Remember Me (Part.6)


Seo Joohyun/Cho Kyuhyun/Jung Yonghwa & The others cast. | Romance & Friendship | PG-15.

Original by AdillaSB:

WARNING: YANG BACA WAJIB KOMEN YA. SEBAGAI WUJUD APRESIASI TERHADAP FF INI.

Part. 6 :”Apakah bisa sedikit saja menghargaiku? (Full Flashback)”

 

“Maaf aku baru bisa pindahan hari ini, aku menyesal sekali meninggalkanmu seminggu ini sendirian.” Terang Taeyeon Onnie ketika baru tiba dirumahku. Lengkap dengan dua buah koper beserta sebuah kardus berukuran besar.

“Aku mengerti Onnie, banyak yang perlu kau bereskan disana. Aku juga sudah terbiasa sendirian, jadi tidak masalah sama sekali.” Aku menyambut Onnie dengan pelukan sebelumnya, kemudian membantunya membawa barang-barangnya keatas—kamar Taeyeon Onnie yang sudah ku persiapkan—. Kamar tersebut tadinya adalah kamar tamu, dan untuk Taeyeon Onnie tidur disana bukan hal yang baru karena ia memang sering sekali menghabiskan liburan dirumahku.

Kami pun tiba bersamaan, kamar itu terletak persis disebelah kamarku dan hanya dibatasi oleh sebuah Toilet yang terletak diantaranya. Aku menaruh kardus dalam pelukanku, meletakannya dengan hati-hati untuk kurapihkan barang-barang didalamnya. Sementara Onnie, turun untuk membawa koper keduanya.

“Soal keputusan mu itu. Apa kau yakin, Hyunnie? Sebaiknya kau pikirkan matang-matang lagi.” Tanya Onnie ketika tiba, ia membuka kopernya dan merapihkan tumpukan baju didalamnya untuk dipindahkan kedalam lemari.

“Aku sudah besar Onnie, aku tahu apa yang terbaik untuk diriku sendiri.” Jawabku, tak kalah sibuk. Aku menata perabotan seperti foto-foto, figuran, dan hiasan yang sering aku temukan dalam kamar kostnya dulu. Onnie memang cocok dikatakan wanita, kamarnya penuh dengan warna disana sini.  Ia pandai menata ruangan dengan cantik. Sesuai kepribadiannya yang dewasa, berbeda jauh denganku. Kamarku yang simpel dan bisa dikatakan ‘seadanya’ itu memang mencerminkan diriku.Untunglah warna hijau yang kini mendominasi kamarku membuatnya lebih baik dari sebelumnya.

“Memang, aku lihat kau tidak bermasalah sekalipun tinggal sendirian disini. Tapi bagaimana dengan Appa-mu?”

“Onnie-ah, aku ada disana atau tidak sama saja. Appa sibuk dengan pekerjaannya dan tidak akan punya waktu untuk bertemuku, jadi tidak ada gunanya juga aku disana.” Sungguh menjengkelkan mendengar komentar Onnie yang seolah tidak setuju dengan keputusanku, tapi aku harus menerimanya. Taeyeon Onnie adalah orang yang dipercaya Appa untuk menjagaku setahun kedepan, salah satu syarat Appa agar mengijinkan aku tetap tinggal adalah ini. “Kau tidak boleh tinggal sendiri, Taeyeon akan menjagamu selama kau disini.” Begitu kata Appa sebelum kepindahannya.  Tentu  mulai sekarang ia turut Andil dalam kehidupanku nantinya.

“Sungguh diluar dugaanku, kau bisa juga menentang keputusan Appa-mu dengan tegas seperti itu. Seperti bukan kau saja, Hyunnie.”

“Onnie, sudahlah jangan bicarakan lagi. Jangan buatku menyesal melakukannya.”

“Baiklah.” Onnie menurutiku, kemudian beralih pada barang-barang yang sedang ku tata. Dengan lihai dia menempatkan barang-barangnya pada Spot yang tepat, membuatnya semakin indah dilihat. “ Sebaiknya foto ini aku letakan dimana ya?” Tanyanya, memperhatikan sebuah bingkai berukuran sedang. Matanya kini menerawang seluruh sudut ruangan itu; mencocokan dengan bingkai tersebut.

“Mwo?” pertanyaannya membuatku menghentikan aktivitasku sejenak, aku hanya ingin memastikan isi bingkai itu. Dari awal Onni tidak berkomentar tentang barang-barangnya, hanya bingkai itu—yang sepertinya sepesial— yang membuatnya harus memikirkan dengan benar dimana ia harus meletakkannya.  “Kau-dan-Teukie Sunbae?” Sontan aku terkejut melihat foto mereka.

“Kami berfoto saat farewell party, hanya ini kenangan kami.” Genggaman Taeyeon Onnie, kini berubah menjadi sebuah pelukan pada Bingkai tersebut.

“Whoa bersyukurlah Onnie, kalian punya satu kenangan untuk di ingat nanti. Sedangkan aku…” Memikirkannya membuatku mual, mengingat Kyuhyun juga akan mengakhiri masa SMPnya beberapa bulan lagi.

“Kau bisa memintanya dengan bocah cokelatmu itu. Kalian sudah sangat dekat, ituakan  lebih mudah Hyunnie.”

“Tidak semudah itu, Onnie. Hubungan kami memang sudah lebih baik seminggu belakangan ini, tapi tetap saja aku tidak bisa semudah itu meminta padanya, aku hanya tidak ingin merusak hubungan kami.”

Ya, aku tidak mengelak. Hubungan kami memang jauh lebih dekat saat ini. Semenjak hari itu aku dan Kyuhyun bertemu setiap hari. Rumahku yang memang dilewatinya ketika menuju sekolah, ditambah dengan Victoria Onnie yang sudah lulus dan sudah duduk di bangku SMA membuatnya memilih menungguku untuk berangkat bersama ketimbang menghabiskan waktu sendirian melewati jalan. Sepertinya memang ia sudah sangat terbiasa dengan kehadiranku, bahkan ia dengan mudahnya menceritakan hal yang terjadi padanya dirumah saat perjalan kami menuju sekolah.

Sayangnya semua itu hanya berlaku ketika kami dijalan, sedangkan saat tiba disekolah kami akan kembali pada kehidupan kami yang memang terpisah satu sama lain. Tapi itu saja sudah membuatku semakin bersemangat sekolah, aku tidak akan melewatkan satu haripun. Tidak akan melewatkan detik dimana kami menghabiskan waktu bersama.

“Kau akan bertahan dengan hubungan seperti itu? Apa bisa selamanya begitu? ”

“Entahlah.”

“Aku tahu kau sudah besar, dapat memilih yang terbaik untukmu. Tapi sebagai kakakmu, aku pasti memikirkan kehidupanmu nantinya. Tentu aku berharap kau bisa benar-benar memilih dengan tepat.” Kata Onnie memberiku nasihat, sembari tangannya kini mengaikat tali Bingkai itu pada sebuah Paku yang ia tancapkan sebelumnya.

“Maksud, Onnie?”

Setelah itu Taeyeon Onnie duduk diadapanku untuk menambah kesan serius pada pembicaran kami yang satu ini. Sorot matanya juga berubah kini, seperti seorang Umma yang sedang menasihati anak gadisnya yang nakal, “Tidak ada yang abadi, Seohyun. Termasuk hubungan kalian. Bagaimanapun kau harus bisa berpikir kedepan. Sekarang sudah menjelang detik-detik kelulusannya, apa nantinya kalian bisa bertemu lagi setelah dia duduk dibangku SMA? Kyuhyun-mu itu punya kehidupan, sama sepertimu. Dia akan terus tumbuh tanpa kau ketahui, menjalin hubungan dengan orang lain. Sedangkan kau—“

“Onnie, stop! Jangan buatku takut, aku mohon…” Aku menutup telinga dengan kedua tangan, mendengar hal tersebut membuatku ingin sekali teriak. Kyuhyun memang akan meninggalkanku, tapi aku tidak ingin memikirkan hal itu untuk saat ini. Setidaknya aku ingin menikmati masa dimana kami akan semakin dekat tiap harinya.

“Sedangkan kau hanya berdiri memandanginya, dalam posisimu yang tak berubah. Kau akan menyesal, seperti aku.” Onnie meneruskan kalimatnya, aku mendengar itu dengan jelas karena tanganku tidak sepenuhnya mendekap menutupi lubang telingaku. Kini kata-kata itu menari kegirangan dikepalaku, aku sangat menghindari hal ini karena takut membuatku tak berkonsentrasi memikirkan hal lainnya. Itu juga bisa menggangu jadwal bangunku, sayang sekali kalau harus melewatkan satu hari bersamanya hanya karena aku telat.

“Penting untuk memikirkan hal ini, kumpulkan keberanianmu untuk mengatakan padanya. Karena cepat atau lambat kalian akan berakhir, apakah kau ingin ending ceritamu tragis?” Taeyeon Onnie masih melanjutkan kalimatnya bahkan setelah aku membuka tanganku.

“Onnie, aku mengantuk. Aku tinggal ya? Sudah hampir selesai, Onnie?” tanyaku berusaha menghindar, gadis ini memang terlalu pengecut dan memutuskan untuk pergi. Melihat tatapan Onnie yang meyakinkan membuat pikiranku kacau.

“Tentu. Gumawo, Hyunnie.”

“Selamat Malam.” Salamku ketika hendak keluar.

“Malam, Semoga kau mimpi indah.”Saut Onnie dengan nada suara yang seakan belum puas, akhir percakapan kami memang tidak memuaskan. Sudah pasti ia kecewa, “Seohyun…” panggilnya ketika kakiku mulai melangkah keluar dari lantai kamarnya.

“Ne?” Aku menoleh hanya untuk menghargainya, walau sekarang aku merasa sebal karena ia harus memulai pembicaran yang sudah aku hindari bahkan ketika batinku ingin sekali membicarakannya.

“Kau bukan anak kecil kan?” Tanyanya lagi, kini tatapannya lebih hangat.

“Seperti yang kau lihat, Onnie.” Aku menyungingkan senyum, sekali lagi untuk menghargainya.

“Dewasa? Artinya kau sudah harus bisa menerima konsekuensi apa pun dari setiap pilihanmu. Aku ada disini jika kau memang membutuhkanku untuk bicara hal ini, Seohyun.” Onnie membalas senyumanku dengan sangat hangat, bahkan membiarkannya hingga aku menutup pintu kamarnya. Melihatnya membuatku memikirkan hal yang ia katakan tadi. Semua yang Onnie katakan memang tidak salah, hanya saja aku belum punya keberanian menghadapinya. Apa ini sudah waktunya? Tidak… bagaimana kalau ia menolakku? Aih,   kini perdebatan argumen antar Akal sehat dan hati dimulai.

*

“Seohyun… “ Sapa Kyuhyun dari balik pintu, “Kau belum pulang?” ia menatapku heran ketika melihat jejeran bangku didalam kelasku sudah sepenuhnya kosong, jam menunjukan pukul 2 siang saat itu dan seharusnya memang sudah tidak ada lagi yang tinggal setelah sejam yang lalu pelajaran usai.

“Kyuhyun-ssi?Mengapa kau masih disini? Apa kau tidak membaca pesanku?” aku pun tak kalah heran melihatnya.

“Aku tidak menunggumu. Aku hendak pulang tadinya namun ternyata ada rapat kepengurusan kelas terakhir yang harus aku hadiri, aku baru selesai sekarang.” Terang Kyuhyun, “Kau sendiri mengapa belum pulang?”

“Aku dihukum…” jawabku singkat, tidak mungkin untukku menjelaskan apapun karena ia pasti akan menanyakan lebih detail dan aku takut itu akan menyinggung sesuatu mengenai perasaanku padanya karena memang ini berkaitan. Kyuhyun melangkahkan kakinya masuk kemudian memilih duduk dibangku paling awal dan menyaksikan aku yang sedang menghapus papan tulis.

“Lagi?Wae?kau melamun saat pelajaran tadi?”

Aku hanya berdeham membenarkan, beberapa hari belakangan ini memang konsentrasiku terpecah antara pelajaran dan hubungan aku dan Kyuhyun yang semakin tak jelas mau dibawa kemana.Nasihat Taeyeon Onnie sepertinya sudah terpatri kokoh dipikiranku, membuatku bahkan sulit berfikir jernih. Cara menghitung dan membaca pun sepertinya hampir terlupakan.

Semakin aku menghindarinya, hal itu ternyata semakin dekat. Dan sekarang jika dihitung-hitung totalnya adalah tiga hari lagi Kyuhyun akan menjalani Ujian Akhirnya, besok pun ia sudah libur menjelang hari Ujian dan Sebulan kedepan ia akan disibukan dengan tes mauk Sekolah Menengah Atas dan jadwalnya tentu padat dengan jadwal les disana sini. Pilihan Kyuhyu pada SMA E memang bukan pilihan yang mudah, nama dan kualitas SMA E tidak bisa diragukan lagi sebagai salah satu SMA favorit. Perlu banyak belajar untuk seorang—yang tergolong pemalas—seperti Kyuhyun dapat memasuki sekolah itu. Sementara ia sibuk dengan jadwal lesnya, aku akan disibukan dengan banyak tugas, tudas dan tugas yang menumpuk jelang Ujian Kenaikan kelasku yang sudah tinggal seminggu lagi. Dan itu artinya kami sama-sama tidak akan punya waktu untuk –pulang/berangkat—bersama lagi setelah ini. Lalu bagaimana kelanjutan  hubungan kami? Aish salah satu dari kami pun tidak bisa menjamin bahwa kami bisa bertemu lagi atau tidak disela-sela waktu kami yang bukan cukup bahkan sangat padat.

“Apa ada yang kau pikirkan, Seohyun?”

Aku menggeleng. Bodoh memang menjawab seperti itu, semua orang tau ketika kita melamun artinya kita sedang membiarkan alam sadar kita berfikir lebih dalam mengenai sesuatu yang sedang kita pikirkan dan  memberikan gelengan seperti tadi sebagai jawaban atas pertanyaan yang Kyuhyun berikan, tentu sesuatu yang pantas untuk ditertawakan.

“Akan lebih baik jika kau tidak memendamnya, itu akan membuatmu mengesampingkan semua hal yang justru sangat penting untukmu. Ingat sebentar lagi kau ujian, Seohyun.”

Mwo? Nasihatnya memiliki dua konotasi yang berbeda; menyuruhku agar memberi tahu masalah yang sedangku pikirkan sekarang atau menyuruhku untuk mengungkapkan perasaanku padanya mengingat sesuatu yang aku pikirkan itu adalah mengenai perasaanku padanya. Keduanya solusi yang sama-sama menjatuhkan. Seandainya Kyuhyun mengetahui bahwa yang ia bicarakan adalah menyangkut dirinya sendiri, apakah ia akan bicara hal yang sama untuk membiarkan aku mengungkap perasaanku yang sebenarnya?Ah, aku tidak yakin. Ada yang bisa menjawabnya?

Aku menarik nafas kembali, berharap dapat membuatku sedikit lega setelahnya.

“Kau benar, tapi sungguh memang tidak ada yang sedang aku pikirkan saat ini.” Aku masih membelakanginya ketika menjawab ini, berlagak tetap menghapus papan tulis—yang sedari tadi sudah bersih—.Aku tidak mengelak jika dia akan tertawa melihat tingkah ku yang jelas menunjukan kebohongan yang sedang aku lakukan, tapi aku tidak peduli lagi sekarang. Pikiranku sudah cukup lelah memikirkan banyak kemungkinan yang akan terjadi nanti.

“Ayo kita pulang, papan tulis itu akan kesakitan jika terus kau gosok dengan keras seharian.”ajaknya lebih dahulu keluar kelas.

“Bagaimana persiapanmu sebelum ujian?”

“Seharusnya aku yang bertanya itu padamu.”

“Ya, tapi aku sudah bilang tadi pagi bahwa aku sudah sepenuhnya siap ujian nanti, jadi kau tidak usah menanyakannya lagi.” Kata Kyuhyun yakin, “bagaimana dengan mu?”

“Uhm… sama sepertimu.”jawabku seperlunya, aku sedang tidak bersemangat untuk mengobrol saat ini—termasuk dengan Kyuhyun—.

Kami berjalan seperti biasa; berdampingan. Yang berbeda hanya atmosfernya; biasanya kami tertawa bersama ketika melewati jalan ini, baik itu ketika pulang atau berangkat. Entah karena aku yang tidak bisa mengimbangi obrolannya sedari tadi atau ia yang juga sedang tidak bersemangat hari ini. Semuanya membuat perjalanan kami terasa sunyi.

“Aku sudah tidak sabar melepas seragam ini…” sautnya, merentakan kedua tangannya keudara, kemudian meletakan kedua telapak tangannya yang bertautan kebelakang kepalanya sambil terus berjalan.

Melihatnya yang begitu antusias membuatku sedih, aku menundukan kepalaku lagi menatap aspal yang kosong dengan debu yang berterbangan kesana sini tertiup angin diatasnya. Hentakan dua pasang kaki yang melangkah bersamaan terlihat sangat serasi seolah kompak dengan koreo dari otak  yang mengintruksinya. Pemandangan yang indah—setidaknya lebih baik dibanding harus melihat wajah bersemangat pria disampingku saat ini—.

Tunggu! sepasang kaki lain tertinggal dibelakang. Clap, clap, clap… kakiku terus melangkah lurus sementara pasangannya masih tertinggal. Pemandangan itu mengingatkanku pada hubungan kami, jelas aku tertinggal dibalik bayangannya seperti ini. Hanya menyaksikan ia tumbuh dewasa sementara perasaan ini masih tersimpan rapih.

“Seohyun!” Teriak sesorang membuatku tersadar serta menghentikan langkahku sejenak.

Zenggg~

Sebuah mobil melaju cepat dihadapanku,hanya berjarak satu langkah dari tempatku berdiri. Aku menoleh kesumber suara tadi yang meneriakiku; Kyuhyun tengah berdiri dibelokan jalan, jarak kami terpisah sekitar tiga meter.

Kyuhyun menggelengkan kepalanya pelan, wajahnya terlihat sedikit cemas. Kemudian aku beralih pada pemandangan lain dihadapanku; kini aku berdiri dipersimpangan jalan. Tepat satu langkah lagi menuju zebra cross yang ramai dilalui kendaraan. Aku menoleh ke lampu pejalan kaki disamping tempatku berdiri, lampu itu jelas yang menunjukan warna merah  yang artinya tidak boleh menyebrang untuk pejalan kaki yang ingin melintas.

Aku berbalik arah, kedua tanganku kini saling menggengam diatas jantungku yang berdetak cepat. Aku berusaha memberi senyum terbaikku ketika kami sudah berhadapan lagi,namun tetap aku gagal meredam emosinya yang bersiap meluap.

Kyuhyun mendengus kesal, “tidak bisakah kau menceritakan apa yang mengganggu pikiranmu sekarang?jangan memendamnya sendiri, kau hanya membuatku khawatir!” bentaknya.

Aku hanya diam, dan tetap menunduk. Mulutku terkunci rapat, dan jantungku terus berpacu cepat seperti enggan untuk diajak berkompromi. Aku pun memilih mendengarkan omelannya seperti anak manis.

Kyuhyun mengoceh untuk beberapa menit, namun ia menyerah setelah melihat aku yang tidak bereaksi. Sepertinya ia pun menyadari ketakutanku tadi, dan memilih untuk berhenti menyalahkanku, “Jangan melihat aspal seserius itu, ayo kita pulang…”

Kini suasananya benar-benar sunyi yang terdengar hanya ricuh suara kendaraan yang melaju, serta orang yang bercakap disekeliling kami. Kyuhyun memilih diam sepertiku, dan aku kini sibuk mengembalikan detak jantungku yang belum pulih.

Tiba-tiba seorang menggengam tangan kananku, suhu tubuhnya—yang sama dingin—terasa dipermukaan tanganku seiring dengan genggamannya yang semakin erat. Jari-jarinya yang besar berusaha bertaut pada  jari-jariku yang masih menegang ketakutan akibat kejadian tadi.

“Kyu…”

“Lemaskan jari-jarimu,” pinta Kyuhun, dan tanpa sadar aku pun menurutinya. Kedua pipi Kyuhyun berubah kemerahan ketika aku menoleh menyaksikan wajahnya. “Silahkan jika ingin melamun lagi, aku akan menuntunmu… Pabo, Harusnya aku melakukan ini daritadi.” sautnya pelan, kemudian melanjutkan perjalanan—dengan tangan kami yang saling menggenggam—kembali.

*

“Akhirnya selesai juga….” Aku menatap lega selembar kertas penuh tulisan tangan rapih yang akhirnya selesai aku buat. Aku membacanya isinya berulang kali untuk meyakinkan tidak ada suatu kesalahan atau unsur fiksi yang berlebihan dialamnya, kemudian memasukannya kedalam sebuah amplop berwarna biru langit polos berukuran pas.

Aku menarik nafas panjang ketika merangkai pita yang mengapit amplop suratku beserta cokelat yang sudah aku persiapkan.

Hari ini tepat sebulan sudah kami tidak lagi dapat bertatap muka, bahkan saking sibuknya ia pun tidak pernah sekalipun mengirim pesan padaku baik itu menayakan kabar atau hal lain—seperti basa basi misalnya—.

Setelah dipikirkan kembali mengenai ini, aku sudah memutuskan untuk mengungkapkannya. Tepat pada hari pengumuman kelulusannya, yaitu hari ini. Memikirkan bagaimana resiko yang harus aku terima nanti ketika aku memutuskan untuk terus memendamnya ternyata lebih menyakitkan dibandingkan ketika kami harus berpisah saat semuanya sudah terbongkar dengan jelas.

Kau tahu memendam perasaan tanpa balas seperti ini bertahun tahun sangatlah berat dan menyakitkan. Ditambah sekarang seolah adalah ujian akhir yang menentukan nasib hubungan kami kedepan. Entah kenapa aku merasa matang, ya memang sudah seharusnya. Bagaimanapun wanita bukan kodratnya mengutarakan perasaan seperti ini, dan semua tau itu. Tapi perasaan takut kehilanganku lebih besar dibanding perasaan gengsi, malu atau semacamnya itu. Kami akan terus berdiri ditempat jika salah satu dari kami enggan memulainya. Benar?

Aku merapihkan rambutku yang terurai didepan Cermin, menyatukan seluruh bagiannya dan menguncirnya kesamping. Aku menggerakan bibirku tidak beraturan—melakukan semacam senam wajah—berharap nanti bibir ini tidak mematung ketika harus mengatakan sesuatu dihadapannya. Beberapa polesan yang cukup sudah menghiasi wajahku saat ini, tidak terlalu mencolok hanya polesan yang berwarna natural yang memang biasa aku pakai sehari-hari. Maklum berdandan bukan keahlianku, dan itu masih belum terlalu perlu untuk gadis seusiaku saat ini.

Aku memberikan senyuman andalanku dihadapan cermin, berharap aku dapat melakukannya lagi setelah melihat reaksinya nanti setelah membaca surat amatiran yang aku buat.

Setiap orang bertepuk tangan seusai seorang murid teladan usai memberikan pidatonya, semua murid berhamburan keluar dengan sebuket bunga dalam genggamannya menuju orang tuanya masing-masing bersiap untuk berfoto. Toga khas yang mereka kenakan menunjukan bahwa mereka sudah selesai menempuh bangku sekolah disini, dan bersiap menuju jenjang yang lebih tinggi. Semua murid bersorak kegirangan, berpelukan berbagi tawa dan kebahagiaan yang tersisip haru yang tergambar jelas dari kerut tawa mereka.

“Selamat ya…” Kyuhyun menyambut uluran tanganku dengan hangat sambil memamerkan deretan giginya kegirangan.

“Kau sudah berfoto dengan keluargamu?” tanyaku.

“Tentu, setelah ini kami akan merayakan kelulusanku di Restaurant B. Victoria noona mengundangmu untuk ikut serta, kau pasti datang kan?”

“Jinjjayo?”

“Aku akan menjemputmu jam 7 malam nanti.”

“Ne, Gumawo…” Aku membungkuk sebagai rasa hormat, suasana ini begitu formal untuk kami. Aku tidak yakin akan memberikan surat dalam situasi seperti ini, takut-takut ini mengganggu baginya. Aku memutar otak mencari waktu yang tepat, bagaimana pun ketepatan waktu dan situasi menjadi faktor pendukung yang penting.

“Mau berfoto?”

“Tentu…”

Sementara kami berfoto bersama, aku mengesampingkan urusan surat dan pernyataan. Sepertinya akan lebih baik mengungkapkannya setelah makan malam nanti, kupikir situasinya lebih mendukung dibandingkan saat ini.

Say Cheeeers!”Kyuhyun mendekatkan dirinya, meletakan tangannya pada pundakku sehingga jarak kami sekarang benar-benar dekat.

“Aigoooo…” aku menepuk nepuk pakaianku yang sedikit basah karena minuman yang ku pegang, benar seharusnya perasaan gugupku tidak muncul disaat yang penting seperti ini sehingga aku bisa lebih berhati-hati dan tidak ceroboh seperti tadi.

“Paboya~ cepat bersihkan pakaianmu.”

“Ne.”

“Seohyun-ah… Apa kau memikirkan sesuatu?”

“Apa maksudmu?Ah, anio. Kau tau aku ceroboh.” aku memaksakan bibirku untuk tertawa, berharap ia tidak curiga sedikitpun dengan kecerobohan yang aku lakukan. “Bisa tolong pegang ini?” pintaku kepada Kyuhyun, menyodorkan tasku padanya setelah mengeluarkan sebungkus tissue dari dalam. Kemudian beranjak menuju toilet untuk membersihkan pakaianku yang sedikit basah.

Setelah pakaianku bersih aku kembali pada Kyuhyun, Aku menyesalkan kebodohanku sendiri yang merusak momen indah yang langka itu. Ketika aku sampai ditempat semula…

Great! Ternyata aku benar-benar bodoh, satu kecerobohan yang menjadi malapetaka untukku terjadi kembali. Tanpa aku sadari aku melupakan hal yang penting, dan sekarang sudah terlambat untuk mencegahnya. Sebelum ke toilet tadi aku lupa menutup tasku kembali, dan tentu kalian sudah bisa menebak apa yang aku bawa.

Aku mendapati Kyuhyun tengah membuka pita yang melingkar pada cokelat yang biasa aku berikan padanya. Ia menatap amplop yang datang bersamaan cokelat itu dan bersiap membacanya, aku menutup mata. Jantungku kembali berdetak, menunggu reaksinya dan…

?????

Tanpa sadar butiran kristal-kristal air keluar dari ekor mataku, menelusuri lekuk pipi dan berakhir dibawah daguku. Aku berjalan pelan menghampiri Kyuhyun yang tengah merobek amplop itu menjadi beberapa kepingan.

Ia menolakku, padahal aku saja belum mengutarakannya. Wanita yang malang…

“Kyu…” ucapku lirih, dan berhasil menghentikan aktivitas merobeknya. Ia mentapku dengan tatapan yang aneh, badannya bergetar; terlihat dari genggamannya pada sobekan amplop tersebut. Wajahnya kini terlihat pucat, seperti ketakutan melihatku. Mungkin ia merasa bersalah,tapi apa benar wajah itu menunjukan rasa bersalahnya? Lebih seperti mangsa yang takut diterkam.

Aku sudah tidak bisa mendeskripsi gerak tubuhnya, air mata yang sudah menumpuk dipelupuk mata ini selalu mendesak keluar. “Bisakah sedikit saja menghargai perasaanku?” tanyaku dengan volume yang rendah,entah terdengar atau tidak Kyuhyun hanya menyaksikan aku menangis, tanpa menjawab pertanyaanku.

“Kau tahu, aku hampir gila membuat surat itu?dan kau merobeknya…” aku tertawa—memaksakan diriku untuk tertawa walaupun jelas sekali aku gagal melakukannya— dalam isakan ku yang terus menjadi-jadi. “Kau tidak harus melakukannya, kau bisa mengatakannya kalau kau memang tidak suka…”aku kembali meneruskan kalimatku, paling tidak meluapkan kekecewaanku melihat kejadian tadi.

Berlebihan memang, tapi kalian tau rasanya. Hatiku seperti tercabik…

Sudahlah aku tidak bisa banyak berbicara saat ini, percuma saja ia pun tak menggubrisnya.Seharusnya aku mengerti dari awal. Ia merobek suratku yang sudah pasti artinya ia tidak menyukaiku, mengapa harus memintanya menghargaiku sementara ia dengan jelas menunjukan kebenciannya.

“Kyuhyun… Saranghae,” kalimat itu dengan lancar keluar dari mulutku, bahkan ketika aku merasa sulit sekali berbicara pada situasi seperti ini. Aku berlari meninggalkannya, dan tetap saja. Ia hanya mematung menyaksikan kepergianku tanpa berbuat sesuatu.

Kau tahu mencintai terkadang bisa membuat orang bodoh menjadi pintar, bahkan sebaliknya. Namun yang terparah, karena Cinta pintar membodohi seseorang…

*

*

(Seohyun POV End)

Ditempat lain seorang pria tengah mengutuk kebodohan yang sama. Pria itu menyapu wajahnya kasar, badannya bergetar—seperti menggigil kedinginan—.

“Ya! Cho Kyuhyun! Kau bodoh!” makinya pada hamparan ombak yang saling beradu kecepatan.

Kyuhyun mengacak-acak rambutnya,kemudian menjatuhkan dirinya pada pasir putih yang terhampar mengelilingi pantai dan membiarkan ujung air laut melewati sebagian tubuhnya yang tergulai. Berharap dapat membawa pergi rasa sesal yang sedang ia alami.

“Umma,Mengapa kau biarkan aku hidup dengan bayangan hitam masa lalumu?”Ucap Kyuhyun lirih, air mata keluar dari ujung matanya yang terpejam.

“Kau lihat, aku akan kehilangan dia.” Kyuhyun sesekali berhenti untuk sekedar meyeka air matanya. “ Aku bergulat dengan diriku sendiri, belajar membiasakan diriku dengannya berharap ketakutanku pada wanita akan hilang bersamaan dengan waktu. Kau tahu sangat sulit mengutarakan perasaan ini, aku berjuang melawan ketakutan ku sendiri dan ketika ia benar-benar dihadapanku aku…. Aish, mengapa kau menyisakan trauma semacam ini,umma? kau membuatku semakin membencimu.”

Kyuhyun membiarkan otaknya memutar rekaman masa lalunya,10 tahun lalu.

Seorang bocah laki-laki berumur 5 tahun, tengah berdiri menatap pria yang terbaring tak berdaya dibalik sebuah peti kayu dihadapannya. Disisinya seorang wanita muda tenggelam pada lukanya yang mendalam, menangisi kenyataan yang tidak bisa berubah kembali. Wanita itu membuka kain putih yang menutupi wajah Suaminya, kemudian menggenggam tangan yang sudah dingin dan kaku itu dengan erat.

“Umma tidak bisa hidup tanpa Appa-mu,Kyuhyun. Mianhae.” Kyuhyun mengingat dengan jelas kalimat itu, bahkan ia masih mengingat ketika Umma-nya menenggelamkannya dilaut dan meninggalkannya. Ia masih bisa merasakaan air yang masuk kelubang-lubang ditubuhnya, mengalir masuk melalui hidung dan mulutnya. Kyuhyun masih bisa mendengar desiran ombak yang menghantam tubuhnya, dan ketika seberkas cahaya membuatnya membuka matanya.

Baginya cinta bukan suatu alasan yang logis untuk seseorang membunuh darah dagingnya sendiri. Kyuhyun menyesali suatu yang indah seperti Cinta ternyata benar-benar bisa membuat orang buta, bahkan membuat orang melupakan dunia lain yang indah disekitarnya.

“Maafkan Umma, Kyuhyun. Umma tidak bisa membesarkanmu dengan baik,” Seorang pria membacakan selembar kertas yang tergeletak disamping mayat wanita yang menggantung dikamarnya. Kyuhyun menyaksikan semua itu, semuanya tanpa menangis. Dan hanya dapat menyesalkan keadaan yang menimpanya, menutup buku masalalunya, menghapus nama Umma dari hidupnya, berharap kenangan itu dapat menghilang seiring dengan berjalannya waktu. Walau sejujurnya tidak ada yang benar-benar bisa menghapus trauma itu dari bayangannya, ketakutannya yang besar membuat bayangan itu semakin melekat erat dipikirannya.

“Bawa dia kembali, umma. Aku mohon…” Pinta Kyuhyun, kali ini ia sedikit berbisik atau lebih terlihat seperti berdoa.

“Kyuhyun…”sapa seorang wanita. Kyuhyun membuka matanya perlahan melihat Victoria yang kini tepat disampingnya.

“Kau tahu aku disini?”

“Tentu, kau pikir aku siapamu?”

“Jangan menjemputku, aku sedang berbicaran pada Umma-ku!”

“Jangan siksa dirimu sendiri,Kyuhyun.” Bentak Victoria, kini tangan halusnya membelai lembut kepala Kyuhyun perlahan, “ Dan Jangan salahkan Umma-mu terus.” Sambungnya, kemudian membiarkan tubuhnya ikut berbaring diatas halusnya pasir pantai dengan selimut ombak yang menenangkan.

“Aku merobek surat Seohyun, sebelum membacanya. Melihat surat itu mengingatkanku pada Surat yang ditulis Umma sebelum ia bunuh diri… Aku takut…” Kyuhyun menggantung kalimatnya, berhenti untuk sekedar menyeka air yang terus keluar dari matanya. Ia bukan pria yang mudah menangis seperti ini, bahkan ia tergolong pria yang sulit tersentuh. Tentu dibalik semua itu hanya trauma ini yang membuatnya menitihkan air matanya,“Aku takut membacanya, Surat itu… Aku takut, noona.”

“Dia marah padamu?”

“Sepertinya lebih parah.”

“Kau juga mencintainya?Sejak kapan?”

“Entahlah,”

“Mwo? Me..mengapa kau memendamnya?”

“Entahlah noona, ia seorang wanita. Melihatnya begitu mencintaiku membuatku teringat dengan umma. Aku tidak ingin mengutarakannya, aku melihat ia memendam perasaannya dengan baik. Aku hanya ingin merasakan hal yang sama, tidak adil membiarkannya menderita sendirian.”

“Bodoh! Cepat temui Seohyun, sebelum terlambat. Berteriak pada alam tidak akan membuat Seohyun mengetahui perasaanmu yang sebenarnya.”

“Tidak,itu tidak mungkin…”

“Wae?Ayolah jangan jadi pengecut terus, kau tidak ingin menyesal nanti kan? Tenangkan dirimu, Kyuhyun. Bersiaplah besok untuk bertemu dengan Seohyun, Percayalah… Ia akan kambali padamu.”

*

“Yeoboseyo, Appa.” Sapa Seohyun dari ujung telepon.

“Hyunnie? Ada a—“

“Apa kau bisa memesankan satu tiket ke Seoul untukku,Appa?” Potong Seohyun.

“Ada apa, Hyunnie? Kenapa tiba-tiba?bukankah kau bilang kau memiliki alasan yang kuat untuk tetap menetap disana?”Terdengar nada cemas dari volume Appa Seohyun yang tiba-tiba meninggi.

“Anio, Appa. Aku tidak memiliki alasan yang kuat untuk tetap tinggal.” Seohyun berusaha mengatur suaranya, menahan hidungnya dengan jari-jarinya agar isakan tangisnya sedikit tersamarkan

“Tapi kau bilang…”

“Appa, aku akan berkemas malam ini. Maaaf karena aku harus mengganggu waktu kerjamu.”Seohyun menghela nafas panjang, berbicara seperti itu sungguh merepotkan. Bahkan membuatnya sulit bernafas, dan itu akan membuat suaranya bertambah kacau.

“Baiklah,Appa akan mencarikan tiket untukmu. Penerbangan untuk besok pagi, bersiaplah.”

“Gumawo, Appa.”

TBC

45 thoughts on “Remember Me (Part.6)

  1. Hikss.. Sedihh banget masa lalunya seohyun dan kyuhyun T….T untung tidak mengeluarkan air mata, batal deh nanti🙂
    akhirnya keluar juga, udah lama banget menanti nih FF keluar..
    Nice FF🙂

    • wah gumawo asnah, untungnya dapet tanggepan positif dari kamu^^ iya sedih ya tapi semoga ending mereka ga menyedihkan ya, tunggu aja:)

  2. huaaaaa
    kyu cpt nyatain perasaan kamu ke seo
    seo mw pergi ke seoul tuh
    ayo cpt keburu terlambat
    sedih aku bacanya paas di bagian nyatain cinta T^T
    lanjut chingu ^^

    • iya jadi umma nya yg bikin dia trauma. udah sama2 ngindar tapi masih ketemu lagi mereka, itu yg namanya cinta kiwkiw lanjut ke part selanjutnya ya^^

  3. lanjutin chinggu…
    endingx seokyu ya…
    moga aja kyu cepet inget siap seo…
    ini 1 part flash back pas msh smp y?
    d tunggu lanjutannya…
    chinggu hwating!!
    seokyu jang!!

  4. ouw i know skrg knp Kyu jd kyk gtu tp Kyu ga amnesia kn chingu??
    jd tu mksudny flashbacknya ych???
    ych moga SeoKyu akhirnya hepi ending & Seo kmbli sm Kyu..

  5. wuah makin seru nech critanya, moga akhirnya Kyu nyadar klo Seo bner2 mencintai dy..^^
    akhh aku galau dech knp saingan Kyu sllu pria *tu*..huhuhu

  6. Ommo…
    Ternyata begitu masalahnya…
    Kyu jg punya trauma masa lalu…

    Lah kalo begini…
    Sama” menderita juga…

    Kyunya babo gitu…
    Kenapa ga langsung minta maaf…
    Ato bilang saranghae ke Seo…

    Tp ga seru lah ya klo ga begitu…

  7. Huaaaaaa…..sooo sad…seo yg salah paham akhirnya pergi and kyu trauma n g bs menjelaskan….chingu gomawo aq langsung ya…

  8. Sumpah sedih bgt baca part ini,, ya! CHO KYUHYUN kenapa langsung dirobek aissshhh.. Menyebalkan kasiian seohyun …

    Woallaahhh ternyata kyu trauma tochh,, mian oppa#piissss udh mrah2 duluan
    ternyata kau juga memcintai seohyun,, knp dipendam oppa???
    Lupakan masa lalu ..
    Haduuhh seohyun mau pergii,, ahh oppa jgn sampe kau menyesal ..

    Okey lanjut ke next part😉

  9. omo.. kenapa jadi sepertii ini?
    kyuppa punya trauma masa lalu.
    seo ma kyuppa?
    semoga masalahnya cepet selese n seonnie ga benci lg ma kyuppa.
    apa gara” masalah ini kyuppa kecelakaan n hilang ingatan?

  10. Oowh ternyata ntu yg bkn kyu trauma ma hub namja yeoja, gegara eommaY ternyata..
    HrsY vic eonni crita dunk k’Seo ap yg sbnrY terjadi ma masa lalu..
    Klo gini kan jd slh paham, pantes seo pengen bgt ngeluapin kyu ternyata gegara kyu ngerobek surat cintaY seo..
    Hedeehhh,,
    Mkn complicated, mkn geregetan, penasaran en seruuuuuu..
    Lanjut k’part 7, hehheee..

  11. oh NO kisahx mpir sma ma ksah cintaQ ckckcck, tp bedax seohyun pny keberanian u/ ngungkapin perasaannx, it’s better than me….hehehe if I never see him again my mind so far away n my heart so close to stay….hiksssssssssssss

  12. Sungguh mirip baca ini,seokyu terluka karena perasaan masing2.terlebih kyupa karna trauma masa lalu dy tidak bisa mengutarakan perasaannya sama seohyun dan seohyun pergi dgn membawa kesalahpahaman pada kyupa tnp tau perasaan kyupa pada seohyun

  13. astgah kyuuuu,paboya!!!trnyata gitu critanya,haduh ksian bnget si seo,gak kbyang deh skit htinya,hancur😦

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s