Sonsaengnim, saranghaeyo! (Part. 4)


Link part sebelumnya
Part. 1

Part. 2
Part. 3

Author : Chiputris (@chiputris)

Rating : PG 15

Lenght : Series

Genre : Romance

Cast : SNSD Seohyun, Super Junior Kyuhyun, Super Junior Donghae

Disclaimer : FF ini tentu saja punya aku🙂

Note : akhirnya publish! (~‾▿‾)~ \(´▽`)/ maaf ya yang sudah menunggu terlalu lama (as usual). Biasa penyakit malesnya dateng jadi males ngapa-ngapain deh hehehe😀😀

Oh iya aku juga lagi proses pembuatan ff lagi yang melibatkan banyak pemain nih. Mohon doanya ya supaya banyak input yang masuk ke otakku dan dihilangkan setan malesnya supaya bisa cepet-cepet publish🙂🙂

Ngga tau ya di part ini perubahan latar ceritanya dikit banget. Abis aku fokus ke percakapannya sih. Hehehe mian ya😀😀

WAJIB RLC!! READ, LIKE, & COMMENT!

Oke daripada banyak ngebacot, yuk CEKIDOT!

♥♥♥

“Oppa?! Donghae oppa?”

“Hyun-ah?”

Kedua mata mereka saling tatap. Tidak tepat begitu sih, karna bola mata mereka keluar lebih panjang dari biasanya, menyebabkan mereka jadi saling melotot satu sama lain.

“Hyun-ah!” detik berikutnya Donghae sudah menghambur ke arah Seohyun, memeluknya sangat erat, membuat Seohyun mendelik lebih lebar lagi karena tubuhnya yang terjepit membuat dadanya menjadi  sesak.

“Op-pa l-lepas-kan ak-ku..” suara Seohyun terputus-putus ditengah sisa oksigen yang krisis dalam paru-parunya.

“Aku kangen sekali padamu Hyun-ah..” ia makin mempererat pelukannya sambil bergoyang-goyang kian kemari membawa tubuh  Seohyun dalam pelukannya. Matanya menyipit karena senyuman yang mengembang lebar diwajahnya.

“I-iya tap-pi lep-paskan ak-ku du-luu,”

Donghae menghentikan euforianya sebentar untuk mendengar beberapa patah kata dari bibir Seohyun yang volumenya makin mengecil.

Ia menjerit panik setelah akhirnya melihat wajah Seohyun yang hampir membiru karena kekurangan oksigen. “Kau tidak apa-apa Hyun-ah???” buru-buru ia melepaskan cengkraman lengan kekarnya dari tubuh kecil Seohyun.

Seohyun berbatuk-batuk menyesuaikan asupan oksigen yang mulai mengisi paru-parunya.

“Hyun-ah gwenchana yo? Apa perlu kita kerumah sakit sekarang? Apakah kau akan mati dan meninggalkanku lagi? Hyun-ah??” suaranya kian panik ditengah tangannya yang mengguncang tubuh Seohyun karena Seohyun tak merespon rentetan pertanyaannya barusan.

Batuk Seohyun makin bertambah parah setelah sebelumnya ia tersedak salivanya sendiri karena ketika hendak berbicara, tubuhnya diguncang semakin keras oleh kedua tangan Donghae.

Sementara Donghae pun makin panik dan sudah meneteskan beberapa tetes air mata melihat batuk Seohyun yang tak kunjung berhenti dan malah makin parah.

Seohyun mengangkat tangan kanannya yang terbuka lebar untuk memberi isyarat agar Donghae mau berhenti mengguncang tubuhnya. Tapi Donghae tak menyadari itu dan masih asyik mengguncang tubuh mungil Seohyun dengan wajah paniknya.

“STOOOP!” dengan seluruh tenaga yang tersisa Seohyun berteriak sekencang-kencangnya. Donghae tergelak kaget dengan teriakkan nyaring Seohyun barusan yang mampu membuat orang-orang yang sedang berlalu-lalang menoleh ke arah mereka. Lalu dengan hati-hati ia melepaskan cekalan tangannya pada tubuh Seohyun.

“Menjauh dariku!” Donghae memundurkan langkahnya perlahan.

“Kau yakin tidak..”

“Stop! Berhenti disitu!” Seohyun mengambil napas panjang. Perlahan, Donghae kembali melangkahkan kakinya menuju Seohyun dengan wajah khawatirnya. “berhenti disitu ku bilang!” bentak Seohyun lagi dan langkahnya pun terhenti. Seohyun memegangi dadanya seakan takut paru-parunya menyusut saking sesaknya.

Setelah dirasa cukup aman untuk Donghae tidak kembali ‘menyiksanya’, Seohyun menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan. Begitu terus ia lakukan beberapa kali sampai paru-parunya dirasa cukup oksigen dan napasnya kembali normal.

“Hyun-ah apa aku boleh mendekat padamu?” tanya Donghae takut-takut dengan tubuhnya yang masih tetap membeku ditempatnya tadi.

Seohyun menoleh dan hanya menganggukkan kepalanya.

“Eiiits! tapi oppa tidak perlu memelukku seperti tadi!” Seohyun buru-buru mencegahnya saat melihat kedua lengannya yang sudah dibuka lebar untuk dapat memeluk kembali tubuhnya.

Donghae langsung menurunkan lengannya dengan wajah yang lesu sambil memonyong-monyongkan bibirnya.

“Kau benar tidak apa-apa? Apa perlu kita ke rumah sak..”

“Benar aku tidak apa-apa.” Seohyun menyunggingkan sedikit senyuman manisnya.

“Ya Tuhaaan Hyun-ah kau manis sekali dengan senyumanmu ituu! Ingin mati aku rasanyaa!” pekiknya kegirangan dengan wajah yang berseri.

“Eeh aku bilang jangan memelukku lagi! Oppa mau aku mati karena kehabisan napas, uh?” Seohyun mencegahnya lagi saat akan ia akan memeluknya karena euforia kegirangan yang kembali melandanya akibat senyuman Seohyun barusan.

Donghae menurunkan lagi tangannya, tapi kali ini dengan senyuman lebar yang menghiasi wajahnya.

“Aww,” lengan Seohyun tersenggol orang yang sedang berjalan.

“Ya! Kalau jalan pakai mata! Awas saja kalau sampai Seohyunku terluka!” Donghae mencak-mencak pada orang yang menyenggol lengan Seohyun dan hanya dijawab oleh orang yang diteriakinya dengan memiringkan telunjuknya di depan dahinya sambil mengumpat, “Dasar gila!”

“Oppa sudahlah, lagipula ini salah kita karena mengobrol ditengah jalan.”

Donghae menengokkan kepalanya ke kanan kiri. “Ah iya benar. Hehe.. kajja Hyun-ah kita cari tempat berbincang yang nyaman.”

Seohyun hanya menurut saat lengannya diseret paksa olehnya.

“Ini teh panas untuk menghangatkan tubuhmu Hyun-ah.”

Seohyun mendongakkan kepalanya ke arah Donghae yang menghampirinya. “Ah gomawoyo oppa,”

Seohyun menggeser tubuhnya agar terdapat tempat cukup untuk Donghae bisa duduk di sebelahnya.

“Sudah lama kita tak pernah bertemu Hyun-ah,”

“Hm iya memang. Aku sampai tak ingat kapan kita bertemu,” Seohyun menghirup aroma teh hijau kesukaannya sebelum menyeruputnya hati-hati.

Donghae hampir saja tersedak cappucino yang sedang disesapnya saat Seohyun mengatakan hal barusan.

“Mworagoyo?” Donghae menatap Seohyun lekat-lekat yang masih asik memandang lurus kearah lampu-lampu taman yang berwarna-warni di depan mereka. “kau melupakanku?!” suaranya naik.

Seohyun menoleh datar ke arahnya. “Melupakan apa?”

“Melupakan kalau kita pernah bersama,”

“Hng?”

“Kau itu benar-benar keterlaluan Seo Joohyun-ah.” Donghae menggeleng-gelengkan kepalanya prihatin. Sekarang matanya mulai memerah, “aku itu bahkan masih menyimpan foto kita bersama di dompetku dan selalu kubawa kemana-mana, kau tahu?” matanya yang memerah kini mulai meneteskan satu dua tetes air mata.

“Haiiissh oppa kau itu selalu berlebihan sekali.” matanya menatap aneh ke wajah Donghae yang semakin berlinang air mata. Seohyun membuang tatapannya kembali ke lampu taman. “ah baiklah aku tak pernah melupakanmu.” ucapnya mengalah setelah itu meneguk habis teh hijau yang hampir dingin terbawa suhu disekitarnya.

“Aah chongmal yo??” wajahnya yang tadi mendung seperti akan terjadi angin tornado kini berubah secerah gurun sahara. Dengan segera ia menghapus linangan air mata yang menghiasi wajahnya lalu menghabisi sisa cappucinonya dalam satu tenggakkan.

Seohyun mengarahkan tatapannya ke wajahnya yang sedang sumringah. “Oppa, kau benar-benar tak berubah sama sekali,” ucapnya sembari menggeleng prihatin.

“Tentu saja. Sampai kapanpun, Lee Donghae tidak akan pernah berubah. Apalagi untuk gadis cantik dengan senyuman paling manis sedunia seperti kau Hyun-ah,” ucapnya bangga.

Seohyun hanya mendenguskan napas frustasi.

“Ah teh mu sudah habis. Mau kubelikan lagi?”

Seohyun melihat sekilas gelasnya yang sudah kosong. “Ah tidak usah oppa,”

Donghae terlihat berpikir sebentar sebelum dengan senang hati membantu Seohyun membuang gelas kertasnya ketempat sampah yang terletak agak jauh dari mereka.

Ini adalah salah satu hal yang Seohyun hindari selepas lulus SMA, alasannya tinggal sendiri dan menetap di Seoul jauh dari orang tuanya yang berada di Daegu pun salah satunya karena ini, menjauh sejauh-jauhnya dari Lee Donghae. Lee Donghae adalah senior Seohyun sekaligus kakak angkatnya saat di SMA, tidak tepat begitu sih, karena yang memutuskan untuk menjadikan ia sebagai kakak angkatnya adalah Donghae sendiri. Donghae adalah anak tunggal, sejak kecil ia selalu kesepian dan menginginkan seorang adik, terlebih adik perempuan.

Pertemuannya dengan Donghae diawali saat ia menolong Donghae ketika kepalanya terbentur bola basket cukup keras saat pelajaran olahraga. Ia pingsan dan PMR sekolah yang menolongnya. Kebetulan juga saat itu Seohyun sedang piket jaga PMR. Saat Donghae membuka matanya dan tersadar dari pingsan, pertama kali ia melihat Seohyun yang sedang tersenyum manis ke arahnya. Saat itulah Donghae terpana dengan Senyuman manis Seohyun dan berniat mengangkatnya sebagai adiknya.

Sejak saat itu, mereka berdua menjadi dekat. Waktu itu, Seohyun menganggap Donghae adalah lelaki yang sangat sempurna. Selain tampan dan populer, Donghae juga berlaku sangat baik pada semua orang, apalagi padanya. Seohyun sempat menaruh hati padanya, sampai pada saat sifat aslinya yang sister complex itu muncul. Diam-diam, Donghae mendamprat habis-habisan semua lelaki yang mendekati Seohyun, walau untuk urusan sekolah sekalipun.

Penampilannya yang seperti pangeran tampan dan cool itu bisa berubah seketika jika sudah berada dihadapan Seohyun. Jika sudah menyangkut Seohyun sifat AB-normalnya akan muncul. Ia jadi seperti menderita autisme tingkat dewa.

Kalau ditanya pendapat eomma Seohyun sih, ia setuju setuju saja Donghae berada didekat Seohyun. Ia memang perlu pria overprotektif untuk putrinya yang sedikit keras kepala itu.

Seohyun membuang napasnya kasar. “Oppa, seandainya kelakuanmu tidak idiot seperti itu, aku pasti sudah teramat jatuh cinta padamu sekarang. Atau mungkin malah aku sudah menjadi kekasihmu,” gumamnya sambil senyam-senyum sendiri membayangkannya.

“Kau kenapa senyam-senyum seperti itu? Memikirkanku, huh?”

Seohyun tersentak saat menyadari Donghae sudah berada disampingnya. Buru-buru ia mengubah mimik wajahnya.

“A-ani.. kapan kau kembali?”

Donghae terkekeh geli. “Sudahlah sadari saja kalau kau menyukaiku. Lihatlah, wajahmu itu memerah. Tapi kau tidak boleh menyukai kakakmu sendiri Hyun-ah,” godanya dengan lirikan jahil.

“Ani..” Seohyun memalingkan wajahnya ke arah lain untuk menyembunyikan rasa malu bercampur kesalnya karena tertangkap basah tersenyum sendiri barusan.

Donghae masih tertawa geli, tangannya meraih puncak kepala Seohyun, lalu dengan iseng mengacak-acak rambutnya yang masih tertata rapih dengan gemas.

“Sudahlah jangan marah. Ini kubelikan makanan kesukaan mu,”

Dahi Seohyun berkerut sebelum kepalanya ditorehkan ke arah Donghae yang sudah duduk kembali disampingnya.

“Goguma!” Seohyun memekik girang. Matanya berkilat-kilat senang mendapati sekotak ubi kesukaannya. Ia langsung mengambil sebungkus ubi dan membukanya tidak sabaran.

“Makanmu sekarang banyak ya?” Donghae heran melihat Seohyun yang dapat menghabiskan dua bungkus ubi dalam waktu 2 menit.

“Tentu saja aku kan belum makan malam,” ucapnya sembari terus mengunyah ubi dengan nikmatnya. Tapi kenikmatan itu tidak bertahan lama setelah ia tersadar akan sesuatu.

“Ya Tuhan! Aku lupa dengan anak itu!” Seohyun berteriak dan menepuk dahinya sendiri dengan cukup keras. Beberapa potong kecil ubi yang sedang dikunyahnya pun sampai berhamburan keluar dari mulutnya ketika ia berteriak tadi. Ia melirik jam tangan mungil yang melingkar di pergelangan kirinya. “astaga sudah jam 10 malam!”

“Anak? Anak siapa?”

Seohyun melirik Donghae yang sedang menatap heran padanya. “Ma-maksudku anak kucing. Iya benar. Aku memelihara anak kucing dan lupa kuberi makan malam.” ujarnya beralasan. Bisa gawat kalau Donghae sampai tau kalau sedang ada anak ‘setan’ yang menginap di rumahnya.

“Kalau begitu aku harus pulang sekarang. Oppa annyeonghi gyeseyo.” ia menyampirkan tas pundaknya sebelum membungkuk dalam dan berjalan terbirit-birit untuk secepatnya sampai di rumah.

“Ya Hyun-ah! Kau mau kemana? Kenapa pergi secepat itu?” Donghae meneriakkan nama Seohyun berkali-kali, tapi dihiraukan oleh Seohyun yang tetap berjalan seperti diudak setan. “..dan aku juga belum tahu dimana kau tinggal sekarang,” ia tertunduk lesu.

♥♥♥

“Kau kemana saja, huh?” Kyuhyun terlihat bertolak pinggang di depan pintu apartement Seohyun dengan wajah angkernya.

“A-aku kan sudah bilang kalau aku pergi ke rumah teman. Kau tahu itu kan?” Seohyun menjawab sambil memalingkan wajah ke arah lain. Ia terlalu takut menatap Kyuhyun yang terlihat akan menelannya hidup-hidup.

Kyuhyun mengangkat sebelah alisnya. “Beberapa saat yang lalu temanmu menelepon ke rumah, dia bilang kau tak kunjung sampai ke rumahnya,”

Seohyun hanya menjawab dengan ber-eng-ehm ria.

Kyuhyun merubah posisi tangannya menjadi terlipat di depan dada. “Katakan kau pergi dengan kekasihmu yang mana?” matanya mendelik.

Dahi Seohyun berkerut. “Kekasih? Kau itu bodoh atau apa? Minggir aku mau masuk!”

Seohyun berusaha menyingkirkan Kyuhyun yang menghalangi pintu masuk. Tapi digeser bagaimanapun, tubuh Kyuhyun tak bergeser satu senti pun dari posisinya saat ini.

“Ya Tuhaan kau ini maunya apa sih?!” ia berteriak sambil menghentakkan kakinya kesal.

“Kau harus menjawab pertanyaanku dulu, baru kau boleh masuk,”

“Kau sudah gila? Ini kan apartementku sendiri!” semburnya.

“Jawab atau tidak sama sekali,”

Seohyun memutar bola matanya sengit ke arah Kyuhyun. Ia terlihat beripikir sebentar, “Baiklah. Aku bertemu dengan seorang lelaki dan aku berkencan seharian suntuk dengannya, kau puas?!” sentaknya. Lalu melenggang masuk ke dalam rumah setelah berhasil menggeser Kyuhyun dengan mudah dari pintu masuk karena Kyuhyun yang sudah terlanjur shock dengan pernyataan Seohyun barusan.

Kyuhyun mengerjap-ngerjapkan matanya tak percaya.

“Ya! Ya! Ya! Apa yang kau katakan barusan Seohyun-sshi? Haiiish wanita itu!” gerutunya sembari mengikuti Seohyun yang sudah nyelonong masuk.

“Itu kan jawaban yang kau inginkan, wahai bocah?” sambil terus melangkah Seohyun melemparkan asal tas pundaknya yang hampir saja mengenai wajah Kyuhyun yang berusaha mengimbangi langkahnya.

Ia berjalan menuju dapur dan mengambil gelas bening yang terletak di rak dapur dan mengisinya dengan air mineral sampai penuh.

“Ma-maksudku bukan seperti itu. kau hanya perlu berkata jujur dengan siapa kau pergi,”

“Jamsiman yo,” Seohyun memberi isyarat dengan tangannya agar Kyuhyun mau menunggu jawabannya. Sementara ia menenggak habis air mineralnya dalam satu tarikan napas. Akhirnya ubi yang beberapa saat yang lalu ditelannya dan masih terganjal ditenggorokannya bisa luruh sepenuhnya.

“Aku tidak sengaja bertemu dengan senior SMA ku dan kami berbincang-bincang sedikit.” jawabnya akhirnya. “apa ada yang kau tanyakan lagi tuan muda Cho Kyuhyun?” tangannya terlipat di depan dada sambil bersender pada konter dapur.

“Tapi tetap saja dia laki-laki,”

”Oh ya Tuhaan! Jadi kau berharap hanya kau laki-laki di dunia ini? Kau itu benar-benar semakin bertambah dewasa Kyuhyun-sshi,”

“Terima kasih.”

Seohyun melenggang meninggalkan Kyuhyun setelah sebelumnya dengan sengaja menyenggol bahunya cukup keras.

“ya! Kau mau kemana lagi, huh? Haisshh kau itu perempuan atau bukan sih?”

Kyuhyun mengikuti langkah Seohyun lagi. “Kau itu belum menceritakan dengan jelas siapa lelaki it..”

BRAAK

Sebelum Kyuhyun sempat mengakhiri kata-katanya, Seohyun sudah keburu masuk kekamarnya, menutup pintunya sangat cepat dan kencang sampai-sampai hampir mengenai hidung mancung Kyuhyun yang sedari tadi mengikutinya.

Suara kicauan Kyuhyun terus saja terdengar, sementara Seohyun menyibukkan diri dengan merapihkan isi tasnya yang tadi mendarat di kamarnya setelah sebelumnya hampir mengenai wajah Kyuhyun karena ia melemparnya asal.

Seohyun membuka lemarinya dan mengambil beberapa potong pakaian rumahnya beserta selembar handuk berwarna hijau dengan gambar anime kodok besar ditengahnya.

Seohyun membuka pintu kamarnya dan menemukan Kyuhyun yang masih saja berkicau. Lagi-lagi Kyuhyun mengikuti Seohyun yang hendak menuju kamar mandi. Ocehan Kyuhyun masih tetap mengiringi Seohyun dan lagi-lagi juga hidung Kyuhyun hampir terhantam pintu kamar mandi karena di tutup secara cepat oleh Seohyun yang masuk terlebih dulu. Kyuhyun hanya bisa merutuk beberapa kata untuk gadis berambut cokelat itu.

“Ya! Kau sedang apa di dalam? Kau harus menjelaskan masalah ini terlebih dulu padaku,”

Hening. Seohyun tak menjawab sedikit pun.

“Jangan bilang kau mau bunuh diri karena bertengkar denganku,” ucap Kyuhyun asal. “ya! Aku itu murah hati, aku akan memaafkanmu dengan lapang dada asal kau mau minta maaf padaku terlebih dulu,”

Pintu kamar mandi terbuka dan Seohyun muncul dengan wajah yang jengkel. Tangannya terlipat di depan dada.

“Dasar anak SMA! Sempit sekali pikiranmu! Aku itu mau mandi bodoh!” semburnya. “apa kau mau ikut?” Seohyun mengubah nada suaranya menjadi sedikit menggoda.

Ucapan Seohyun barusan membuat Kyuhyun merubah mimiknya. Wajahnya terlihat enggan bercampur keyakinan 100% mengiyakan pertanyaan Seohyun.

“Aku boleh ikut?” tanyanya menunjuk dirinya sendiri.

“Tentu saja tidak, bodoh! Dasar maniak!”

Kembali Seohyun menutup pintunya dan menguncinya rapat-rapat. Takut-takut Kyuhyun akan menganggap serius ajakannya tadi dan rela mengusahakan berbagai macam cara untuk bisa masuk ke dalam.

Seohyun menanggalkan seluruh pakaiannya dan segera berendam dalam bathub berisi air hangat.

“Ternyata aku selalu salah menilai orang,” keluhnya sembari menghembuskan napas panjang.

Matanya terpejam sementara pikirannya dibuat rileks oleh aroma lavender yang menyeruak dari air hangat dalam bathub.

“Dimulai dari Donghae oppa dan sekarang  Kyuhyun. Aku pikir anak setan itu jauh lebih dewasa dariku, lebih pendiam, dan cool seperti idamanku. Tapi ternyata, haisssh..” tangannya memijit-mijit kepalanya sendiri yang berkedut.

“Ya Tuhaan tidak bisakah kau menemukanku dengan pria yang lebih normal?”

Keluh kesah Seohyun terus diucapkannya, sementara terdengar suara pintu kamar mandi yang diketuk.

“Seohyunie apa kau masih disitu?” suara Kyuhyun terdengar.

“Tentu saja!” sembur Seohyun. “haiissh kau itu bisakah memanggilku sedikit lebih sopan? Bagaimana pun aku ini lebih tua darimu!”

“Aku kan tunanganmu, seharusnya kau malah yang memanggilku oppa,”

“Huh! Yang benar saja bocah itu,” umpat Seohyun pelan.

Kyuhyun terlihat berpikir, “Baiklah Seororo ayo kita bicara baik-baik.”

“Ya! Kau itu darimana dapat panggilan seperti itu, huh?”

“Dari gambar kodok hijau jelek yang menghiasi kamarmu,” ucapnya santai.

“Dia itu punya nama, namanya Keroro.”

“Ah terserahlah. Ayolah ahjumma kita bicarakan baik-baik,”

BLETAK

Seohyun melempar sebuah sikat kamar mandi yang berada didekatnya ke pintu untuk menjawab pertanyaan Kyuhyun sambil mengumpat beberapa kata serapah. Kyuhyun sempat tersentak dengan bunyi gaduh yang dihasilkannya dan lantas mengelus dadanya sendiri karena kaget.

“Baiklah, aku tak akan memanggilmu seperti itu lagi. Tapi sampai kapan kau mau berkubang disitu, huh?”

Seohyun bernyanyi riang sambil memainkan busa dalam bathub untuk meredam suara Kyuhyun yang masih mengintrogasinya.

“Hm bagaimana kalau kubilang aku punya kabar baik,” Seohyun masih tak menjawab, tetapi volume bernyanyinya dipelankan untuk mendengarkan Kyuhyun bicara. Bagaimanapun ia penasaran akan informasi dari anak tukang buat masalah itu.

“Tadi ibuku telpon. Dia bilang masih lama berada diluar negeri, jadi jatah penitipanku padamu diperpanjang. Kau senangkan?”

Mata Seohyun spontan mendelik. “MWOYA?! Ya! Apa yang kau bicarakan barusan?”

Kali ini gantian Kyuhyun yang tidak menjawab dan menghiraukan semua pertanyaan ngotot Seohyun. Ia melipat tangannya di depan dada dan melenggang pergi dari depan pintu kamar mandi sambil tersenyum setan.

♥♥♥

“Apa benar ibumu berbicara seperti itu? Jangan-jangan kau hanya menyabotasenya!”

Kejadian semalam terulang lagi, tapi kali ini Seohyun yang mengekori Kyuhyun dengan berondongan pertanyaan bernada jengkel. Tapi Kyuhyun sama sekali tak menjawab. Dirinya asik saja menjalankan aktifitas paginya; menyikat gigi, mencuci muka, & menyantap nikmat sarapan paginya.

“Ya! Keluar kau! Berikan nomor ibumu dan akan kupastikan kebenarannya sendiri!” Seohyun terus meneriaki pintu kamar Kyuhyun untuk memanggil penghuninya, tapi tetap tak ada respon.

“Yang benar saja! Masa aku harus berlama-lama dengan anak mesum dan kekanakkan seperti dia?” rutuk Seohyun pelan. “ya buka pintunya! Awas saja kalau kau tak membukanya!”

Dalam satu gerakan cepat Kyuhyun sudah membuka pintunya dan memojokkan tubuh Seohyun pada tembok dengan kedua lengan kekarnya.

“Apa? Apa yang akan kau lakukan kalau aku tidak juga keluar kamar?” suara Kyuhyun begitu lembut. Tatapannya sama seperti pertama kali mereka bertemu, begitu dingin dan dalam. Lagi-lagi ini membuat Seohyun membeku, tak melakukan perlawanan bahkan tak berkutik sedikit pun.

“Apa kau akan melakukan yang seperti ini?” Kyuhyun mengecup lembut bibir Seohyun. Tak seperti dulu, kali ini mata Seohyun terpejam. Hembusan napas Kyuhyun di wajahnya membuat aliran darah Seohyun berdesir, membuat laju jantungnya dua kali lebih cepat dari biasa.

Kyuhyun menghentikan ciumannya dan menatap Seohyun yang masih memejamkan matanya.

Ia terkekeh pelan. “Kali ini kau menikmatinya ya?” lalu menarik sudut bibirnya dan membentuk senyuman jahil khasnya.

“Hn?” jawab Seohyun yang masih memejamkan matanya.

“Bagaimana kalau yang kedua?” Kyuhyun mendekatkan lagi bibirnya ke bibir Seohyun.

“Hyun-ah!!”

Pekikkan familiar seseorang mampu membuat Seohyun tersadar dari perasaanya yang berada di awang-awang. Segera ia membuka matanya sebelum bibir Kyuhyun mendarat—yang kedua kalinya hari ini—di bibirnya. Kepalanya menoleh pada sumber suara.

Refleks Seohyun mendorong jauh-jauh tubuh Kyuhyun.

Donghae tengah berdiri dengan tubuh yang bergetar hebat. Matanya mendelik lekat pada dua makhluk yang baru saja bermesraan di depannya itu. Mulutnya berkomat-kamit. Tidak jelas apa yang diucapkannya. Tubuhnya pun mematung ajeg bak patung kutukan maling kundang.

♥♥♥

“Kau benar-benar harus menjelaskan semua ini padaku Seohyun-a,” ucap Donghae dengan nada tegasnya. Kini ketiga pelaku utama adegan tadi sudah duduk bersama-sama mengelilingi meja pendek kecil di ruang TV.

Seohyun hanya diam. Matanya tak memandang satu pun dari kedua lelaki itu. Bukannya takut dengan Donghae, tapi karena ia memang bingung mengenai apa yang harus di jelaskan pada Donghae. Kalau dipikir-pikir, masalah ini kan tak ada hubunganya dengan Donghae; teman dekat bukan, tetangga bukan, saudara dekat bukan, saudara kandung apalagi, well kakak angkat memang, tapi itu kan hanya dia yang menganggap begitu.

“Kau itu sebenarnya siapa, huh?”

“Diam kau. Kau mau wajah mesummu itu kulayangkan tinju mautku lagi?” tukas Donghae tanpa menatap wajah Kyuhyun yang sudah membiru di bagian pinggir bibirnya. Matanya terus saja mengarah ke Seohyun untuk menanti jawaban yang tak kunjung dikeluarkannya.

Kyuhyun mengelus pinggir bibirnya yang membiru. Gusinya terasa nyeri dan ada rasa besi bercampur asin dalam mulutnya yang berasal dari darah di sela giginya.

Kejadian sejam yang lalu benar-benar seperti adegan film slow motion; detik-detik dimana Donghae memergoki mereka, berlari ke arah mereka, dan memukul wajah Kyuhyun dengan segenap kemarahannya.

“Baiklah akan ku jelaskan padamu. Dia itu anak teman eomma ku yang dititipkan karena orang tuanya sedang pergi keluar negeri. Semua saudaranya jauh, jadi itu sebabnya ia dititipkan padaku yang punya rumah tak jauh dari sekolahnya,” jawab Seohyun akhirnya.

Ia ingin segera menyelesaikan perbincangan menyebalkan ini dan menyeka bibir Kyuhyun dengan air dingin agar memarnya membaik. Ia merasa iba pada Kyuhyun, karena bagaimana pun ini bukan sepenuhnya kesalahannya. Salah sendiri lelaki setengah gila itu menerobos masuk kerumahnya tanpa mengetuk pintu terlebih dulu. Dan perihal ciuman tadi, Seohyun juga sempat menikmatinya kan? Eh.

Ia beralasan pada Donghae kalau ciuman tadi itu adalah sebuah ketidak sengajaan; Seohyun tengah menunggu untuk bergantian memakai kamar mandi yang berada tepat di depan kamar Kyuhyun, lalu Kyuhyun keluar dari kamar mandi dan kakinya tersandung keset didepannya. Karena oleng ia tak bisa mengendalikan tubuhnya dan akhirnya menubruk Seohyun yang berada didepannya. Dan akhirnya ciuman itupun terjadi.

Bersyukur Donghae bisa menerima alasan itu. Dan oh iya! Ada satu yang mengganjal pikiran Seohyun sejak tadi.

“Bagaimana bisa kau tahu alamatku? Yang kuingat, semalam aku tak memberitahu apapun padamu,” selidik Seohyun pada Donghae yang tengah beradu tatap dengan Kyuhyun.

Donghae menoleh dan wajah angkernya pun melemah. “Ak..”

“Oh rupanya kau bertemu senior SMA mu yang ini?” potong Kyuhyun. Matanya memindai tubuh Donghae sedetail mungkin, lalu ia terkekeh puas sembari mengelus pinggir bibirnya yang makin nyeri karena tertarik ketika ia tertawa. “kalau yang model seperti ini sih, aku tak akan cemburu sama sekali. Wajahku lebih tampan darinya dan jika diteliti lebih lanjut, sepertinya dia idiot.” ia menarik sudut bibirnya dan memamerkan senyum angkuhnya.

“Ya! Aku itu kakak angkat Seohyun, kau tahu!” Donghae berargumen. Ia melemparkan senyum kemenangan pada Kyuhyun.

Kyuhyun mengerutkan dahinya, “Kakak angkat? Yang benar saja! Mana mau Seohyun punya kakak idiot sepertimu?”

Mereka saling mengeluarkan kalimat ejekan satu sama lain dan ujung-ujungnya hampir berkelahi. Untung Seohyun mengambil tindakan tepat pada waktunya dengan menjitak kedua kepala lelaki di sampingnya itu.

“Jadi, darimana kau dapat alamatku?” ujar Seohyun ketus.

Donghae menoleh ke arah Seohyun sambil mengelus kepalanya yang masih nyeri. “Kau jangan berkata kasar seperti itu Hyun-ah.”

Seohyun memelototi Donghae yang tak kunjung menjawab pertanyaannya.

“Aku dapat dari ibumu. Semalam, setelah secara tiba-tiba kau meninggalkanku, aku merasa sangat sedih. Dan lalu kuputuskan ke rumah ibumu dan mencari tahu alamatmu yang sekarang,” jawab Donghae akhirnya dengan wajah memelas.

“Jadi kau ke Daegu malam-malam?” suara Seohyun naik setengah oktaf. Donghae hanya mengangguk pelan. Benar-benar gila pria yang satu ini. Dipikir Seoul-Daegu dekatnya hanya 10km apa.

Kyuhyun tertawa mengejek sambil bergumam, “Benar kataku, dia itu idiot.”

Seohyun beranjak dari duduknya lalu berjalan menuju dapur dan mengambil seperangkat alat kompres untuk mengobati luka memar Kyuhyun.

“Baiklah sudah kupikirkan, aku akan menginap di rumahmu Hyun-ah,” ujar Donghae mantap.

“Mwoya?!” Seohyun berteriak kencang dari dapur, es batu yang sedang dipegangnya hampir jatuh mengenai kakinya saat ia mendengar ide gila itu. “Ya! Kau pikir rumahku itu motel!” semburnya sembari membanting sebaskom penuh air dingin di meja depan Donghae. Airnya muncrat kemana-mana dan lontaran es batu yang berhamburan keluar hampir mencolok mata Donghae.

“Ya! Kau itu tak tahu diri sama sekali! Sudah masuk ke rumah orang tanpa memberi salam, sekarang mau tinggal disini. Enak saja!” Kyuhyun angkat suara.

“Siapa yang kau bilang tak tahu diri, huh? Salah sendiri tidak ada yang mendengar ucapan salamku tadi, jadi aku langsung masuk dan kebetulan pintunya juga tidak dikunci. Lagipula, kau saja yang orang lain bisa menginap di rumah adikku yang manis dan tanpa dosa itu, kenapa aku tidak?” sentak Donghae.

“Enak saja, aku itu bukan orang lain! Aku itu tun..” belum sempat Kyuhyun menyelesaikan ucapannya, Seohyun buru-buru menempelkan kompresan ke bibir Kyuhyun dengan kasar sambil berdesis, “Kau itu jangan bilang macam-macam, bodoh.”

Kyuhyun pun mengaduh kesakitan karena  memarnya kembali berdenyut.

“Baiklah untuk memastikannya aku akan menelepon eomma mu dan meminta izin padanya, eotokhae?”

Sebelum Seohyun mengiyakannya, Donghae sudah mengambil ponselnya dan melakukan panggilan.

“Yeoboseyo. Annyeong haseyo ahjumma. Ini aku Lee Donghae. Ah bagaimana kabar mu?” Donghae berbasa-basi diawal percakapannya dengan eomma Seohyun. Selanjutnya ia langsung menyatakan tujuannya menelepon dan tanpa disangka eomma Seohyun mengabulkan permintaanya untuk menginap di apartement Seohyun.

“Kau pasti mengada-ada! Sini kemarikan ponselnya!” Seohyun mengambil paksa ponsel itu dari tangan Donghae.

“Yeoboseyo, eomma yang benar saja,”

“Tidak ada salahnya Seohyun-a.” potong eommanya. “hitung-hitung menambah pelindungmu disana, lagipula Kyuhyun kan jadi tidak kesepian dan punya teman ngobrol sesama lelaki,”

Seohyun hanya mendesis kesal. Ia menyerahkan lagi ponsel itu pada Donghae yang telah tersenyum penuh kemenangan.

“Yeoboseyo, ahjumma terima kasih ya atas izinmu itu. Aku akan menjaga Seohyun dari semua lelaki mesum,” Donghae meilirik Kyuhyun.

“Iya sama-sama. Kau juga harus baik pada Kyuhyun. Bagaimana pun dia itu murid Seohyun di sekolahnya.” mata Donghae melotot dan jantungnya hampir berhenti berdetak. Ponselnya yang digenggamnya jatuh begitu saja. Ia menatap nanar ke arah Seohyun.

“Ja-jadi yang merebut ciumanmu itu adalah muridmu sendiri?” suaranya bergetar. Seohyun hanya menundukkan kepalanya malu sedang Kyuhyun masih seperti tadi; duduk santai dengan wajah tak bersalahnya sambil mengompres sendiri lukanya.

Tubuh Donghae makin bergetar hebat. Lalu ia berteriak kencang, tapi kali ini ia tak memukul wajah Kyuhyun seperti tadi, melainkan tangis kesedihan yang keluar.

“Ya Tuhaan apa sebenarnya dosa Seohyun-ku, sampai-sampai ia dinodai oleh muridnya sendiri?” ujarnya lirih. Wajahnya tertunduk, tangis yang dikeluarkannya bertambah volume. Mulutnya berkomat-kamit mengeluarkan puluhan kalimat penyesalan yang sama sekali tak dimengerti oleh Seohyun dan Kyuhyun.

♥♥♥

Suasana makan malam kali ini sedikit aneh. Tak ada yang mengeluarkan suara, hanya dentingan sumpit yang terdengar.

“Kenapa masakanku hari ini tidak asin sama sekali?” Seohyun berujar pada dirinya sendiri sambil mengecap makanan di mulutnya.

Dan dua pria itu langsung berbarengan ingin mengambil garam untuknya. Lagi-lagi mereka adu mulut—saling berebut mengenai siapa yang akan memberikan botol kecil berisi garam itu pada Seohyun.

Seohyun tak sempat melerai keduanya. Semua isi perutnya seakan berlomba ingin keluar. Ia segera berlari ke wastafel dan menumpahkan semua isi perutnya. Donghae dan Kyuhyun serentak berlari menghampiri Seohyun yang masih sibuk dengan isi perutnya.

“Apa kau baik-baik saja?” ucap Donghae Kyuhyun berbarengan, sekilas mereka saling menatap jengkel.

“Aku tidak apa-ap..” isi perut Seohyun kembali keluar.

Ini menimbulkan spekulasi di kedua otak lelaki itu. Mereka berpikir sebentar dan seperti koor, mereka berteriak berbarengan. “Jangan-jangan kau..”

—TBC

Hayoo apa yang sebenarnya terjadi pada uri Seohyun-a?

Ghehehe gimana dosdos ceritanya? Tuh kan latarnya berganti dikit banget T.T

Dari tadi aku ngga banyak cuap-cuap nih. Efek puasa kali yah (?)

Hei komen!!! yang ngga komen ngga bakal saya kasih pw kalo lanjutan ff ini di protect!!

192 thoughts on “Sonsaengnim, saranghaeyo! (Part. 4)

  1. amppppppppuuuuuuunnnnnnnnnnn Hae oppa sister complex banget sih!!! kkkkkk
    ganggu SKM mulu kerjaannya…
    eh itu seohyun knpa??? okey lanjuttt

  2. Donghae kok pabo gitu sih.
    Kyu lg narsis bgt bilang kalo dia lebih ganteng dari donghae. Haha
    keren ceritanya

  3. Jgan” seo unni hamil😮 ,tpi kpan seokyu nglakuin nya? Ih hae oppa knpa sfatnya kya gtu mnggelikan😀 ,daebakk ff

  4. aishhh hae kamu ngapain disitu nak?? ganggu skm aja sih.. padahal tadi udh berhasil kyu nyium wkwk aduh bahaya deh.. org sister complex kaya hae mesti dibasmi nih apalagi udh ganggu skm haduuhh make acara dia ikutan tinggal sama seokyu lagi haduuuuhh -.-
    si seo ga kenapa2 kan?? gamungkin kalo dia hamil kan? aigo gamungkinnnnnmn
    lanjut bacaaa😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s