Remember Me (Part.7)


Seo Joohyun/Cho Kyuhyun/Jung Yonghwa & The others cast. | Romance & Friendship | PG-15.

Original by AdillaSB:

WARNING: YANG BACA WAJIB KOMEN YA. SEBAGAI WUJUD APRESIASI TERHADAP FF INI.

Part. 7 : “Tidak mudah menentukan pilihan.”

“Kau memintaku kesini? Ada apa onnie?” Seohyun mengeritkan dahinya, menatap ragu seorang wanita didepannya.Wanita itu menatapnya dengan serius, tanpa kerut apapun diwajahnya.

“Kemarin kau menjenguk Kyuhyun?” tanyanya hati-hati.

“Ne, Victoria onnie. Aku hanya menemani Sungmin-ssi, tidak lebih dari itu.” Seohyun memainkan kesepuluh jarinya. Faktanya memang bukan itu alasan utama ia datang kesana, tetapi lebih kepada rasa khawatirnya yang besar pada Kyuhyun. Namun, tidak mungkin baginya mengakui semua itu.

Atmosfer yang ada kini jauh 180 derajat berbeda dengan ketika mereka SMP dulu, saat keduanya sepakat untuk saling bantu menarik hati Kyuhyun. Seohyun membuka matanya lebar; Wanita didepannya tidak lagi membuat lengkung senyum pada bibirnya, tatapannya yang ramah kini juga berubah seperti hendak menghujam. Kekecewaan jelas sekali terlihat dari wajahnya yang terus datar. Ia pun tidak bisa menyalahkan keadaan, semuanya hanya karena tidak adanya ketepatan takdir antara mereka. Dan siapa yang bisa merubah itu semua?

Seohyun memberikan senyum menyerah, bagaimanapun ia juga merasa bersalah karena harus meninggalkan Victoria tanpa alasan yang jelas dan pergi tanpa menepati janjinya untuk merubah Kyuhyun sepenuhnya. Ia tahu, Victoria menaruh banyak harapan padanya saat itu, ia percaya Seohyun dapat merubah ‘pria abnormal’ itu menjadi lebih baik, walau terbentur pada kenyataan bahwa cerita mereka berakhir tragis.

“Aku tahu kau begitu membencinya dan—“

“Tidak onnie, aku tidak membencinya. Ya, mungkin aku memang pernah membencinya, tapi—“

“Kau tidak bisa melupakannya? Benar?” Nada bicara Victroria terdengar memojokan, walau dengan ritme yang sama dengan sebelumnya. “aku tidak mengerti mengapa kau pergi begitu saja, bahkan ketika kecelakan besar terjadi padanya kau berusaha menutup mata dan telingamu. Tidakkah kau merasa itu terlalu kejam, Seohyunnie?”

“Maaf onnie, tapi seharusnya kau yang lebih mengerti. Kau yang lebih mengenal bagaimana perjuanganku, kau lebih paham itu. Seharusnya kau bisa memahami masalahku, bukan memojokan aku seperti ini.Saat itu aku—“

Perdebatan mulai terjadi dengan argumen yang saling memotong ditengah pembicaraan. Seohyun tidak ingin dirinya terus dipojokan, ia tidak merasa sepenuhnya salah. “Seohyun, aku mengerti. Dan aku sangat mengerti bagaimana sulitnya kau melupakan Kyuhyun. Aku paham mengapa kau harus pura-pura membencinya saat ini. Semua ini kau lakukan karena kau tidak ingin membuat usahamu untuk melupakannya sia-sia begitu saja, benar?”

Seohyun mengangguk, “kalau begitu kau juga mengerti bagaimana susahnya aku membuat Kyuhyun melupakanmu, kau tahu aku harus mengarang cerita tentang kehidupan masa lalunya dulu? Tentu kau mengerti semua itu. Jadi aku mohon padamu, Seohyun, jangan biarkan usaha kita sia-sia begitu saja.”

“Tanpa kau minta pun aku akan tetap melupakannya onnie, kau jangan khawatir…” Seohyun memilih untuk pergi, bukan enggan untuk berhadapan dengan Victoria  namun ia belum merasa mampu untuk membuat kesepakatan kedua kalinya. Kyuhyun jelas menempati posisi yang sama lagi dalam pikirannya kini, dan pasti sulit untuk merubahnya.

*

“Habiskan minumanmu.” Sungmin memalingkan paksa wajah Kyuhyun yang memandangi seseorang disebrang jendela, menghadapkannya pada sebuah Capuccino yang belum tersentuh cangkirnya bahkan asap yang seharusnya keluar sebagai aroma penyengat kini tak tercium lagi. Sontan tangan yang menopang dagu Kyuhyun jatuh menyentuh permukaan meja.

“Haish, kau mengganggu saja…” Gerutu Kyuhyun, lalu kembali pada posisinya.

“Kyuhyun-ah, apa kau sudah mendengar kabar perpisahan mereka?” Sungmin memulai pembicaraan dengan topik yang berat, berharap dapat mengalihkan pandangan Kyuhyun yang hanya terpaku pada satu titik itu.

“Siapa yang kau maksud?” Pertanyaan itu sukses membuat Kyuhyun meninggalkan pemandangannya sejenak dan memilih untuk mendengar hal itu lebih seksama.

Kyuhyun mengerutkan dahinya, “Seohyun?” tanyanya lagi tidak percaya.

“Siapa lagi?”

“Apa maksudmu? Ia dan Yonghwa…?” Sebelah alis Kyuhyun mengangkat, sungguh sulit menggambarkan perasaan yang ia rasakan saat mendengar hal tersebut. Senang; itu pasti, namun jika memang itu benar ada satu tanda tanya besar yang mengusik pikiran Kyuhyun saat ini. Mengapa mereka harus berakhir? Mereka terlihat baik-baik saja, bahkan memang seharusnya tidak akan ada masalah yang mengganggu hubungan mereka. Semua tau mereka saling mencintai dan itu cukup.

Kyuhyun memutar otaknya, membiarkan pikirannya menebak-nebak sesuatu yang telah terjadi sebelumnya. “Kau yakin?Uhm apa… Maksudku, Kenapa tiba-tiba?” Kalimat tak beraturan yang keluar dari mulut Kyuhyun mencerminkan dengan jelas perasaan tak karuan yang kini ia rasakan, Menyusun kalimat menjadi perkara sulit untuknya kini.

‘Pantas saja hari ini Seohyun terlihat berbeda, seolah awan hitam terus membuntuti bayangannya.’ Pikir Kyuhyun. Dentuman kedua bilik jantungnya yang saling beradu cepat terdengar sangat jelas, Kyuhyun menyipitkan matanya tak sabar menunggu jawaban yang keluar dari mulut sahabatnya itu.

“Aku tidak tahu, Aku hanya mendengar ini dari gadis-gadis yang bercakap tadi pagi. Mereka bertengkar didalam Ruang Latihan, orang-orang yang berlalu lalang disekitar mereka tentu mendengarnya, sepertinya memang ada pertengkaran besar terjadi.”

Kyuhyun tak dapat berkomentar, hanya membentuk huruf O pada bibirnya.  Semua yang ia dengar beberapa detik yang lalu membuat bibirnya tertutup rapat, apa yang harus ia katakan? Memaparkan kebahagiaannya? Tidakkah itu sesuatu yang gila, seperti menabur garam pada luka orang lain. Ia bukan tipe orang jahat, tapi apakah dia harus turut berpura-pura berkabung atau semacamnya? Hey,itu terdengar lebih jahat. Kyuhyun membiarkan Sungmin menyelesaikan ceritanya, dan merespon sekenanya dengan mengangguk.

*

“Oppa, kau hanya mengikuti emosimu… dewasalah.” Seohyun menghela nafas, berharap kekecewaan yang kini menenggelamkannya sedikit menyusut.

“Aku tidak ingin membicarakannya lagi bisakah kita tunda pembicaraan ini?” Tanya Yonghwa disebrang telepon, Nada suaranya juga menggambarkan keterpaksaan. Ini bukan sesuatu yang mudah dibicarakan tanpa menatap muka satu sama lain, Yonghwa memilih menundanya dan Seohyun hanya mengikuti intruksi sang namja. Dan mereka mengakhiri sambungan tersebut dengan akhir yang masih belum jelas.

Seohyun menyeka keringatnya, mengingat kejadian tempo hari membuatnya ingin menangis.

“Sudahlah jangan menangis…” Yonghwa menghapus jalur air mata yang membekas dikedua pipi Seohyun dengan permukaan ibu jarinya.

Seohyun terdiam, membiarkan kedua tangan besar itu mengusap wajahnya pelan. Ia tidak bisa menolak permintaan Yonghwa, berkata pun bahkan ia sulit. Seperti ada perekat yang menutup mulutnya. Karena akan percuma saja, sedari tadi mereka berdebat dan keputusannya tetap tidak berubah.

“Kau mencintainya, sudah pasti kau bahagia dengannya. Dan itulah tujuanku disini, membuatmu bahagia. Mengapa kau sekarang menangis?Seohyun-ah hentikan, aku hanya ingin menepati janjiku…”

Kalimat terakhir itu kini berputar dikepalanya, mengusir paksa rumus-rumus fisika yang beberapa menit  lalu ia pahami dengan susah payah. Ia membiarkan batang pohon yang kokoh disebrang lapangan itu menopang tubuhnya sejenak selagi ia bersandar. Yonghwa… Ia memang belum sepenuhnya mencintai pria itu karena ia baru akan memulainya, tepat ketika Kyuhyun datang kembali. Dan menghapus Kyuhyun dari hatinya pun bukan perkara yang mudah untuk Seohyun.

Seohyun memutar bola matanya kearah kanan, Seseorang—yang juga ia pikirkan sekarang—sedang memperhatikannya dari balik jendela Caffe.

Seohyun menarik nafas untuk kesekian kalinya, ia mengutuk keadaan yang kini terjadi. Menyesalkan posisinya yang terapit kedua pemuda yang sama-sama baik, dan istimewa dihatinya. Ia menatap lukisan biru langit yang kosong, menerawang jauh kebalik gumpalan awan putih yang menutupinya.

Kini ia menyakinkan hatinya lagi. Benar, keduanya sangat berarti…

*

“Kyuhyun-ssi kau sedang apa disini?” Seohyun menghentikan langkahnya ketika hendak memasuki gerbang rumahnya. Seseorang yang ia sebut tadi menunggunya—tubuhnya tersandar pada dinding disisi gerbang, tangannya dilipat diatas dada— dengan sabar.

“Hanya ingin menanyakan  sesuatu…”

Seohyun mencium tanda yang mencurigakan dengan penggalan dari kalimat yang Kyuhyun katakan, Sesuatu? Apa lagi kalau bukan mengenai hubungannya dengan Yonghwa. Gosip memang mudah sekali menyebar dikalangan kampus, seharusnya ada sub materi mengenai adab menutup mulut mengenai masalah orang lain dalam pelajaran etika disekolah. Mengapa orang menyukai ketika harus berbicara masalah yang bukan masalah mereka?

Seohyun memasang wajah jutek andalannya, ia tidak bisa menjelaskan mengenai hal ini. Entah karena kebencian masa lalu itu masih tersisa, atau karena memang ia sudah biasa memasang wajah juteknya dihadapan Kyuhyun sehingga sulit merubah kebiasaan itu. “Jika ingin membicarakan tentang hubungan kami, aku tidak ingin membicarakannya. Ini bukan urusanmu..” Seohyun meneruskan langkahnya sebelum genggaman Kyuhyun pada pergelangan tangannya membuatnya berhenti.

“Aku tidak akan menanyakannya jika itu benar tidak ada kaitannya dengan ku,Seohyun. Tapi jika ia, sudah sepantasnya aku menanyakan hal ini.”

Seohyun terdiam sejenak, pernyataan tersebut tidak salah memang. Tapi bagaimana harus mengatakannya didepan orang yang bersangkutan?sama halnya dengan membenarkan perkataannya dan nantinya ia harus menjelaskan rentetan pertengkaran yang terjadi diantara ia dan Yonghwa pada Kyuhyun. Dan secara tidak langsung mengakui bahwa ia mulai jatuh cinta lagi padanya, serta mengungkap kisah pahit masa lalunya sekali lagi pada orang yang ia maksud.

Seohyun menggeleng, tidak mungkin untuk mengakuinya.

Kyuhyun mengendurkan genggamannya; tidak ingin membuat Seohyun tidak nyaman dengan situasi ini. “Aku tidak ingin memaksamu, paling tidak beri tahu sesuatu jika itu memang berkaitan dengan aku, Seohyun. Aku tidak tenang mendengarnya.”

“Jangan khawatir, ini tidak ada kaitannya denganmu Kyuhyun-ssi.”

“Benarkah?”

“Kelihatannya?”

Kini Kyuhyun melepas genggamannya, kemudian memilih untuk menatap gadis dihadapannya. Mimik wajah Seohyun datar ,dan selalu seperti itu. Entah ia bisa membaca apa dari petunjuk itu, namun  kerut wajah Seohyun jelas memperlihatkan kegelisahannya.  Seolah berkata ‘jangan tanyakan ini,kumohon.’

Apa boleh buat, Kyuhyun tidak bisa memaksanya. Percuma saja, ia juga tidak ingin membuat gadis yang ia sukai ini risih dengan kehadirannya.

“Kau sudah tahu, dan kau bisa pulang sekarang!” pinta Seohyun dengan nada sedikit memohon.

“Kau tidak menjawab apapun, Seohyun.” Kyuhyun beranjak pergi, sementara Seohyun masih pada posisinya. Situasinya kini benar-benar rumit, berat rasanya melihat punggung bidang itu semakin jauh dari pandangannya. Sama halnya ketika melihat senyum Yonghwa yang kini menjadi barang yang langka.

*

“Yeah…”sorak penonton seusai menyaksikan sebuah grup band kampus bernama CNBlue itu menyelesaikan lagu keempatnya. Suara wanita lebih mendominasi suara ricuhnya orang-orang yang berdiri sambil bertepuk tangan dengan lightstick atau tulisan karton yang mereka bawa, dan begitulah yang kita sebut dengan Fans.

“Kau selalu menakjubkan, oppa.” Puji Seohyun, menyapukan sapu tangannya pada wajah Yonghwa yang berkeringat.

Entah kenapa hal sewajar itu terasa canggung kini, Yonghwa menatap heran wanita dihadapannya walaupun matanya dengan jelas memancarkan tatapan kekaguman. “Mengapa kau datang kesini?”

“Aku datang kesini bukan sebagai Seohyun, tapi sebagai Fans mu.”

“Kau berlebihan, Seohyunnie.”

Seohyun tertawa kecil, “Apa kau sibuk setelah ini? Bisa kita keluar sebentar? Kau tahu masih ada yang perlu kita selesaikan.”

Yonghwa mengangguk, kemudian menggenggam tangan kecil Seohyun dan memasukannya kesaku jaketnya. Berusaha sebaik mungkin membuat Seohyun nyaman agar terlihat seperti biasa, walau pada kenyataannya semua terasa berbeda kali ini.

Mereka memilih bangku kayu yang terletak ditaman sekolah, harus jalan beberapa menit untuk menuju tempat itu. Memikirkan apa yang akan mereka bincangkan pastinya membutuhkan suasana yang tenang, tempat tadi terlalu ramai karena banyak kegiatan yang akan dilakukan disana karena ini Festival Sekolah.

Setelah merasa tempat tersebut benar nyaman untuk memulai pembicaraan, Yonghwa angkat bicara. “Apa lagi yang akan kita selesaikan?” tanyanya mengeluarkan tangan mereka yang saling bertautan itu keluar sakunya, kemudian meletakan tangan Seohyun dipermukaan bangku tersebut.

“Soal hubungan kita, apa kau tidak merasa semua ini masih menggantung?”

“Tidak, semuanya selesai. Hentikanlah Seohyun jangan cari aku untuk membicarakan hal ini, kau tahu ini sama halnya dengan menyiksaku?”

“Tapi tidak adil mengakhiri ini dengan keputusan sepihak, Oppa kau tidak mengerti apapun. Aku tidak…”  Seohyun tidak sanggup melanjutkan kalimatnya, bibirnya seperti enggan untuk meneruskan sebuah kebohongan lagi. Tadinya ia hendak meyakinkan Yonghwa tentang perasaannya pada Kyuhyun yang telah memudar—walau jauh berbeda dengan kenyataannnya—.

“Berhentilah berbohong, katakan lagi setelah Mata dan bibirmu kompak mengeluarkan isi hatimu.”

“Oppa…”

“Aku tidak apa-apa, Seohyun. Aku pasti bisa menyembuhkan luka ini, kau jangan khawatir.”Kata Yonghwa sebelum pergi dari hadapannya.

Seohyun tersenyum, senyuman yang tulus dari hatinya. Ia memang sudah berpisah kini, namun entah kenapa ia merasa benar-benar berat meninggalkan pria dihadapannya sekarang. Pria ini tulus mencintainya, berbeda dengan apa yang ia pikirkan setahun yang lalu ketika pertama mengenalnya.

Flashback

Seohyun menghela nafas panjang, menyaksikan pemandangan didepan yang benar-benar asing baginya. Ia sudah berusia 18 tahun, sudah saatnya ia memulai masa indahnya di Perguruan Tinggi tempat dimana ia berpijak sekarang.

3 tahun di Seoul tidak dapat merubah apapun dalam hidupnya, bayangan pria yang telah menggoreskan luka pada hatinya tetap tidak bisa menghilang. Sulit membuatnya memulai kehidupan baru selayaknya gadis remaja yang dipenuhi romansa cinta dimana-mana. Ia merasa tidak jauh berbeda dengan ketika ia masih di Korea Utara.

Sudah tepat seminggu Seohyun belajar di Universitas ini, baginya belajar ditingkat mana pun sama saja hanya taraf kesulitannya saja yang berbeda. Seohyun menatap sekitarnya, para pria memberikan senyum terbaiknya ketika mereka berpapasan dengan Seohyun. Jelas ia terkenal sekarang, karena memang Seohyun sudah cantik sejak awal dan bertambah cantik seiring bertambahnya usia. Seohyun tak memberi tanggapan, hanya berjalan dengan bibir yang tak berlekuk sedikitpun. Jutek? Bukan maksudnya menampilkan sisi itu, hanya ia belum merasa bisa memberikan senyumannya pada pria disekelilingnya. Ia seperti lupa bagaimana caranya tersenyum setelah hatinya terluka cukup dalam.

Seohyun merebahkan tubuhnya pada sebuah batang pohon besar yang terletak disisi Lapangan, entah apa yang menarik tapi baginya spot itu satu-satunya yang ternyaman diseluruh sudut sekolah.

“Mengapa sulit sekali melupakanmu, Cho Kyuhyun.”Gumamnya.

Terdengar suara seorang pria tertawa kecil dari sisi lain pohon, “Mengapa kau selalu mengatakan itu disini?”tanya pria itu menampakan dirinya.

“Mwo?Ka-kau siapa?”

Pria itu menghela nafas, “Seharusnya aku yang bertanya padamu, kau selalu mengganggu tidurku tahu.”

“Kau?Selalu disini?” Seohyun tersentak, dari awal ia menginjakan kaki disini ia selalu ketempat ini tanpa menemukan satu orang pun tertidur disekitarnya, Seohyun menyipitkan matanya sedikit melemparkan tatapan menuduh pada pria dihadapannya. Ia tidak yakin pria ini berkata benar.

“Terserah kalau kau tidak percaya, yang jelas setiap harinya aku selalu mendengar kegalauan serta keluh kesahmu selama beberapa hari ini. Itu bukan kemauanku, kau yang tak menyadarinya.”

“Kau tahu menguping itu bukan perbuatan yang baik?”

“Tidak usah khawatir, aku tidak tertarik dengan kisahmu. Kau selalu mengeluhkan hal yang sama seolah hidupmu berakhir sampai disitu, aku sama sekali tidak tertarik dengan gadis sepertimu. Kau mudah menyerah, payah sekali.”

“Ya! Apa hakmu berkomentar seperti itu? Kau tidak tahu apa-apa jadi tutup mulutmu!” Bentak Seohyun yang kehilangan kesabaran. Pria didepannya ini dengan ringan berkomentar tentang dirinya. “Kau tidak mengerti…”Nada suara Seohyun semakin merendah, ia tidak ingin bercerita apapun mengenai dirinya pada pria asing itu. Tapi setiap komentar pria itu membuatnya semakin muak.

“Aku tahu, kau sulit melupakan seseorang yang selalu kau sebut namanya itu. Hm, sebenarnya bukan sulit tapi kau yang tidak memiliki keinginan yang kuat untuk melupakannya. Itu yang membuatnya sulit.”

“Tahu apa kau!”

“Jangan menangis dibalik topengmu itu, Jika memang kau bersedih kenapa tidak kau luapkan saja?Kau hanya belum mencoba melupakannya, belajarlah untuk membuka hatimu pada orang disekitarmu. Itu cukup membantu.”

“Kau benar…”Jawab Seohyun dalam hati. Sesekali ia memperhatikan pria yang sedang mengguruinya, entah karena angin atau memang aura pria ini yang membawa kesejukan baginya.

Pria itu menguap, kemudian meregangkan kedua tangannya keudara. “Aku pergi ya,selamat—“

“Tunggu!” Seohyun memberanikan dirinya angkat bicara, “Aku Seo Joohyun, dan kau?” Seohyun mengulurkan tangannya.

“Jung Yonghwa.” Pria itu membungkuk sopan setelah memperkenalkan dirinya, kemudian tersenyum untuk pertama kalinya. Senyuman yang sekali lagi membuat Seohyun merasa sejuk melihatnya.

“Kau sudah berkata banyak, dan ku pikir tidak ada yang salah dari apa yang kau katakan tadi. Aku merasa kau satu-satunya orang yang bisa ku percaya, dapatkah kau membantuku?”

“Membantumu?” Yonghwa mengulang kata terakhir Seohyun, Kata itu masih terasa janggal. Apa maksudnya? Yonghwa mendekatkan dirinya, sepertinya pembicaraan yang akan terjadi akan lebih serius.

“Aku mohon bantuanmu…” pinta Seohyun dengan nada memohon, sambil tetap pada posisi membungkuk pada pria bernama Yonghwa itu.

Yonghwa hanya menatapnya heran; bagaimana tidak, wanita yang baru ia temui bahkan baru beberapa menit yang lalu mengetahui namanya meminta bantuannya seperti itu. Ini bukan permintaan yang mudah, apa arti dari kata bantuan yang ia maksud?

“Aku ingin belajar membuka hatiku, Aku ingin memulainya dengan membuka hatiku untukmu.”

“Apa maksudmu?” Yonghwa terdengar lebih kaget dari sebelumnya. Baginya permintaan ini bukan sesuatu yang mudah, semuanya seperti sebuah beban.

“Aku mohon…”

“Kau mempercayaiku?”

“Tentu, karena itu aku memintamu.”

Yonghwa terdiam sejenak memikirkan apa yang harus ia katakan sebagai jawaban, tapi ia tentu ingin membantunya. Itu merupakan perbuatan yang terpuji. Tapi apakah ia bisa melakukannya? Ia tidak yakin sepenuhnya, “Baiklah. Aku akan berusaha sebisa mungkin membuatmu bahagia, membuatmu melupakan orang yang kau maksud. Kau bisa pegang janjiku?” Yonghwa menyodorkan jari kelilingkingnya.

Flashback End

Mengingat itu membuatnya miris, pertemuan yang awalnya konyol berakhir konyol pula. Seohyun ingin menghentikannya, ia tidak ingin berakhir seperti ini. Yonghwa pria yang berarti baginya, ia ikut andil dalam memperbaiki hatinya sekarang. Membuat—setidaknya— lebih baik dari sebelumnya.

Perlahan setetes air mengalir perlahan menuruni tulang pipinya, dan setelahnya tetesan air itu bertambah intensitasnya. Seohyun tidak dapat memerintah kelenjar air matanya untuk berhenti, karena memang hatinya perih sekali lagi. Bagaimana tidak? Disaat ia merasa mantap dengan pilihannya, Kyuhyun datang kembali dengan kepribadian yang sempurna. Yang lebih parah kini posisi mereka bertukar; Kyuhyun jatuh cinta padanya,seperti ia jatuh cinta pada Kyuhyun dulu.Ah menentukan pilihan memang sulit…

Seohyun menutupi wajah dengan kedua permukaan tangannya, takut takut isakan tangisnya lebih keras dan terdengar orang lain.

“Satu lagi wajah menangismu yang aku temukan,” Saut seorang pria, tangan nya yang besar mengusap kepala Seohyun perlahan dan membawanya ke dada pria itu yang bidang. Seohyun menurut saja, ia tahu betul siapa pemilik suara itu. Lagi pula untuk menolak pun ia tidak sanggup, Seohyun tidak bisa menunjukan wajahnya yang sudah pasti sangat kacau.

“Satu lagi koleksiku bertambah…” Pria itu mengalungkan lengannya kepunggung Seohyun, mengusapnya lagi. “Kau pasti sangat menyayanginya.”

Seohyun tetap tenggelam pada tangisnya, dentuman jantung pria itu yang cepat terasa makin menyiksanya. “Seohyun, aku menyesal mengganggu hubungan kalian. Sungguh aku tidak bermaksud un—“

“Kyuhyun-ah, ini tidak ada kaitannya denganmu…” Seohyun memilih berbohong lagi.

“Benar, aku datang disaat yang tidak tepat. Jujur aku menyukaimu, Seohyunnie. Aku sangat menyukaimu dari awal,tapi melihatmu yang seperti ini membuatku ingin menyerah. Aku tidak ingin merusak kebahagiaan kalian.”

Seohyun terdiam, kedua pria yang berarti baginya ternyata sangatlah kompak. Mereka memilih untuk pergi meninggalkannya dengan dalih ‘ingin melihatnya bahagia’. Tapi itu bukan solusi yang tepat, Seohyun terlanjur menyadari pentingnya mereka dalam hidupnya. Kehilangan salah satu sudah membuatnya cukup rapuh, apalagi kehilangan pasangannya? Seperti membawa diri menuju ajal.

Seohyun tidak bisa menjawab apapun, bukan membiarkan Kyuhyun pergi juga. Hanya saja ia tidak bisa menunjukan perasaanya kepada Kyuhyun. Terlebih karena ia sedang menangisi pria lain sekarang. Seohyun bukan wanita serakah yang menginginkan keduanya, ia pasti akan memilih salah satu diantaranya. Pasti. Hanya sekarang ia belum tahu siapa pilihannya.

Seohyun mengerakan kedua tangannya, mengaitkannya dibelakang punggung Kyuhyun dengan erat. Untuk saat ini ia benar-benar enggan mendengarkan kata perpisahan, ia hanya ingin ketenangan—atau paling tidak ditenangkan seseorang—.

Merasa sesuatu yang berbeda, Kyuhyun menghentikan ocehannya. Kini ia terdiam, mengikuti instruksi otaknya. Ia sadar bukan saatnya berbicara sekarang, ia datang untuk menenangkannya bukan menambah kesan haru dalam pembicaraanya

Yonghwa menatap keduanya dengan miris, meninggalkan Seohyun dengan situasi seperti itu bukan tipenya. Ia tahu betul bagaimana Seohyun, dan ia khawatir Seohyun menjadi sangat rapuh ketika ia pergi tadi. Tapi mengawasi dari jauh seperti ini merupakan pilihan yang sangat tidak tepat,dan sekarang ia  malah harus menyaksikan sesuatu yang ia hindari sejak awal.

Huh,  Melihat hal itu sangat menyakitkan baginya. Tapi itu terlihat cukup baik dibanding menyaksikan Seohyun tenggelam dalam tangisannya sendirian.  Paling tidak sekarang Yonghwa bisa tenang, seseorang disisi Seohyun. Setidaknya Seohyun bisa membagi rasa sedihnya. Tidak ada yang paling membahagiakan dibanding melihat wanita itu bahagia.

*

“Kyuhyun, bisakah kau menolongku sebentar?” teriak Victoria dari dapur. Sebelah tangannya memegang sebuah pengaduk adonan yang masih menempel dengan adonan tepung dan beberapa telur yang manjadi satu.

“Aish, aku sedang sibuk noona.” Jawab Kyuhyun masih sibuk dengan stick Playstasionnya.

“Ya! Kemari sebentar aku sedang sangat repot.”

Kyuhyun mendengus kesal, mengokohkan kakinya paksa sementara matanya masih terpaku pada permainannya. Ia mengacak rambutnya, mendengar teriakan kakak wanita nya yang seperti tidak akan berhenti. Kyuhyun mengeluarkan kepalanya dari balik pintu, sekedar melihat apa yang hendak dilakukan sang Noona untuknya. “Ada apa?”

“Bisakah kau ambil cetakan kue didalam gudang, anak Hankyung oppa akan berkunjung hari ini, Ia meminta dibuatkan banyak kue. Bantu aku sedikit…”tangan lain yang tak mengaduk adonan memegang sebuah mangkok berukuran besar yang berisi adonan lain dengan warna yang berbeda dari sebelumnya. Adonan kali ini terlihat lebih mengembang dan berwarna pucat

Kyuhyun tak punya pilihan lain, jiwa pria dewasanya tiba-tiba keluar seketika melihat Victoria yang memang sedang kerepotan. Ia mengeyampingkan sejenak urusan permainannya dan beralih menuju gudang yang terletak persis disebelah dapur.

“Dari awal kita pindah aku belum pernah menggunakannya jadi aku tidak tahu letak posisnya. Tolong kau cari sendiri.” Teriak Victoria ketika Kyuhyun memasuki pintu gudang, Sekali lagi Kyuhyun mendengus kesal. Melihat tumpukan kardus yang jumlahnya lumayan banyak membuatnya agak malas, apalagi harus mencari satu set cetakan yang hanya seberapa ukurannya.

“Merepotkan…” Gumamnya, sembari memilih-milih sekiranya kotak yang mesti ia periksa. Beberapa kardus hanya berisi peralatan-peralatan seperti buku-buku, serta barang tak terpakai lain. Atau barang-barang yang memang jarang sekali dipergunakan; seperti pohon dan hiasan natal.

“Ini dia…”Kyuhyun menyunggingkan senyum leganya ketika menemukan sekotak kecil set cetakan yang memang dicarinya, ia meniup niup debu yang menghiasinya. Kemudian bersiap berdiri untuk kembali kedapur dan memberikannya pada Victoria.

Tunggu, Kotak lain menarik perhatiannya;Sebuah kotak berukuran sedang dengan warna hitam yang mendominasinya, terletak persis dibawah set cetakan tadi. Rasa penasarannya tiba-tiba meluap ketika harus membiarkan kotak itu tertutup pada posisi awalnya.

Kyuhyun membuka penutupnya—setelah membersihkan debu yang masih menempel dipermukaan kotak tersebut— Ia mendapati beberapa album foto, sebuah bungkus cokelat, amplop, serta sebuah pita yang warnanya masih terang.

Kyuhyun membuka salah satu album foto, album foto itu berisi foto-foto kecilnya dengan hampir sepenuhnya foto dirobek sebelah sisinya. Ia tahu betul bagian mana yang hilang, karena kisah masa lalu dengan Umma-nya dulu jelas Kyuhyun mengetahuinya—walau ia sama sekali tidak mengingat apapun mengenai orang tuanya—, Album foto lain lebih banyak berisi foto-fotonya semasa sekolah dulu beserta keluarganya yang baru—keluarga Victoria—.

Salah satu foto menarik perhatiannya, seseorang wanita dengan pipi kemerahan berdiri disampingnya. Kyuhyun masih mengenakan baju dan toga khas upacara kelulusan sekolah. Wanita itu tampak malu dengan sebelah tangan Kyuhyun yang melekat merangkul pundaknya hangat.

Kyuhyun mendekatkan matanya dengan foto itu, memperhatikan dengan seksama. Karena seseorang disana terasa ganjal. Ya, kemudian dia sadar siapa wanita itu… Kyuhyun berusaha menenangkan jantungnya yang tiba-tiba berdetak cepat, pikirannya tiba-tiba dipenuhi pertanyaan dan cuplikan kejadian yang entah darimana datangnya. Semua memorinya masih asing dan terasa samar…

Kyuhyun tidak mengindahkan apa yang ada dipikirannya, ini biasa terjadi setelah kecelakaan yang menimpanya. Kyuhyun memilih mengonsentrasikan kepada benda lain dalam kotak tersebut yang membuatnya semakin penasaran.

Sebuah amplop yang sudah terbagi menjadi empat bagian terletak disana,benda lain adalah pita berwarna biru terang beserta bungkus cokelat yang tak asing lagi baginya.Disisi barang-barang itu terdapat selembar kertas yang telah disambung dengan solatip.

“Hey kertas ini sudah lusuh, dan sudah seharusnya menjadi sampah. Mengapa benda ini masih ia simpan? Dasar wanita.” Gumamnya memperhatikan kertas itu dengan detail—memegangnya pun dengan hati hati pula karena kertas itu memang rentan—.

“Surat ini bukan robek karena faktor usia ya? Syukurlah tulisannya masih terbaca jelas…”Kyuhyun memutar balikan posisi kertas itu, mencari letak yang benar bersiap membaca tulisan yang tertulis rapih didalamnya.

 

Cokelat ini, mungkin akan menjadi cokelat terakhir yang aku berikan. Karena itu cokelat ini sepesial datang bersamaan dengan sebuah kabar yang entah merupakan kabar baik atau buruk, karena kau sendiri yang bisa menilai.

Seharusnya kau memang sudah mengetahuinya,tapi akan lebih baik jika kau mengetahui ini langsung sebelum kita benar-benar berpisah. Aku menyukaimu, Cho Kyuhyun. Kau pasti akan tertawa membaca surat ini, kita memang bukan anak kecil lagi, aku tahu itu. Tapi jika kau merasakan ini, kau pasti percaya bahwa Cinta bisa merubah suatu yang sudah tua menjadi kekanakan, dan sebaliknya.

Tidak perlu menjawab surat konyol ini, karena aku hanya ingin melihat kau tersenyum setelah membacanya. Terimakasih

Seo Joohyun,

 

“Aku?Seo Joohyun? Mengapa surat ini—“

“Kau sudah menemukan cetakannya, Kyuhyun?” Teriak Victoria—masih dalam dapur sibuk dengan kuenya—.

Kyuhyun mengembalikan surat itu kedalam kotak kemudian membawa kedua kotak  itu—beserta kotak set ceakan—keluar dari gudang.“Ne, dan aku juga menemukan banyak barang berharga lain yang menunggu penjelasan dari mu?” sautnya, kini melemparkan tatapan memohon pada Victoria.

Victoria memusatkan pandangannya kepada kotak yang ia bawa, dan seketika ia menyadari sesuatu kesalahan yang seharusnya tidak terjadi karena ia sudah merasa lihai menyembunyikannya.“Kyu—“

“Bisakah kau benar-benar mengatakan yang sebenarnya mengenai kami?”

TBC

80 thoughts on “Remember Me (Part.7)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s