Remember Me (Part.8)


Seo Joohyun/Cho Kyuhyun/Jung Yonghwa & The others cast. | Romance & Friendship | PG-15.

Original by AdillaSB:

WARNING: YANG BACA WAJIB KOMEN YA. SEBAGAI WUJUD APRESIASI TERHADAP FF INI.

Part. 8 : “Harus ada sesorang yang dikorbankan, dan itu sudah konsekuensi.”

 “Bisakah kau benar-benar mengatakan yang sebenarnya mengenai kami?”

“Yang sebenarnya?kau menuduhku berkata bohong?”Victoria memilih mengelak, kenyataannya ia memang tidak sepenuhnya membohongi Kyuhyun. Hanya berusaha mengalihkannya saja,tidak lebih dari itu.

“Paling tidak beritahu sesuatu tentang kami, aku mohon…”pinta Kyuhyun dengan puppy eyesnya. Kyuhyun tidak menuduh, hanya meminta haknya. Bagaimanapun tanda tanya dalam kepalanya sudah hampir penuh, tentu ia butuh jawaban atas semua yang masih ia tidak mengerti. Kebencian, Air mata semuanya tidak beralasan menurutnya, dan itu tidaklah wajar.

Victoria menyerah, ia menghela nafas sebelum memulai ceritanya.“Tidak ada yang baik darimu dulu, Kyuhyun. Kau menyakiti wanita yang kau sukai dan membiarkannya pergi begitu saja,sedangkan kau tahu bahwa dia juga menyukaimu, bahkan sangat menyukaimu. lalu apa yang ingin kau ketahui lagi?”

“Aku? Menyakiti Seohyun? Apa maksudmu?”Kyuhyun terperangah, bagaimana bisa? Ia sangat menyukai Seohyun, hanya itu yang ia tahu. Kyuhyun menggeleng—tidak percaya—ia merasa perlu untuk mendengar selengkapnya, mengapa ia bisa berbuat sejahat itu sementara kenyataannya kini berbeda.

“Mengetahui masalalu mu hanya akan membuatmu merasa bodoh. Jangan menoleh kebelakang, berterimakasihlah karena kau diijinkan memulai semuanya dari awal.”timpal Victoria ketika melihat rasa penasaran yang semakin jelas terpancar diwajah adik laki-lakinya itu.

Kalimat itu seperti mantra; membuat pikirannya yang kacau sedikit berangsur surut. Kyuhyun terdiam pada posisinya. Ia membenarkan pernyataan Victoria tadi, sejahat apa pun ia dahulu itu hanya masalalu, tuhan memberikannya kesempatan untuk mengulang semuanya dari awal. Sudah seharusnya ia mensyukuri hal tersebut.

“Yobosseo, Minhyuk. Maaf mengganggumu lagi, apa kau benar-benar tidak mengetahui dimana Yonghwa oppa berada sekarang?” Seohyun tidak bisa membantah perasaannya, ia benar-benar khawatir dengan keadaan pria itu. Kemana dia?hilang seperti ditelan bumi.

“Seohyunnie, kau tidak percaya sahabatmu ini?”Minhyuk berusaha meyakinkan, bukan karena lelah karena setiap jam sekali handphone miliknya berdering tapi memang tidak ada yang bisa ia katakan lagi selain menenangkan wanita itu.

“Bukan begitu…” Seohyun menghela nafas, ia tidak ingin menyinggung Minhyuk walau sejujurnya ia tidak percaya. Bagaimana bisa Minhyuk tidak mengetahIu posisi Yonghwa sementara mereka memang sangat dekat. “Sudahlah, maaf aku mengganggumu daritadi. Tapi bisakah kau segera menghubungiku jika kau mendengar kabar darinya?”

“Pasti, sudah kau tenang saja. Beberapa hari terakhir kau terlihat lelah, istirahatlah.”

“Gumawo, Minhyuk tapi aku tidak apa-apa. Aku akan menutup telepon,”

“Seohyun…”panggil Minhyuk, sesuatu yang mengganjal dipikirannya membuat ia sedikit merasa bersalah pada Seohyun.

“Mwo?Ada apa?”

“Mianhae.”

“Untuk apa?”

“Aku tidak bisa membantu banyak, maaf.”

“Bukan masalah, Minhyuk. Kau banyak meluangkan waktu untuk mendengarkan ceritaku, itu sudah cukup. Terimakasih” Seohyun mengakhiri sambungan teleponnya. Kini ia benar-benar putus asa. Pria itu menghindarinya dengan membawa ketidakjelasan hubungan mereka. Seohyun tidak menampik perasaan takut kehilangan yang ia rasakan, karena ia pun sadar betul pria itu turut andil dalam menata hatinya yang tadinya rapuh. Ia hanya ingin memberikan rasa terimakasihnya dengan sedikit terhormat, bukan berakhir seperti ini…

“Dia mencarimu terus hyung, sampai kapan kau mau menghindar seperti pecundang?”bersamaan dengan ditutupnya sambungan telepon dari Seohyun, Minhyuk mendengus kesal pada pria yang memaksakan dirinya untuk menambah dosa untuk kesekian kalinya.

“Entahlah… sampai aku benar-benar siap melepaskannya.” Jawab Yonghwa pasrah; ini tentu bukan kemauannya.

“Bodoh, itu bukan sebuah jawaban. Jika kau masih tidak bisa melupakannya, apa kita akan tetap memainkan hal semacam ini?”

“Mungkin, ah entahlah aku memang bodoh.”

“Hey, hyung. Berhentilah. Aku merasa sangat bersalah membohonginya terus.”

“Sudah mainkanlah peranmu dengan baik, ingat kau tidak boleh berkata apapun mengenai aku.”Yonghwa menepuk pundak sahabatnya. Ia mengetahui perasaan bersalah yang sedang Minhyuk rasakan tapi ia juga sadar bahwa ada hati yang perlu diperbaiki saat ini, dan itu tidaklah mudah.

“Yonghwa, kau dimana?”

Pertanyaan itu yang terus menggerayangi pikiran Seohyun; membuatnya sulit untuk mencerna dengan baik materi yang diberikan dosen padanya hari ini. Handphone pun tidak lepas dari genggaman Seohyun; hanya berjaga takut-takut ada kabar yang berkaitan dengan keberadaan Yonghwa.

Seohyun membuka lokernya— merapihkan buku-buku dalam tasnya — bersiap untuk pulang dan segera mengistirahatkan pikirannya.

Tunggu,seseorang meletakan sesuatu dalam lokernya.

Cokelat?

Seohyun mengambilnya perlahan dan memperhatikannya seksama; Bungkusnya tidak asing. Ia mengenal dengan baik cokelat buatan lama itu.

‘Ambilah, memakan sekotak tidak akan membuat berat badanmu bertambah’

Ia membaca note yang terlampir pada cokelat tersebut. Satu nama yang tiba-tiba muncul dalam benaknya seketika; Ya siapa lagi kalau bukan dia.

Kicauan burung dipagi yang cerah mengiri perjalanan Seohyun menuju kampusnya. Huh, udara pagi itu lebih dingin dari biasanya; wajar saja sekarang ini sudah memasuki awal Desember. Dan ketika Musim dingin suhu rata-rata di Seoul berkisar -8ºC sehingga memang perlu beberapa lapis pakaian untuk melindungi kulit dari suhu menusuk tersebut.

Seohyun mengosokan kedua tangannya—menciptakan sedikit kehangatan pada kedua telapaknya—. Ia menoleh ke sisi kiri jalan; jam menunjukan pukul 8.15 seharusnya Bus tiba dihadapannya sekitar 15 menit yang lalu sesuai jadwal yang biasanya.

5… 10… 15menit selanjutnya, tidak ada satupun Bus yang muncul.

“Menunggu apalagi?Naiklah…” Seorang pria memberi tumpangan pada Seohyun dengan…

Sepeda?

Seohyun memberi senyuman terbaiknya pada si pemberi tumpangan,  pagi ini moodnya sedikit lebih baik dari biasanya. “Gumawoyo~ tapi dimana mobilmu?”

“Digarasi, seseorang memberitahuku untuk menggunakan Sepeda. Selain baik untuk kesehatan, juga bisa membantu mengurangi polusi udara. Benar?”

Seohyun terkekeh, “Yup, kau benar!” Seohyun menghampiri Kyuhyun, namun langkahnya terhenti ketika menyaksikannya lebih dekat.

Manis memang kedengarannya ketika seorang pria dan wanita berboncengan dengan sepeda, tapi apa yang menarik dari sepeda yang Kyuhyun bawa saat ini?Ah,entahlah… Sepeda jenis BMX itu bukanlah tipe sepeda yang memancarkan aura romantis pada sang pengayuhnya—lebih kepada sisi bengal dan brandalan yang jelas terlihat—. “Ya! Kau meledekku?”Seohyun melipat kedua tangannya diatas dada.

“Tenanglah, aku sudah mempersiapkan semuanya.”Kyuhyun melemparkan pandangannya pada dua potong besi yang bisa digunakan sebagai pijakan dikedua sisi roda belakang sepedanya. “Aku sudah mengencangkan baut-bautnya, aku jamin tidak ada yang akan terjadi padamu.”

Seohyun terlihat tidak yakin, Ia sadar bahwa kini ia sedang menggunakan pakaian formal. Mana pantas mengenakan sepeda macam itu?Berdiri pula…

“Uhm… aku yakin Bus akan datang sebentar lagi.”

“Ayolah naik.”

Seohyun memperhatikan kanan dan kiri. Ah, sialnya memang tidak ada Bus yang lewat. Taxi pun jarang sekali. Sepertinya memang tidak ada pilihan lain selain menurutinya

Hening untuk beberapa saat…

“Bisakah sedikit lebih cepat?”Seohyun memulai pembicaraan, mengingat jarum jam terus berdetak.

“Tidak.”

“Waeyo?Aku tidak terlalu uhm.. berat,kan?” menyinggung masalah berat badan bagi wanita adalah sesuatu yang harus dihindari dalam percakapan dengan pria.

Kyuhyun tertawa, “Tidak sama sekali.”

“Jadi kenapa?”

“Kau harus mengencangkan peganganmu.” Ejek Kyuhyun, dan langsung dibalas dengan kepalan dari tangan kiri Seohyun diatas kepalanya.

“Jangan mengambil kesempatan, Bodoh!”

Kyuhyun tertawa sekali lagi, lalu menambah tekanan pada kayuhan kakinya.

“Ah, pegal sekali berdiri seperti ini. Kau tidak lelah?”

“Sedikit.”

“Aku punya beberapa kue, apa kau mau?” Seohyun mengeluarkan sebungkus makanan dari dalam tasnya—dengan satu tangan lain masih berpegangan erat pada pundak Kyuhyun—.

Seohyun menghantarkan sepotong besar kue kedalam mulut Kyuhyun. Kali ini ia harus mengesampingkan gengsinya, sedikit berterimakasih pada seseorang yang memberikan tumpangannya.

“Enak?”

“Nyam…Nyam…Nyam…” Kyuhyun menjawab dengan mulut masih berisi penuh kue yang belum sepenuhnya terkunyah.

“Kau bicara apa—“

Seohyun menggantung kalimatnya. Ia merasakan perasaan aneh; De Javu? Tapi bukan, ini benar-benar terulang. Sengaja atau tidak kejadian ini menyentuh pintu masalalu nya yang sudah tertutup. Beberapa potret menyedihkan yang hampir ia lupakan dimainkan ulang dalam pikirannya. Menyebalkan.

Seperti Seohyun, Kyuhyun juga merasakan hal yang sama. Bukan tanda pulihnya  ia dari Prosopagnosia tapi lebih kepada sesuatu yang terjadi kembali. Semua yang mungusik pikirannya membuat kayuhan kakinya sedikit mengendur.

Ya, seharusnya kalian sadar. Semua adalah nyata.

Seohyun mempercepat langkahnya, bahkan sesekali ia berlari untuk mempersingkat waktu yang tersisa; Seseorang membicarakan Yonghwa di Perpustakaan tadi, Sependengarannya orang itu mengatakan melihat Yonghwa di Caffe beberapa menit yang lalu, karena itulah Seohyun sangat terburu-buru menuju tempat tersebut.

Setibanya, Seohyun mengatur nafas sebentar kemudian memperhatikan setiap sudut Caffe berharap dapat menemukan sosok yang ia cari tersebut.

“Oppa~” Teriak Seohyun, membuat orang-orang disekitarnya melemparkan pandangan heran padanya. Ah, tapi ia sudah tak peduli lagi; tidak ingin melewatkan kesempatan bertemu Yonghwa—setidaknya sebelum ia menghilang lagi—.

“Ya! Jung Yonghwa!”

Si pemilik nama menghentikan langkahnya, “Seohyun?”

“Bisa bicara sebentar?” Tanya Seohyun, tentu dengan nafas yang tidak beraturan.

Melihat Seohyun yang tampak kacau setelah berlarian tadi, Yonghwa tidak dapat menolak.  “Tentu, mari kita ketempat biasa. Disini terlalu ramai.”

Seohyun tak menjawab, hanya menuruti permintaan Yonghwa. Ia sedang disibukan mengatur nafasnya yang masih terengah, Sudah lama sekali ia tidak berlarian seperti itu.

“Kau terlihat lelah?” Yonghwa menyeka keringat yang menetes dipelipis Seohyun. “Minumlah…” tawarnya menyodorkan sebetol air mineral.

“Benar kau menghindariku?”

“Kau ini bicara apa, mana mungkin aku—“

“Kenapa?”

Yonghwa terdiam, lagi-lagi ia harus memberi kesaksian palsu didepan Seohyun. Sulit sekali rasanya berbicara didepan sepasang mata yang melihatnya dengan tatapan memohon seperti itu. “Aku tidak menghindarimu, Hyun”

“Lalu kau kemana selama ini?”

“Rehabilitasi, Kau sudah membuatku kecanduan. Sulit sekali membuatku kembali normal.”Yonghwa tertawa, “Jongmal Mianhaeyo…”

“Pabo! Tega sekali kau membiarkan aku mencarimu seperti ini?”

“Aish,aku sudah bilang untuk tidak mencariku. Kau ini nakal sekali.” Yonghwa mengacak rambut Seohyun, sesuatu yang memang sering ia lakukan dahulu. “Sepertinya aku harus membuatmu Amnesia, agar kau benar-benar bisa melupakanku.” Singgungnya.

“Oppa, masih ada yang menggantung. Mengenai hubungan kita—“

“Hyunnie, cerita kita tidak akan berlanjut lagi. Aku sudah memenuhi janjiku utnuk membantumu melupakannya, tugasku sudah selesai. Maaf membuatmu khawatir, benar aku memang menghindarimu. Tapi kau tahu bagaimana rasanya ketika sulit sekali melupakan orang yang benar-benar kau cintai, karena itu aku yakin kau mengerti bagaimana perasaanku.”

“Oppa—“

“Kau ingat bagaimana kita bertemu disini?dulu aku sempat berfikir kau bodoh karena menghabiskan banyak waktu untuk menangisi pria yang kau sukai itu, dan ternyata aku sadar bagaimana susahnya melupakan sesorang yang sudah berarti bagi kita. Itu tidaklah mudah. Sekarang aku mengalami sesuatu yang dulu pernah aku tertawakan. Karena itu berhentilah mencariku, aku sudah memutuskan untuk melupakanmu, Seohyun. Jangan buat ini semakin sulit.”

Seohyun kehabisan kata-kata, melihat Yonghwa bercerita membuatnya sedih. Ia merasa melukainya, padahal seharusnya tidak begini ending cerita mereka. Benar, ia tidak akan menemukan kebahagiaan jika memilih tetap berada diposisi ini. Harus ada sesorang yang dikorbankan, dan itu sudah konsekuensi.

Tapi apa ini artinya ia akan kembali pada Kyuhyun?Entahlah… ia yakin akan tambah melukai pria dihadapannya jika ia memilih hal itu.

Dentingan lonceng terdengar dimalam Natal yang damai, hiasan yang menggantung dipintu rumah setiap \penduduk  mempercantik kota yang sudah indah. Suasana kota tersebut terlihat semakin damai oleh putihnya salju yang melambangkan kesucian dihari yang memang sepesial.

“Biru atau kuning ya?” Seohyun memperhatikan kedua ornament bintang yang berada dalam genggamannya. “Ah, keduanya benar-benar cantik. Tapi aku hanya perlu satu saja.”

“Biru terlihat lebih manis,” saut seorang wanita memberi saran.

“Ah, Annyeonghaseyo onnie.”  Sapa Seohyun setelah menyadari siapa wanita dihadapannya.

“Kebetulan sekali bertemu disini,” Victoria terlihat lebih ramah—setidaknya dibanding saat mereka terakhir bertemu diCaffe beberapa minggu yang lalu—.

“Ya, Senang sekali bisa bertemu denganmu lagi. Terimakasih atas saranmu, sepertinya aku akan membeli yang berwarna biru.”

Victoria tersenyum, “Udara sangat dingin,setelah ini apa kau mau minum cokelat hangat?” tanya Victoria memberi penawaran.

“Boleh,” Seohyun tidak bisa mengelak; lagipula ia yakin suasana tidak akan berubah tegang seperti saat itu. Tentu saja, sekarang hubungannya dengan Kyuhyun jauh lebih baik dari sebelumnya.

“Mengenai pembicaraan kita saat itu—“

“Maaf aku memang belum sepenuhnya bisa melupakannya onnie, tapi aku akan berusaha.”

“Bukan itu yang ingin aku bicarakan,” Victoria menjeda kalimatnya untuk sesekali meneguk secangkir cokelatat hangat yang sudah terhidang. “Kyuhyun, ia sudah mengetahui tentang kalian. Walaupun tidak sepenuhnya.”

“Bagaimana bisa onnie?”

“Ya, sepandainya kita menyimpan bangkai pasti akan tercium baunya. Dia sungguh menyesali semua itu,Hyun.”

“Ah, aku juga sudah memaafkannya onnie. Bukan masalah lagi.” Seohyun menyeruput cangkirnya. Tidak ingin menyianyiakan hidangan yang tersedia dihadapannya. Suhu malam diakhir Desember memang menusuk sekali.

“Ada hal yang perlu kau ketahui mengenai pria itu.”

Topik kali ini sangatlah menarik, Seohyun memusatkan pandangannya. Berkonsentrasi dengan apa yang akan diceritakan selanjutnya oleh Victoria. “Kau harus tau, dia tidak pernah menyakitimu. Maaf, aku tahu terlambat bagiku menjelaskan semuanya. Tapi dulu, Kyuhyun juga mencintaimu.”

Seohyun tertawa pelan, kenyataannya Kyuhyun tidak sama sekali menampakan hal itu—bagaimana mungkin ia percaya—.

“Tepat dimalam natal seperti ini, keluargaku menemukan seorang bocah laki-laki menangis didepan rumahnya dengan sepucuk surat dalam genggamannya. Seluruh badannya dipenuhi luka lebam dan sorot mata bocah itu kepedihan yang amat dalam. Ayahnya meninggal dalam sebuah kecelakan besar, sebulan setelah itu Ibunya berusaha membunuhnya dengan cara menenggelamkannya dilaut kemudian pulang untuk mengakhiri hidupnya. Namun tuhan memberikan mukzizatnya, Bocah laki-laki itu diselamatkan seorang nelayan dengan nyawa yang masih tersisa.” Victoria bercerita dengan tatapan yang kosong, seolah ikut merasakan kepedihan dari apa yang ia ceritakan. Sementara Seohyun berusaha mencerna apa yang Victoria maksud. Cerita ini belum sepenuhnya jelas,menurutnya.

“Bocah itu masih terlalu kecil, sekitar 5 tahun usianya. Sebelum ayah membangun perusahaannya, Ayahku  merupakan seorang polisi yang menangani kasus kematian orang tua bocah itu, dan tersentuh ketika mengetahui bahwa ia harus tinggal seorang diri dalam usia yang sangat dini. Maka kami memutuskan untuk mengadopsinya.”lanjutnya.

“Tunggu, siapa yang kau maksud onnie?Kyuhyun kah?”

Victoria memilih senyum sebagai jawaban terbaiknya, “Saat mengetahui aku memiliki seorang adik baru, tentu aku sangat senang. Ditambah aku sudah sangat jatuh cinta ketika melihatnya untuk pertama kali. Sayangnya, Kyuhyun itu tertutup sekali. Trauma yang pernah ia alami membuatnya menjadi bocah yang menyebalkan. Ia selalu menangis dengan berteriak ketika aku mendekatinya, ia benci dengan sosok wanita. “pembunuh” begitulah katanya ketika aku atau ibuku mendekat padanya. Sulit sekali membuka hatinya. Namun,10 tahun kemudian keluarga kami bersyukur karena banyak perkembangan yang terlihat dari Kyuhyun, ia mulai bisa berinteraksi dengan kami walaupun harus dibatasi dengan jarak yang cukup jauh. Ia merobek, membakar dan sebisa mungkin membuang masalalunya. Berusaha sekuat mungkin bangkit dari keterpurukannya—“

Speechless… Seohyun hanya dapat menjadi pendengar yang baik dengan menyimak cerita Victoria, ia benar-benar tidak percaya. Bagaimana bisa pria itu memiliki masalalu yang bahkan tak pernah terfikirkan oleh Seohyun sendiri.

Kini ia diambang kebingungan, haruskah mempercayai omong kosong ini?sementara semua ini sudah berlalu cukup lama dan sudah menyisakan perih yang dalam dihatinya.

Victoria masih melanjutkan ceritanya. Seohyun… Ah, entah ia tidak mengerti apa yang terjadi dah harus seperti apa nantinya. Yang jelas kini ia merasa bersalah, tentu karena sudah mengambil kesimpulan secepat itu dan meninggalkannya begitu saja. Seharusnya ia tidak mengikuti emosinya dan berusaha mencari kebenaran, Seohyun menyesal, dia merasa bodoh sekali. Padahal banyak petunjuk yang diberikan, tapi ia hanya menganggap itu hanyalah sesuatu hal yang tak perlu ditanyakan. ‘Bodoh’ Seohyun memaki dirinya sendiri atas ketidakpekaannya.

Lantas sekarang ia harus apa, meminta maaf?atas sesuatu yang entah Kyuhyun mengingatnya?

Ah, padahal ia berfikir untuk menghapus masalalunya. Berteman, dan memulai dari awal kehidupnnya dengan Kyuhyun walaupun tidak bisa semudah itu untuk melupakan perasaanya pada Kyuhyun.

Ditempat yang lain,

Kyuhyun memperhatikan surat lusuh yang tergelatak diatas mejanya. Perasaan menyesal yang sama-sama mengusiknya membuat konsentrasinya akan hal lain sedikit berkurang.

Ia sungguh menyesal dan ingin sekali minta maaf pada Seohyun, tapi bagaimana bisa?Sudah untung sekarang hubungan mereka membaik dan Seohyun sudah bisa berbicara dengannya secara normal—setidaknya nada bicara Seohyun sedikit  lembut— Ia tidak ingin mengungkitnya lagi, ia hanya takut akan membuat keadaan menjadi buruk. Kau tahu sulit sekali membuatnya menjadi seperti ini.

Kyuhyun mengusap wajahnya kasar, apa yang harus ia lakukan?ia tidak bisa tetap diam. Hatinya meminta ia untuk bergerak, melakukan sesuatu…

 TBC

55 thoughts on “Remember Me (Part.8)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s