, terlihat sekali ia memang lelah. Mungkin sama halnya dengan Seohyun, Joonhyuk pasti sudah berkeliling untuk mencarinya tadi. Kasian sekali,pikir Seohyun.

Seohyun membentuk senyum puas. “Aku senang semua berakhir seperti ini, terimakasih atas bantuanmu.”

Kyuhyun menjawab dengan seulas senyum pula. “Masalah tadi, aku minta maaf membuat situasi menjadi rumit—“ sambung Seohyun.

“Lupakan saja. Jangan khawtir tentang itu, bukan masalah.”

“Ya, aku sedang berusaha melupakannya. Ini menjadi sangat sulit.”

“Aku mengerti. Terlepas dari masalah itu, aku senang sekali menghabiskan wakut bersamamu hari ini.”

“Lucu sekali, kita dipertemukan lagi disini. Terlepas lagi dari apa yang pernah terjadi diantara kita, aku juga menikmati hari ini bersamamu. Terimakas—“

“Bisakah kau juga meluapakan sesuatu dimasalalu itu?” Kyuhyun menyuarakan apa yang dari tadi mengganggu pikrirannya. Bagaimanpun masalah diantara mereka memang harus diselesaikan.

Merasa obrolan mereka keluar dari topiknya, Seohyun terkejut. “Uh?” Ia mengusap tengkuknya—berusaha membuat keringatnya tidak bercucuran saking gugupnya.

“Berhenti melihat kebelakang, lalu apa yang terbentang didepan sana. Bisakah kita memulainya dari awal?”

Pertanyaan itu berhasil membuat Seohyun mematung—dan menyihirnya untuk tetap menutup mulutnya.

Jujur, ia memang sempat berfikiran seperti ini. Mengakhirinya semuanya, dan memulai dari awal. Lagipula ia memang tidak bisa berbohong pada perasaannya sendiri—yang masih mencintai pria dihadapannya itu.

“Apa begitu sulit memaafkanku? Apa kita benar-benar tidak bisa memulainya lagi?”

Seohyun masih berdebat dengan pikirannya; memaafkan seseorang yang telah menyisakan bekas dihatimu tentu tidaklah mudah. Namun rasa cintanya memang terlampau jauh diatas kata benci itu. Seohyun tidak ingin menghilangkan kesempatannya lagi—terlebih melakukan sesuatu dengan gegabah seperti yang pernah ia lakukan pada Kyuhyun. Ia menyadari betul semua yang terjadi memang bukan sepenuhnya kesalahan Kyuhyun yang menyakitinya.

“Seo—“ Seohyun beranjak mendekat Kyuhyun ragu. Dan menghentikan kalimat yang akan terlontar dari mulut Kyuhyun dengan satu kecupan pada bibirnya.

Waktu seakan berhenti berdetak saat bibir mereka saling bersentuhan.

Seohyun melepaskan ciumannya, “Tidak sesulit itu jika kita melakukannya bersama.”

Sudut bibir Kyuhyun tertarik—kelegaan ini benar-benar membuatnya bahagia. Jawaban terakhir Seohyun begitu manis menari-nari dalam pendengarannya. Kyuhyun menggapai wajah Seohyun dengan kedua tangannya, membawanya mendekat kemudian menciumnya lagi dengan hangat—dan lebih lama tentunya. Satu kecupan pengiring kepergian matahari yang mulai terbenam.Momen ini, mereka akan selalu mengingatnya. Selamanya? Tentu, kenapa tidak.

Rasa kantuk yang menggerogotinya benar-benar besar. Joonhyuk tentu lelah setelah menghabiskan waktu seharian untuk bermain bersama.

“Apa begitu sulit memaafkanku? Apa kita benar-benar tidak bisa memulainya lagi?” suara itu mengusik tidurnya. Tiba-tiba Joonhyuk merasa ada sesuatu yang salah diantara kedua kakaknya ini; apa mereka bertengkar? Pikir Joonhyuk.

Joonhyuk hendak mengintip ketika ia mulai membuka matanya sedikit dan menyaksikan pemandangan yang berada didepannya.

Kaget. Tentu saja.

Tanpa pikir panjang Joonhyuk menutup matanya kembali. Pemandangan itu bukan sesuatu yang pantas untuk dilihat bocah seusianya. Namun untuk menghentikannya? Ia tidak mungkin setega itu.

Joonhyuk bernafas lega—berharap tidurnya setelah ini akan sangat lelap. Tentu saja; karena setibanya ia di Seoul ia akan mendapatkan segunung cokelat yang menumpuk dikamarnya.

“Kau harus menepati janjimu. Victoria-noona!” seru Joonhyuk tersenyum—seraya tidak sabar menunggu tidur bersama tumpukan cokelat dalam ranjangnya.

 –

THE END

64 thoughts on “Remember Me (Part. 10/Ending)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s